Peranan Gus Dur dalam mempererat NU dan Muhammadiyah

Oleh : IMMawan Arif Widodo

 

          Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di negara kita ini yang notabenenya negara dengan penganut agama islam terbesar ke-4 di dunia terdapat banyak organisasi islam, tetapi terdapat dua organisasi  besar yaitu Nahdhotul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang sangat berpengaruh dibandingkan dengan organisasi islam lainnya. Dalam masalah ideologi memang kedua organisasi ini tidak pernah bisa melebur menjadi satu, tapi usaha untuk menuju itu ternyata sudah pernah dilakukan oleh tokoh dari kedua organisasi tersebut.

Sebagai kekuatan moral, Muhammadiyah dan NU memiliki tanggung jawab yang sama untuk menyelamatkan negri ini dari berbagai ancaman yang dihadapinya. Semangat ini kemudian mempertemukan Amien Rais dan Gus Dur dalam sebuah pertemuan simbolik yang diprakarsai mahasiswa yang kemudian dikenal dengan istilah “Kelompok Ciganjur”. Hubungan keduanya terus berlanjut kemudian melahirkan “Komunike Paso”. Hubungan pribadi keduanya menjadi sangat akrab, sejak Amien Rais memperkenalkan “Poros Tengah” sebagai aliansi politik partai-partai islam reformis.

“Poros Tengah” kemudian berhasil menempatkan Amien Rais sebagai Ketua MPR, dan Gus Dur sebagai presiden. Keberhasilan Amien menjadi Ketua MPR tak lepas dari restu Gus Dur. Sementara keberhasilan Gus Dur menjadi presiden berkat perjuangan Amien. Kerja sama antara keduanya, ternyata berhasil mencapai sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Terpilihnya Gus Dur sebagai presiden sesunggunya didorong oleh sebuah siutasi politik yang sangat pelik dan rumit. Ini juga berkaitan dengan perpecahan dalam tubuh Golkar dan resistensi sebagian besar golongan santri terhadap Megawati.[1]

Ada beberapa hal yang perlu kita cermati dari fenomena di atas. Pertama, hubungan dan kerja sama antara Amien Rais dan Gus Dur, tidak dapat dikatakan hanya kerja sama pribadi semata. Keduanya merupakan tokoh puncak dari dua organisasi besar. Karenanya, kerja sama antara keduanya lebih sebagai simbol kerja sama antara Muhammadiyah dan NU yang selanjutnya menjadi tugas jajaran masing-masing organisasi di bawahnya, untuk memasyarakatkan langkah awal yang sudah mereka lakukan. Kedua, bersatunya Amien dan Gus Dur merupakan cermin bersatunya Muhammadiyah dan NU. Sementara NU sebagai payung besar kelompok tradisionalis dan Muhammadiyah sebagai lokomotif kaum modernis. Ketiga, kerja sama antara Amien dan Gus Dur ternyata dimulai dari kepentingan politik. Oleh karena itu, persahabatan antara keduanya sebetulnya sangat rentan dari berbagai gangguan. Untuk menjaga hubungan baik antara Muhammadiyah dan NU maka kerja sama antara keduanya tidak boleh berhenti hanya dalam persoalan politik saja.[2]

Persahabatan antara Amien dan Gus Dur telah berhasil lebih mencairkan hubungan antara NU dengan Muhammadiyah. Sebetulnya, upaya mendekatkan Muhammadiyah dengan NU sudah lama dilakukan oleh tokoh-tokoh kedua belah pihak. Kini menjadi tugas kita untuk tetap merawat dan melanjutkannya, dengan memberi bingkai yang lebih fundamental dan substansial berupa persaudaraan imaniyah tidak hanya terkait dengan simbol-simbol politik yang sering rentan oleh gesekan ruang, waktu, dan kepentingan sesaat.


[1] Gila Gus Dur Wacana Pembaca Abdurrahman Wahid hal. 7 , Penerbit LkiS Group

[2] Ibid hal. 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s