Revitalisasi Peran Pemuda di Tengah ‘Kegilaan’ Dunia

soekarno1

Arif Widodo

Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah

……..

Gibran – Cinta, Keindahan, Kesunyian

Perjalanan menuju abad ke 21 adalah sebuah perjalanan panjang penuh tragedi tragedi, sebuah perjalanan antitesis. Sebuah perjalanan optimisme masa depan yang tiba-tiba beruabah bisa menjadi sebuah pesimisme masa depan. Sebuah euphoria kesenangan, keterpesonaan, dan kegairahan tiba-tiba berubah menjadi histeria kepanikan, kekerasan dan kebrutalan. Sebuah mimpi futuristis yang tiba-tiba berubah menjadi hantu-hantu krisis. Sebuah wajah-wajah cantk perayu yang tiba-tiba berubah menjadi monster-monster yang menakutkan. Dunia ini seolah sudah menjadi sebuah arena yang ‘gila’ dan tak tentu, keadaan bisa berbalik-balik sedemikian rupa. Terus terang bangsa yang kita cintai bersama, bangsa besar Indonesia, bangsa nomor empat terbesar di muka bumi, agaknya sedang mengalami krisis identitas. Banyak hal yang menggembirakan, tetapi tidak sedikit juga hal yang sagat menyedihkan bahkan menyakitkan.

Pembangunan Ekonomi menjanjikan datangnya invisible hand yang dengan penuh kebijkasaan, kemurahhatian, kearifan akan membantu masyarakat kita keluar dari jurang kemiskinan dan keterbelekangan, menuju pada sebuah dunia yang berkemakmuran, berkeadilan dan pemerataan. Akan tetapi janji tersebut tak lebih dari sekedar mimpi utopis belaka. Kemakmuran dan keadilan yang dijanjikan tidak pernah menampakkan diri. Yang muncul justru monster-monster politik, vampir-vampir ekonomi yang haus dan terus menghisap sumber daya-sumber daya milik bangsa kita tercinta ini. Bangsa kita telah digerogoti oleh berjuta parasit, berjuta tipu daya, berjuta kebohongan dannkepalsuan yang bercampur-aduk dengan berjuta kekuasaan, berjuta nafsu kekayaan yang tak akan pernah terpuaskan. Monster-monster ekonomi telah menyebabkan masyarakat kita kehilangan rasa kemanusiaan – mereka menjelma menjadi homo economicus yang tidak memiliki jiwa lagi. Monster-monster politik telah menyebabkan masyarakat kita kelihatan sifat kearifan – mereka menjelma menjadi homo politicon yang tidak mempunyai hati nurani. Monster-monster libido telah menyebabkan masyarakat kita kehilangan batas baik dan buruk – mereka menjelma menjadi homo sexualis  yang tidak memiliki lagi ikatan moral. Monster-monster keamanan yang  telah menyebabkan masyarakat kita rasa kemanusiaan  – mereka menjelma menjadi homo homini lupus  yang memangsa bangsanya sendiri.

Sebuah negara yang hebat tentunya didukung karena warga negara yang hebat dalam segala sisi kehidupan tidak hanya itu saja tetapi kesadaran akan bernegara pun itu meruapakan indikator dari negara yang hebat. Banyak hal tentunya yang mengindikasikan negara yang hebat yang salah satunya adalah Generasi muda. Setiap negara pasti akan bangga jika putra-putri terbaik bangsa mereka berkancah dan berprestasi di dunia Interbasional. Sebuah pencapaian yang sangat membanggakan jika setipa negara bisa menghasilkan calon pemimpin yang bisa membawa bangsanya ke arah yang lebih baik dengan pendidikannya. Generasi muda merupakan generasi yang nantinya akan mengambil alih sebuah bangsa. Bukan hal yang mustahil pula jika generasi muda ini malah menjadi generasi yang menghancurkan dan merobohkan bangsa negrinya sendiri, karena tidak mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Rasa nasionalisme, sudah tentu menjadi suatu kewajiban bagi negara untuk mengajarkannya di bangku-bangku sekolah mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi karena itu meruapakan makanan wajib bagi warga negara.

