Teori Konsumsi

19 Sep

KONSUMSI

      Dalam teori konsumsi Keynes menyatakan bahwa besar kecilnya pengeluaran konsumsi (C) didasarkan atas besar kecilnya pendapatan (Y) masyarakat. Dari analisis pengeluaran yang dikemukakan oleh Keynes tersebut terdapat dua hal yang penting, yaitu:

  1. MPC < APC, dan
  2. APC orang kaya lebih kecil daripada APC orang miskin.

Selain pendapatan, pengeluaran konsumsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, yaitu:

a.Faktor-faktor Ekonomi

b.Faktor-faktor Demografi

c.Faktor-faktor Non Ekonomi

A. Faktor-faktor Ekonomi

1.Pendapatan Rumah Tangga

Makin tinggi pendapatan rumah tangga, maka tingkat konsumsi semakin tingggi.

2.Kekayaan Rumah tangga

Termasuk dalam pengertian kekayaan rumah tangga adalah kekayaan riil (termasuk   rumah, tanah, modal) dan finansial (saham, suarat berharga, deposito berjangka). Kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi karena menambah pendapatan disposabel. Misalnya bunga deposito yang diterima tiap bulan dan deviden yang diterima tiap tahun menambah pendapatan rumah tangga.

3.Jumlah barang-barang tahan lama dalam masyarakat.

Pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi bisa bersifat positif (menambah)   dan      negatif (mengurangi). Barang barang tahan lama biasanya harganya mahal dan butuh waktu menabung yang lama untuk memperolehnya.

4.Tingkat Bunga

Tingkat bunga yang tinggi dapat mengurangi konsumsi, baik dilihat dari sisi  eluarga yang memiliki kelebihan uang maupun yang kekurangan uang. Contoh: dengan kmeminjam dari bank atau menggunakan fasilitas kredit, biaya bunga semakin mahal, sehingga lebih baik mengurangi konsumsi. Tingkat bunga yang tinggi menyebabkan menyimpan uang di bank lebih menguntungkan.

Jika rumah tangga memperkirakan masa depan dengan baik, mereka akan merasa lebih leluasa untuk mengkonsumsi. Karenanya pengeluaran konsumsi cenderung meningkat.

B. Faktor-faktor Demografi

1.Jumlah penduduk

Jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi.  Contohnya: walaupun tingkat konsumsi rata-rata penduduk Indonesia lebih rendah dari Singapura, tetapi secara absolut tingkat pengeluaran konsumsi Indonesia lebih besar karena jumlah penduduk Indonesia lebih besar dari Singapura.

2. Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk satu negara dapat dilihat dari beberapa klasifikasi  diantaranya: usia (produktif dan tidak produktif), pendidikan (rendah,menengah,tinggi), wilayah.

C. Faktor-faktor Non Ekonomi

Yakni faktor sosial budaya masyarakat, misalnya berubahnya kebiasaan makan, kebiasaan etika, dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat. Contohnya, ada rumah tangga yang mengeluarkan uang ratusan juta bahkan milyaran hanya untuk membeli rumah.

Dari kenyataan ini terdapat beberapa teori tentang pengeluaran konsumsi dengan faktor-faktor lain selain pendapatan. Teori-teori tersebut adalah:

  1. A.    Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup

Teori ini dikemukakan oleh Ando, Brumberg dan Modigliani. Menurut teori ini faktor sosial ekonomi seseorang sangat mempengaruhi pola konsumsi orang tersebut. Teori ini membagi pola konsumsi menjadi 3 bagian berdasarkan umur seseorang.Bagian pertama yaitu dari seseorang berumur nol tahun hingga berusia tertentu dimana orang tersebut berkonsumsi tetapi belum mampu menghasilkan pendapatan (dissaving).Bagian kedua ia mengalami saving dimana orang tersebut telah mampu menghasilkan pendapatan sendiri.Bagian ketiga, orang berada pada usia tua dimana orang tersebut tidak mampu lagi menghasilkan pendapatan sendiri.

