Mencari Epistemologi Ekonomi Islam

episteme

Arif Widodo

Mahasiswa Ilmu Ekonomi UMY

 

Epistemologi

Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.[1] Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuatan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya. Para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di dalam tradisi barat, tidak memberikan perhatian  pada bidang cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahannya, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.[2]

Mereka mengendalikan begitu saja bahwa pengetahuan mengenai kodrat itu mungkin, meskipun beberapa di antara mereka menyarankan bahwa pengetahuan mengenai struktur kenyataan dapat lebih dimunculkan dari sumber-sumber tertentu ketimbang sumber-sumber lainnya. Herakleitus, misalnya, menekankan penggunaan indera, sementara Permanides menekankan penggunaan akal. Meskipun demikian, tak seorangpun di antara mereka yang meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan (realita).[3]

Filsafat Bacon mempunyai peran penting dalam metode induksi dan sistemisasi prosedur ilmiah menurut Russel, dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan ilmiah. Bacon mengkritik filsafat Yunani yang menurutnya lebih menekankan perenungan dan akibatnya tidak mempunyai praktis bagi kehidupan manusia. Ia menyatakan, “The great mistake of Greek philosopers was that they spent so much time in theory, so little in observation”.[4]

Apabila berbicara masalah Epistemologi Ekonomi Islam, berarti kita akan berbicara tentang hakikat ekonomi islam dan dasar-dasarnya. Persoalan yang akan muncul kemudian adalah sumber dari ekonomi Islam dan ekonomi konvensional dan masalah itu akan kembali mempersoalkan tentang bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan.

Sumber pengetahuan manusia untuk mendapatkan ilmu ekonomi Islam dan ekonomi konvensional pada dasarnya ada tiga. Pengetahuan yang diperoleh dari panca indera (five sense), pengetahuan yang diperoleh dari akal (reason), dan pengetahuan yang diperoleh dari wahyu (revelation).[5]Namun panca indera akan menghasilkan pengetahuan yang terbatas, karena tidak bisa menangkap pengetahuan di luar jangkauan kuasa lima indera yang kita punya. Jadi, pengetahuan dalamhal ini adalah pengetahuan yang didapat dari pengalaman pemanfaatan lima indera yang kita miliki.[6]

Setelah uraian singkat mengenai sumber pengetahuan manusia, selanjutnya akan diuraikan tentang beberapa teori pengetahuan. Teori pengetahuan yang akan diuraikan anatara lain : Empirisme, Rasionalisme, Positivisme.

Empirisme

Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembangkan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Manusia megetahui es dingin karena ia menyentuhnya, gula manis karena ia mencicipinya.[7]

John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan yang berarti. Berarti, bagaimanapun kompleksnya (ruwet) –nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.[8]

Kelemahan aliran ini cukup banyak. Kelemahan pertama ialah indera terbatas. Benda yang jauh kelihatan kecil. Apakah benda itu kecil? Tidak. Keterbatasan kemampuan indera ini dapat melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya; dari sini akan terbentuk pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua ialah indera menipu. Pada orang yang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan penegetahuan empiris yang salah juga. Kelemahan ketiga ialah obyek yang menipu, contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi, obyek itu tidak sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh panca indera; ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan penegetahuan inderawi yang salah.  Kelemahan keempat berasal dari indera dan obyek sekaligus. Dalam hal ini indera (mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan, dan kerbau itu juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan. Jika kita melihatnya dari depan, yang kelihatan adalah kepala kerbau, dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya. Kesimpulannya ialah empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Oleh karena itu, muncul aliran rasionalisme.[9]

Rasionalisme

            Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Manusia, menurut aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap obyek. Orang mengatakan (biasanya) bapak aliran ini ialah Rene Descrates (1596-1650); ini benar. Akan tetapi, paham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani kuno telah meyakini bahwa akal adalah alat untuk memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles.

Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme, yang disebabkan kelemahan alat indera tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Benda yang jauh kelihatan kecil karena bayangannya yang jatuh di mata kecil, kecil karena jauh. Gula pahit bagi orang yang demam karena lidah orang yang demam memang tidak normal. Fatamorgana adalah gejala alam. Begitulah seterusnya.

Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan; pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Jadi akal bekerja karena ada bahan dari indera. Akan tetapi, akal dapat juga menhasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan dari inderawi sama sekali, jadi akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang obyek yang betul-betul abstrak.[10] Lanjutan empirisme dan rasionalisme ialah aliran positivisme.

Positivisme

            Tokoh aliran ini ialah Auguste Compte (1798-1857). Ia penganut empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan kiloan, dan sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api itu panas, matahari panas, panas. Kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas atau tidak panas. Kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai.

Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme sama dengan empirisme plus rasionalisme.[11]

Setelah uraian-uraian tentang teori penegetahuan dapat kita simpulkan bahwa pengetahuan harus diperoleh dengan alat seperti akal, panca indera , dan gabungan antara keduanya. Pengetahuan yang diperoleh dari inderawi sangat terbatas begitu pula dengan pengetahuan dari akal dan juga pengetahuan yang diperoleh dari akal dan panca indera berdasarkan atas pengalaman. Pertanyaan yang akan timbul adalah bagaimana memperoleh pengetahuan tidak berdasarkan pengalaman?

Seperti ada kehidupan setelah mati. Karena tidak ada manusia memiliki pengalaman itu, maka kehidupan akhirat, kehidupan sorga, kehidupan neraka dianggap bukanlah kenyataan. Rasionalisme  sebagai pencapaian pengetahuan manusia yang berasala dari akal/rasio semata, dimana pengetahuan dikelola oleh akal berdasarkan kemampuan akal itu sendiri dalam menangkap kenyataan, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tidak ditemukan dalam pengalaman dianggap pertanyaan yang tidak masuk akal/irasional. Maka bila suatu kenyataan timbul dalam kehidupan ini tetapi tidak terjadi sebelumnya dalam pengalaman manusia menjadikan manusia terjebak untuk cenderung menolak sesuatu yang sebenarnya nyata. Sikap ini menjadikan manusia skeptis.[12]

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa akal dan panca indera tidak akan bisa sepenuhnya memperoleh kebenaran. Pengetahuan yang berasal dari wahyu. Kebenaran wahyu dapat dirujuk dari sejarah nabi dan rasul, kehidupan para ulama. Wahyu sebagai kebenaran bisa dipahami melalui akal bila akal tidak dihalangi untuk mencari kebenaran. Akal sebenarnya mampu untuk menunjukkan manusia untuk menerima wahyu dan dengan wahyu, manusia ditunjukkan bagaimana menggunakan akal yang benar. Kebenaran wahyu, kebenaran yang melampaui panca indera dan akal manusia. Kebenaran yang didapat manusia diabatasi oleh panca indera dan akalnya, dia tidak bisa mendapatkan kebenaran di luar kemampuan keculi ada petunjuk. Manusia dibatasi oleh panca indera dan akal yang dimilikinya , karena manusia dibatasi ruang dan waktu. Sedangkan wahyu adalah ciptaan Allah, Allah adalah zat yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu demikian juga tidak dibatasi oleh pengetahuan yang dihasilkan dari panca indera dan akal yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu.[13]

Kesimpulannya adalah bahwa kedua sumber pengetahuan yaitu panca indera dan akal dibatasi oleh ruang dan waktu. Sumber pengetahuan tersebut adalah sumber ekonomi kovensional, jadi ekonomi Islam mempunyai peluang untuk mendapatkan kebenaran karena bersumber kepada wahyu, akal, dan panca indera.

