5 Tips belajar di Oxford a la Maudy Ayunda

maudy
Maudy sedang keluar dari perpustakaan usai belajar malam menjelang ujian akhir

“Dari kecil aku ‘dah suka banget aroma toko buku”—Maudy Ayunda

 

Beberapa waktu terakhir ini, pengguna media sosial—utamanya YouTube—dihebohkan dengan video klip Young Lex ft. Awkarin berjudul “Bad”; yang dislike-nya lebih banyak dari like-nya; ditambah lagi Vlog (video vlog) Anya Geraldine yang dengan sangat bangga memamerkan asyiknya liburan di Bali dengan kekasihnya. Kurang lebih, karena alasan itulah mereka berdua dilaporkan ke KPAI dan Kominfo, akhirnya Anya memenuhi panggilan itu. Meskipun demikian, vlog keduanya menunjukkan eksistensi anak-anak muda urban zaman ini dan tidak sedikit anak-anak muda lain yang meniru gaya mereka. Perlu diperhatikan juga bahwa umur keduanya berkisar 17-18 tahun. Kita tinggalkan dulu ini.

Di tengah gemparnya YouTube karena dua anak itu, muncul satu akun yang sepi pemberitaan tapi menyimpan ribuan harapan. Continue reading “5 Tips belajar di Oxford a la Maudy Ayunda”

Menikah bukan perihal ‘kebelet-reaktif’

Tulisan ini sebetulnya ingin memberikan catatan tambahan dari tulisan ukhti Esty Dyah Imaniar yang pernah nongol di Mojok.co (01/04/2016) berjudul “Kenapa sih kalian kebelet sekali menikah?”. Awalnya saya sempat kaget, ada tulisan di Mojok ditulis oleh—jika dilihat sekilas—seorang ukhti-ukhti, yang dalam otak saya tergambar jika sosok ukhti pastilah berada di garis terdepan mengampanyekan nikah cepet. Ternyata, dugaan saya salah kaprah, bahkan cenderung mengeneralisir, dan itu saya akui keliru. Buktinya, tidak semua ukhti setuju dengan ‘kebelet’ nikah.  Kita harus clear di sini, bahwa penyebutan ukhti atau mbak itu sama, tidak ada maksud untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Secara umum, saya sepakat dengan tesis yang dikemukakan Esty dalam tulisannya. Pertama, ia mengkritik para pegiat nikah muda, termasuk mereka yang hobi ikut seminar pra-nikah, Continue reading “Menikah bukan perihal ‘kebelet-reaktif’”