c

c

I                                II                                                         III

0                                                              t

Kurva Pengeluaran Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup

Pada bagian I, yaitu pada umur 0 sampai tingkat . Seseorang mengalami dissaving. Ini terjadi karena orang tersebut belum menghasilkan pendapatan sedangkan ia perlu konsumsi. Pada umur , orang tersebut mulai menghasilkan pendapatan.Akan tetapi hingga umur sebelum , masih melakukan dissaving, karena pengeluaran konsumsi lebih besar dari pendapatan yang dihasilkan. Kemudian pada bagian II, yaitu pada umur sampai  seseorang mengalami saving. Pada keadaan ini ia sudah menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari pengeluaran konsumsi. Pada bagian III, yaitu umur , orang tersebut kembali melakukan dissaving. Karena pada umur , ia tidak sanggup lagi menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi pengeluaran konsumsinya.

Untuk membuktikan teori mereka, AMB menggunakan bentuk fungsi konsumsi sebagai berikut:

C = aW

Yang menyatakan bahwa a adalah APC,

Nilai W dalam formulasi AMB merupakan nilai sekarang dari kekayaan. Ada tiga faktor yang membentuk W, yaitu:

  1. Nilai sekarang (present value) penghasilan dari kekayaan, misalnya bunga sewa.
  2. Nilai sekarang (present value) penghasilan dari balas jasa kerja, seperti upah, gaji.
  3. Nilai sekarang (present value) penghasilan dari upah yang diharapkan diterima seumur hidup.

Secara spesifik, bentuk persamaan konsumsi yang dikemukakan oleh AMB adalah sebagai berikut:

C = a

Yang menyatakan bahwa:

C         = pengeluaran konsumsi

a          = MPC

A         = kekayaan

YL       = penghasilan dari kerja

YLE    = penghasilan yang diharapkan seumur hidup sejak tahun ini

T          = sisa umur seseorang dihitung dari saat ini

 

  1. B.     Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif

Teori Konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif dikemukakan oleh James Duesenberry. Dalam teorinya, Duesenberry menggunakan dua asumsi, yaitu:

  1. Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya, pengeluaran  konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang sekitarnya (tetangganya).
  2. Pengeluaran konsumsi adalah irreversible. Artinya, pola pengeluaran seseorang pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami penurunan.

Duesenberry menyatakan bahwa teori konsumsi atas dasar penghasilan absolut sebagaimana yang dikemukakan oleh Keynes tidak mempertimbangkan aspek psikologis seseorang dalam berkonsumsi. Duesenberry menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi suatu rumah tangga (seseorang) sangat dipengaruhi oleh posisi (kedudukan) rumah tangga tersebut di masyarakat sekitarnya. Apabila seorang konsumen senantiasa melihat pola konsumsi tetangganya yang penghasilannya lebih tinggi, maka orang tersebut cenderung menirunya (demonstrations effect). Namun, seseorang peniruan pola konsumsi tetangga harus dilihat dari kedudukan relatif orang tersebut pada masyarakat sekelilingnya.

Misalnya, seseorang berpenghasilan Rp. 3 juta setiap bulan dan tinggal di lingkungan masyarakat yang rata-rata berpenghasilan Rp. 500.000. Ia akan cenderung untuk menabung lebih banyak dan berkonsumsi lebih sedikit, sebab penghasilannya relatif lebih tinggi dibandingkan penghasilan rumah tangga sekitarnya.

Kenaikan penghasilan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi dari tahun ke tahun tidak akan mengubah distribusi penghasilan seluruh masyarakat. Kenaikan pengahasilan absolut akan menaikkan pengeluaran masyarakat dan juga akan menaikkan jumlah yang ditabung pada proporsi yang sama. Ini berarti APC = C/Y tidak mengalami perubahan dan ini berarti pula APC = MPC yang merupakan fungsi konsumsi jangka panjang.

Berdasar pada fungsi konsumsi jangka panjang tersebut, Duesenberry menurunkan fungsi konsumsi jangka pendek dengan menggunakan asumsi ke dua. Besarnya pengeluaran konsumsi seseorang dipengaruhi oleh besarnya penghasilan tertinggi yang pernah ia peroleh. Jika terjadi kenaikan penghasilan, maka pengeluaran konsumsi akan cenderung meningkat dengan proporsi tertentu. Sedangkan jika penghasilannya turun, maka ia akan mengurangi pengeluaran konsumsinya, namun proporsi penurunan konsumsinya lebih rendah dibandingkan dengan proporsi kenaikan pengeluaran konsumsi jika penghasilan naik.