Nasionalisme kita bisa kita ambil contoh di sini, kita boleh bangga melihat betapa bangsa kita, lepas dari perbedaan latar belakang, menganggap olahraga sebagai taruhan prestasi dan prestise nasional. Ketika TimNas bermain melawan negara lain dalam kejuaraan sepak bola, begitu semangat dan gagap gempita mereka hadir dan bersorak untuk mendukung timnas yang mereka banggakan. Mereka rela datang dari pelosok negri untuk melihat dan menonton tim kebnggaannya bermain melawan bangsa lainnya.

Adakah salah bila kita membanggakan dan memuja tim merah putih saat bermain melawan bangsa asing dalam kompetensi internasional atau regional ? sama sekali tdak ada yang salah. Memang sudah seharusnya demikian. Akan tetapi mengapa nasionalisme olahraga kita seperti tidak ada kaitan sama sekali dengan nasionalisme ekonomi, nasionalisme politik, nasionalisme pertahanan-keamanan, nasionalisme pendidikan dan bidang kehidupan lainnya?

Nasionalisme olahraga adalah nasionalisme simbolik, karena bersifat kasat mata dana meruapakan pajangan window show sebuah bangsa. Bila bangsa kita diibaratkan sebuah rumah di pinggir jalan raya, olah raga itu bagaiakan pagar depan yang langsung dilihat oleh setiap pengguna jalan raya. Nah, bangsa dan pemerintah kita seperti pemilik rumah di pinggir jalan raya itu yang punya obsesi aneh. Obsesi itu adalah bagaimana pagar rumah itu terlihat selalu bersih, mengkilat dan tidak boleh berdebu. Adalah tampak muka rumah yang paling penting. Yang lain masa bodoh. Pokoknya penampilan. Sehingga ketika perabotan rumah orang di depan mata si pemilik rumah, ia tidak begitu peduli. Mungkin hanya bisa tersenyum getir. Bahkan ketika istri dan anaknya dibawa keluar oleh orang lain, si pemilik rumah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia hanya bisa menonton, seolah tidak ada sesuatu yang dirisaukan. Pokoknya pagar dan wajah depan rumah kelihatan bagus. Itu yang penting. Kira-kira kontradiksi dan ironi seperti itu yang sedang meimpa bangsa kita.

Nasionalisme kita telah menjadi nasionalisme dangkal. Kita bela merah-putih hanya dalam hal-hal yang bersifat simbolik, namun ketika kekayaan alam kita dikuras dan dijarah oleh korporasi asing, ketika sektor-sektor vital ekonomi seperti perbankan dan industri dikuasai asing, bahkan ketika kekuatan asing sudah dapat mendikte perundang-undangan serta keputusan politik, kita diam membisu. Seolah kita sudah kehilangan harga dan martabat diri.

Generasi muda, dewasa ini, telah terkontaminasi dengan budaya, life style mengikuti budaya-budaya barat. Mereka mengadopsi budaya barat tanpa proses ‘filterisasi’, diterpakan ‘plek’ seperti apa yang diterapkan di barat yang berlatar belakang jauh berbeda dengan budaya Indonesia. Pemuda saat ini terlalu asik dengan diri mereka sendiri (narsisme), terlalu terlena dengan dunia kesenangan mereka sendiri (hedonisme), yang mereka pikirkan adalah untuk kesenangan mereka sendiri tidak terlalu perhatian dengan apa yang terjadi di lingkungan atau bahkan negaranya sendiri. Tak hanya itu mereka juga tenggelam dengan dunia kekuasaan mereka sendiri (feodalisme), terlalu hanyut dengan dunia kebendaan mereka sendiri (materialisme), sehingga mereka terlalu hanyut dengan kesombongan dan keangkuhan mereka sendir, menguasai dunia mereka sendiri dunia yang ada di bawah kendali mereka. Mereka tidak lagi mendengarkan nasihat dai para wali, para pujangga, para kyai, agama sudah tidak lagi mereka pedulikan lagi. Yang terpenting adalah kesenangan dan kehidupan mereka sendiri dengan meletakkan agama dalam domain yang berbeda. Para pemuda tak mau lagi mendengarkan nasihat-nasihat tentang kesederhanaan, kefakiran, kemurahhatian, kejujuran, kesantunan dan kebaikan. Nasihat-nasihat tersebut mereka anggap tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai masyarakat globalisasi yang mereka gandrungi. Mereka lebih senang mendengarkan nasihat-nasihat tentang kemewahan, prestise, gaya hidup, kebanggaan, kekayaan, kepuasan, keterpesonaan. Hasrat akan benda dan kekuasaan telah menyihir nurani kita. Nilai-nilai materialisme secara perlahan-lahan telah menggerogoti dan mengikis niali-nilai idealisme yang berasal dari nilai-nilai keagamaan dan ketuhanan. Hasrat yang tidak terkendali akan harta, kekuasaan, kemewahan, dan ketenaran telah menggiring mereka dan kita  ke arah tiga sifat warisan iblis, yaitu sombong, lupa diri, dan kehilangan kontrol.