Wahyu menjadikan axioma yang digunakan untuk membangun asumsi-asumsi ekonomi dalam membangun teori ekonomi islam. Dalam hal ini memungkinkan bagi ekonomi konvensional memiliki pemikiran ekonomi yang sama dengan ekonomi Islam sebagai hasil dari penggunaan panca indera dan akal yang sama antara orang islam dan orang non-islam. Kesamaan sumber pengetahuan yang berasal dari panca indera dan akal sudah menjadi bagian dari kehendak (takdir) Allah dalam menciptakan manusia di dunia, namun dalam ekonomi islam tidak hanya panca indera dan akal tetapi juga wahyu. Oleh karenanya pengetahuan ekonomi Islam tidak bisa didapatkan dengan cara yang diperoleh oleh ekonomi konvensional, tetapi kebenaran ekonomi konvensional bisa didapatkan dengan cara yang digunakan ekonomi Islam. karena kebenaran ekonomi Islam melampaui ekonomi Konvensional.[14]

Arti, Hakikat, dan Ruang Lingkup Ekonomi Islam

Bagi penulis, ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Dengan ini tidaklah hendak dikatakan bahwa kaum muslimin dicegah untuk mempelajari masalah-masalah ekonomi yang non-muslim. Sebaliknya, mereka yang diilhami oleh nilai-nilai Islam diperintahkan Syari’at untuk mempelajari masalah minoritas non-muslim dalam sebuah negara Islam khususnya, dan mengenai kemanusiaan pada umumnya. Demikianlah definisi yang kelihatannya sempit ini mempunyai implikasi yang lebih luas.

Lagi pula, definisi ilmu ekonomi Islam ini secara mencolok bertentangan dengan definisi modern ilmu ekonomi yang merupakan suatu “ ilmu tentang umat manusia dalam usaha kehidupan yag biasa”. Untuk menyatakannya secara lebih jelas, dengan kata-kata Professor Robbons: “Ilmu Ekonomi adalah ilmu penegetahuan yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan anatara tujuan dan sarana langka yang memiliki kegunaan-keguanaan alternatif”.Ketepatan ini bukan tidak dapat dibantah, tetapi bagaimanapun juga merupakan uraian baik mengenai pokok persoalan ilmu ekonomi modern yang terutama merupakan ilmu tentang manusia yang hidup dalam masyarakat. Jika sosiologi merupakan induk, ilmu ekonomi meruapakan jenis yang sama. Tidak diragukan lagi bahwa ilmu ekonomi Islam adalah bagian dari sosiologi. Tetapi ia adalah ilmu pengetahuan sosial dalam arti yang terbatas. Karena dalam hal ini kita tidak mempelajari setiap individu yang hidup dalam masyarakat. Ilmu ekonomi Islam adalah ilmu tentang manusia,−bukan sebagai individu yang terisoalsi, tetapi mengenai individu sosial yang meyakini nilai-nilai hidup Islam. Seperti ilmu ekonomi modern, ilmu ekonomi Islam tidak memperlajari dunia yang terdiri orang-orang seperti Robinson Crusoe, karena fenomena pertukaran, baik sebagai fakta maupun sebagai kemungkinan, harus dimasukkan ke dalam dua madzhab ilmu ekonomi. Walupun ilmu ekonomi Islam mengurus ketentuan tentang “hal-hal yang tidak bisa dipertukarkan (yakni pembayaran transfer) yang sering terdapat dalam keadaan keprihatinan masyarakat secara nisbi dan tanggung jawab moral yang bertentangan dengan ketidakacuhan serta mementingkan diri sendiri”.[15]

Ilmu ekonomi Islam terutama mengenai permasalahan yang menyangkut uang. Sebenarnya ahli ekonomi yang menyokong pandangan, bahwa ilmu ekonomi adalah mengenai perilaku manusia yang berhubungan dengan kegiatan mendapatkan uang dan membelanjakan uang semakin bertambah. Tetapi penulis klasik dan pengikut mereka masa kini, cenderung menyelidiki yang terisirat di belakang selubung keuangan itu dan menggambarkan masalah ekonomi dari segi yang bukan-moneter. Permasalahan ekonomi umat manusia yang fundamental bersumber dari kenyataan bahwa kita mempunyai kebutuhan dan kebutuhan ini pada umumnya tidak dapat dipenuhi tanpa mengeluarkan sumber daya enerji manusia, kita, dan peralatan manusia yang terbatas. Bila kita semua memiliki sarana tidak terbatas untuk memenuhi semua jenis kebutuhan, maka masalah ekonomi tidak akan timbul. Sejauh mengenai masalah pokok kekurangan, hampir tidak terdapat perbedaan apapun antara ilmu ekonomi Islam atau ilmu ekonomi modern. Andaikata ada perbedaan, hal itu terletak pada sifat dan volumenya. Itulah sebabnya perbedaan pokok antara kedua sistem ilmu ekonomi ini dapat ditemukan dengan memperhatikan penanganan masalah pilihan. Persoalan pilihan timbul dari kenyataan bahwa sumber daya kita begitu terbatas sehingga dipenuhinya suatu jenis keinginan berarti mengorbankan suatu kebutuhan lain yang harus terus tidak terpenuhi. Pertikaian abadi antara beraneka ragamnya keinginan dan kurangnya saran memaksa kita untuk mengadakan pilihan diantara kebutuhan-kebutuhan kita, guna menetapkan daftar prioritas dan kemudian mendistribusiakan sumber daya kita itu sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara maksimum. Dalam ilmu ekonomi modern masalah pilihan ini sangat tergantung pada bermacam-macam tingkah masing-masing individu. Mereka mungkin atau mungkin juga tidak memperhitungkan persyaratan-persyaratan masyarakat. Namun dalam ilmu ekonomi Islam, kita tidaklah berada dalam kedudukan untuk medistribusiakan sumber-sumber daya semau kita. Dalama hal ini ada suatu pembatasan moral yang serius berdasarkan ketetapan kitab suci Al-qur’an dan Sunnah atas tenaga individu.[16]

Untitled

Sumber : Yulie Utami (2012)

            Pada gambar di atas menjelaskan bahwa ekonomi Islam dalam usahnya mendapatkan pengetahuan tidak hanya melalui akal dan panca inderawi karena seperti penjelasan sebelumnya kedua sumber pengetahuan itu sangatlah terbatas , maka ekonomi Islam mempunyai sumber yang mampu memberikan kebenaran dengan sempurna yaitu wahyu. Pada uraian sebelumnya disampaikan bahwa wahyu sebagai sumber pengetahuan yang merupakan pelengkap bagi kedua sumber yang lain, karena wahyu tak terbatas oleh ruang dan waktu. Karena pencipta wahyu yaitu Allah juga tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Dalam menyelesaikan masalah-masalah ekonomi yang berhubungan dengan kebutuhan yang tak terbatas sedangkan sumber daya untuk memenuhinya sangatlah terbatas, manusia dihadapkan dengan problem of choice. Untuk memilih, ekonomi Islam selalu berpedoman pada pengetahuan yang diperoleh dari wahyu, panca indera dan akal secara bersama-sama.


       [1]DW. Hamlyn, History of Epistemology, dalam Paul Edwards, The Encyclopedia of Philoshophy, 1967, Vol. 3, hlm. 9.

       [2]Amsal Bachtiar, Filsafat Ilmu, (Cetakan ke-10, Februari 2011, Rajawali Press, Jakarta), hlm. 149.

       [3]Ibid., hlm. 9.

       [4]C. VERHAAK, Filsafat Imu Pengetahuan; Telaah atas Cara Kerja Imu-ilmu, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm. 137

       [5] Heri Sudarsono, Mengapa (harus) ada Ekonomi Islam?, hlm. 53.

       [6] Ibid., hlm. 54

       [7] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal Dan Hati Sejak Thales sampai James, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hlm. 21

       [8] Ibid.

       [9] Ibid., hlm. 22.

       [10] Ibid.

       [11] Ibid., hlm. 23.

[12] Heri Sudarsono, op. cit., hlm. 56.

[13] Heri Sudarsono, op. cit., hlm. 57-58.

[14] Heri Sudarsono, hlm. 59

       [15] Mannan, M.A. Terjemahan dari buku “Islamic Economics, Theory and Practice”, Seri Ekonomi Islam No.02 Edisi Lisensi, (Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 2003), hlm. 19.

       [16] Ibid., hlm. 20.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s