Bentuk fungsi konsumsi masyarakat menurut Duesenberry adalah sebagai berikut:

yang menyatakan bahwa:

= penghasilan tahun t

= penghasilan tertinggi yang pernah dicapai pada masa lalu

Hubungan pengeluaran konsumsi masyarakat dan penghasilan masyarakat dalam jangka pendek dapat dijelaskan dengan menggunakan grafik seperti dibawah ini.

C

 

F       D

A         B

E

0                                                                                                 Y

menunjukkan kurva pengeluaran konsumsi jangka panjang. Apabila penghasilan rumah tangga sebesar , maka besarnya pengeluaran konsumsi yang terjadi sebesar. Apabila penghasilan rumah tangga besarnya mengalami penurunan dari  menjadi , maka besarnya pengeluaran konsumsi yang terjadi turun ke titik E pada kurva konsumsi jangka panjang ), namun ke titik A pada kurva pengeluaran konsumsi jangka pendek . Hal ini karena pada saat terjadinya penurunan penghasilan, pengeluaran konsumsi rumah tangga tidak mudah turun drastis. Penurunan penghasilan akan menurunkan pengeluaran konsumsi secara perlahan dan rumah tangga cenderung akan mengurangi tabungan untuk mempertahankan pola konsumsi yang lama. Jika penghasilan naik kembali dari ke , pengeluaran konsumsi rumah tangga juga tidak akan naik secara dratis, namun kenaikannya secara perlahan. Ini karena rumah tangga berusaha untuk mengembalikan tabungannya yang berkurang pada saat penghasilan turun. Setelah penghasilan  tercapai dan tabungan mencapai tingkat semula, kenaikan penghasilan rumah tangga dari  ke , pengeluaran konsumsi rumah tangga akan meningkat secara drastis dari titik B ke titik D. Seterusnya, jika penghasilan rumah tangga turun kembali menjadi , pengeluaran konsumsi rumah tangga tidak B, namun turun ke titik F, yaitu suatu titik pengeluaran konsumsi yang berada pada kurva pengeluaran konsumsi jangka pendek  ). Mekanisme ini disebut ratchet effect, yakni penurunan kegiatan ekonomi (penurunan pendapatan nasional) akan menurunkan pengeluaran konsumsi pada tingkat di sepanjang kurva pengeluaran konsumsi jangka pendek dan bukan pada kurva pengeluaran konsumsi jangka panjang.

  1. Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen

Teori konsumsi dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh M. Friedman. Menurut teori ini bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income).Pengertian dari pendapatan permanen adalah:

  1. Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari upah, gaji.
  2. Pendapatan yang diperoleh dari hasil semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang. Kekayaan suatu rumah tangga dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kekayaan non-manusia (non- human wealth) dan kekayaan manusia (human wealth). Kekayaan non-manusia misalnya kekayaan fisik (misalnya barang konsumsi tahan lama, bangunan, mesin), sedangkan kekayaan manusia adalah kemampuan yang melekat pada diri manusia itu sendiri, seperti keahlian, keterampilan, pendidikan.

Formulasi kekayaan seseorang menurut Friedman adalah:

W = Yp/i W

yang menyatakan bahwa

W = kekayaan seseorang

Yp = pendapatan permanen orang tersebut

i     = tingkat bunga

Formulasi pendapatan permanen seseorang (Yp) dapat diperoleh dari formulasi kekayaan seseorang (W), yaitu:

Yp = i W

Pengertian pendapatan sementara adalah pendapatan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Nilainya dapat positif jika nasibnya baik dan negatif jika bernasib buruk. Misalnya, seseorang yang mendapat undian, maka ia mempunyai pendapatan sementara positif, sedangkan seseorang yang mendapat musibah (misalnya gagal panen karena musim kemarau panjang) mempunyai pendapatan sementara negatif.