Peran Pemuda

Di tengah keadaan bangsa Indonesia yang sedang krisis moral dan nasionalisme, peran pemuda sangat diharapakan dalam menjadikan bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. Sebuah tanggung jawab yang tidak mudah untuk dipikul bagi pemuda untuk bisa memperbaiki krisis ini. Ironinya, banyak pemuda yang sudah terkontaminasi dengan budaya-budaya lain yang agaknya menyebabkan rasa cinta terhadap budaya bangsanya sendiri sedikit demi sedikit memudar bahkan akan lebih memuja dan mengagungkan budaya bangsa lain, seperti budaya barat, budaya Korea dll.

Berbicara mengenai generasi muda pasti yang ada pada pikiran kita adalah para pemuda yang dalam hal ini lebih dikhususkan lagi yaitu mahasiswa. Mahasiswa yang dikenal sebagai ‘agent of change’ diharapkan mampu menjadi generasi muda yang nantinya mampu menjadi ‘agen perubahan’. Agen yang siap merubah bangsanya menjadi bangsa yang besar dengan menjadi warga negara yang sadar akan nasionalisme. Nasionalisme berarti mencintai bangsa dan negaranya termasuk mencintai budaya, produk dan segala yang dimiliki oleh bangsanya. Kemudian kata ‘perubahan’ terdapat dua makna di dalamnya, pertama adalah peruabahan menjadi lebih baik. Ini merupakan harapan bagi seluruh bangsa, mempunyai generasi muda yang mampu merubah bangsanya menjadi lebih baik dalam segala hal. Kedua, adalah perubahan menjadi lebih buruk. Inilah yang menjadi kecemasan, ketika generasi mudanya bukan memperbaiki mmenjadi lebih baik tetapi malah menghancurkan dan merobohkan ‘tata bangunan’ kebangsaan yang telah dibangun para pendahulu. Jadi, agent of change adalah agen yang bisa membawa dan meperbaiki bangsa ke arah yang lebih baik, kalaupun sudah baik diperbaiki ke arah yang sempurna menurut manusia karena hanya Tuhan yang Maha Sempurna di alam semesta ini.

Hedonisme, materialisme, feodalisme menjadi musuh yang sangat berat bagi pemuda dewasa ini. Hidup serba materialis yang kian marak di antara para pemuda membuat mereka tidak terlalu peduli dengan  nasib bangsa ini dan hanya mementingakn dunianya sendiri, sehingga peran mereka sebagai agent of change ikut  terabaikan. Life style yang glamour menjadikan pemuda hanya terfokus pada gaya hidup yang berkemawahan, gaya hidup konsumtif yang menjadi sebab penurunan produktivitas mereka sebagai pemuda.

Dengan adanya ini semua, maka patutlah kita sadar diri akan pentingnya peran kiya sebagai pemuda yang akan menggantikan dan menerusakan estafet kepemimpinan negri dan bangsa ini, bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda yaitu kita sendiri. Mari budaya hedonis, materialis, feodalis, konsumtif yang sudah banyak menjadikan pemuda bangsa ini terpuruk kita lawan bersama demi menuju generasi muda yang siap menjadi pemimpin bangsa yang cinta akan budayanya sendiri dan berakhlaq mulia. Agama yang terabaikan oleh para pemuda membuat adanya degradasi moral dan akhlaq para pemuda dewasa ini. Peran pemuda amat menyangkut masa depan bangsa. Jangan pesimis terhadap masa depan bangsa ini. Bila pesimisme itu sampai berubah menjadi apatisme, masih bisakah kita melihat masa depan bangsa ini dengan kepala tegak dan percaya diri ?

Akhirnya saya kutip pernyataan Nabi Syu’aib a.s. seperti tercantum abadi dalam kitab suci Al-qur’an: “aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Huud: 88).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s