Pendapatan yang terukur (measured income) seseorang merupakan penjumlahan dari pendapatan permanen dan pendapatan sementara. Atau secara matematis dapat ditulis dengan formulasi sebagai berikut:

Y = Yp + Yt

yang menyatakan bahwa

Y   = pendapatan yang terukur

Yp = pendapatan permanen

Yt  = pendapatan sementara

Mengenai hubungan antara pendapatan permanen dengan pendapatan sementara, Friedman menggunakan dua asumsi, yaitu:

  1. Tidak ada korelasi antara pendapatan permanen dengan pendapatan sementara. Pendapatan sementara semata-mata merupakan suatu faktor kebetulan saja.
  2. Pendapatan sementara tidak mempengaruhi pengeluaran konsumsi. Artinya, jia seseorang menerima pendapatan sementara yang nilainya positif, maka semuanya akan ditabung. Namun, jika seseorang memperoleh penghasilan sementara negatif, maka ia akan mengurangi tabungannya dan tidak mempengaruhi pengeluaran konsumsinya.

Sama halnya dengan pendapatan, Friedman membagi pengeluaran konsumsi menjadi dua, yaitu pengeluaran konsumsi permanen (Cp) dan pengeluaran konsumsi sementara (Ct). Pengeluaran konsumsi permanen adalah kosumsi yang direncanakan, sedangkan pengeluaran konsumsi sementara adalah pengeluaran konsumsi yang tidak di rencanakan. Pengeluaran konsumsi sementara nilainya dapat positif dan dapat pula negatif. Pembelian yang dilakukan oleh seseorang karena toko-toko melakukan obral mengakibatkan nilai pengeluaran konsumsi sementara positif, sedangkan pembelian yang tertunda karena barang yang akan dibeli tidak tersedia mengakibatkan pengeluaran sementara negatif.

Menurut Friedman, hubungan antara pengeluaran konsumsi dan pendapatan bukan hubungan antara pengeluaran konsumsi terukur (measured consumption), namun hubungan antara pengeluaran konsumsi permanen dengan pendapatan permanen. Bentuk antara kedua variabel tersebut dapat ditulis dengan bentuk matematis sebagai berikut:

Cp = k Yp

yang menyatakan bahwa

Cp = pengeluaran konsumsi permanen

k   = MPC yang besarnya dipengaruhi oleh tingkat bunga, kekayaan,selera dan umur

Yp = pendapatan permanen

Persamaan konsumsi Cp = k Yp merupakan persamaan pengeluaran konsumsi jangka panjang yang jika digambarkan ke dalam sebuah grafik seperti di bawah ini.

C

Cp

Cp = Ct                                                                                   C

Cp = Ct                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          Y

0 Y

Yt2 < 0                                                         Yt1 > 0

Dari persamaan pengeluaran konsumsi jangka panjang dapat diperoleh persamaan pengeluaran konsumsi jangka pendek. Menurut Friedman, dalam suatu studi mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga, rumah tangga dapat digolongkan menjadi dua, yaitu golongan kaya dan golongan miskin. Pada kelompok rumah tangga kaya terdapat pendapatan sementara yang positif dan ada yang mempunyai pendapatan sementara yang negatif. Bagi golongan rumah tangga kaya , juga ada yang melakukan pengeluaran konsumsi sementara yang positif dan ada yang melakukan pengeluaran konsumsi sementara negatif. Namun, secara keseluruhan jumlah keduanya sama besar, sehingga pengeluaran sementara golongan rumah tangga kaya adalah nol. Menurut Friedman, APC bagi golongan kaya adalah rendah. Alasannya dapat dijelaskan secara matematis sebagai berikut:

APC =C/Y

dengan nilai  Y = Yp + Yt  dan C = Cp + Ct

Bagi golongan rumah tangga kaya, Y> Yp dan Ct = 0. Ini berarti

dengan nilai C = Cp dan Y > Yp.

Sumber:

v  Guritno Mangkoesoebroto,Algifari. Teori Ekonomi Makro.STIE,Yogyakarta.

v  organisasi.org.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: