Review makalah Menggugat Sistem Kapitalisme

capitalism2 

Arif Widodo

Pendahuluan

Kapitalisme adalah istilah yang dipakai untuk menamai sistem ekonomi yang mendominasi dunia barat sejak runtuhnya feodalisme. Sebagai dasar pada setiap sistem, ialah hubungan-hubungan diantara para pemilik pribadi atas alat-alat produksi yang bersifat non-pribadi (tanah, tambang, instalasi industri dan sebagainya, yang secara keseluruhan disebut modal atau kapital) dengan para pekerja yang biarpun bebas namun tak punya modal yang menjual jasa tenaga kerjanya kepada para majikan.[1]

Sistem kapitalisme seolah telah menjadi ‘agama’ baru yang dianut oleh para ekonom-ekonom di negara-negara maju dan bahkan sudah banyak negara-negara berkembang yang menerapkannya dalam kehidupan ekonomi negara mereka. Kekuatan sistem kapitalisme yang begitu menghegemoni semua bangsa di belahan bumi ini. Banyak kalangan beranggapan sistem kapitalisme dan revolusi industri yang dilahirkannya adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada umat manusia. Diklaim bahwa di negara mana pun yang menerapkan kapitalisme, kekayaan nasionalnya akan meningkat dan level kemiskinannya akan turun. Negara-negara yang menolak atau tidak menerapkan sistem kapitalisme dipercaya akan tetap miskin dan tak mampu berkembang. Kapitalisme dipandang mampu memberi jalan untuk keluar dari kemiskinan karena memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk menjadi wirausaha dan kaya karenanya. Sebuah pola pikir yang mensyaratkan usaha keras dan persaingan tanpa batas untuk menjadi yang terbaik. Memberi keberhasilan yang sangat “bernilai” bagi yang sukses, tetapi membuat keterpurukan yang parah bagi yang gagal.

Sistem yang begitu diagung-agungkan sebagai sistem yang mampu mensejahterakan kehidupan ekonomi dunia setelah robohnya sistem sosialisme yang digagas oleh Karl Mark dan sistem dimana Adam Smith dengan bukunya yang sangat masyhur the Wealth of Nations dijadikan bapak dari kapitalisme, yang  pada akhirnya mengalami banyak kebobrokan dalam kehidupan ekonomi dunia saat ini.[2]Seperti dipaparkan oleh Indah Piliyanti dalam makalahnya “Menggugat Sistem Kapitalisme” tentang kebangkrutan Lehman Brothers dan perusahaan finansial raksasa Bear Stearns di Amerika Serikat, krisis ekonomi merambah hampir setiap negara dan menjadi isu global sejak 15 September 2008. Tak hanya itu, beberapa negara di Eropa juga telah merasakan dampak dari krisis yang ditimbulkan oleh kapitalisme, sebut saja Yunani yang sudah dikategorikan negara gagal oleh IMF, menyusul setelahnya ada Spanyol yang harus menanggung defisit APBN dan harus ‘mengemis’ bantuan dari negara lain.

Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan akan berkumpul di markas Uni Eropa di Brussels pada 18-19 Oktober, ketika dana talangan (bailout) untuk Yunani dan Spanyol diperkirakan akan mendominasi pembicaraan. Yunani telah memohon lebih banyak waktu untuk melaksanakan pemotongan pengeluaran 11,6 miliar euro (14,4 miliar dolar AS) diwajibkan dalam pertukaran untuk pinjaman penyelamatan.[3] Ini beberapa bukti dari kegagalan kapitalisme yang sudah menjadi nyata. Dalam me-review makalah ini, penulis mencoba untuk melihat kebobrokan sistem kapitalisme dari dua sudut pandang: Sosialisme dan Islam.

Berbagai Gugatan terhadap Sistem  Kapitalisme

“Gugatan Sosialisme”

Banyak gugatan yang ditujukan terhadap sistem kapitalisme. Gugatan yang dilontarkan dari para tokoh sosialis, sejarawan dan juga tokoh-tokoh politik. Dalam gagasan-gagasan yang disampaikan oleh tokoh-tokoh Sosialisme memang banyak yang berisi tentang gugatan terhadap sistem kapitalisme, walaupun mereka juga mengakui bahwa sistem kapitalisme juga membawa beberapa hal yang berdampak positif. Penulis makalah hanya menyampaikan tentang historis – peristiwa sejarah – dari sistem ekonomi kapitalisme, tokoh-tokohnya dan berbagai krisis ekonomi yang timbul dari sistem kapitalis. Dari berbagai perspektif, sebenarnya kapitalisme dapat dilihat dan dikritisi.

Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana sejumlah besar pekerja, yang hanya memiliki sedikit hak milik, memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan kecil kapitalis yang memiliki hal-hal berikut: komoditas-komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut melalui gaji. Namun salah satu pengertian sentral Marx adalah bahwa kapitalisme lebih dari sekedar sistem ekonomi. Paling penting lagi, kapitalisme adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan-kekuatan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi (Wood, 1995).[4] Para kapitalis mempunyai kekuatan penuh untuk mengeluarkan para pekerja dan juga mereka sangat berjak untik menutup pabrik-pabrik. Maka kapitalisme memang bukan sekedar sistem ekonomi tetapi juga mengandung unsur-unsur kekuatan politis, suatu proses menjalankan kekuasaan, suatu proses untuk mengeksploitasi para pekerja.[5] Dalam teori Marxis, seluruh masyarakat hanya dibagi menjadi dua kelas saja, yaitu kelas kapitalis yang memiliki dan menguasai alat-alat produksi dan kelas proletariat yang mengerjakan – dengan tenaga kerjanya – semua proses produksi, tetapi tidak memiliki hasilnya, atau dengan kata lain dialienasikan dari semua tindakan produksinya, karena tidak ikut memiliki alat-alat produksi. Teori Marxis berpandangan bahwa sejalan dengan makin matangnya kapitalisme, proses proletarianisasi makin meningkat, di mana makin banyak bagian dari golongan borjuasi menjadi kaum proletariat, karena terjadinya proses konsentrasi dan sentralisasi kapital.[6]

Memang dari banyak tulisan Marx yang menggambarkan betapa kapitalisme adalah sistem yang menimbulkan ketimpangan, alienasi para buruh dan masih banyak lagi gugatan Marx tertuju pada sistem ini, dianggap pandangannya terhadap kapitalisme hanya pandangan negatif semata padahal sebenarnya dia juga memahami betul tentang ‘kebaikan’ dari kapitalisme itu sendiri. Menurut Dave Renton,[7] orang yang tidak pernah membaca karya Marx dan Engels beranggapan bahwa sikap keduanya terhadap perkembangan kapitalisme semata-mata negatif. Padahal, sikap keduanya lebih kompels dari itu. Dalam karya terbaik mereka The Communist Manifesto, keduanya memuji kapitalisme sebagai bentuk dari perkembangan kapasitas manusia untuk mentransformasi dunia. Dalam karya tersebut, Marx dan Engels menjelaskan bagaimana ide-ide lama, cara-cara hidup yang telah berusia ratusan tahun dihancurkan. Mereka menyebut keajaiban-keajaiban kapitalisme sebagai sesuatu yang jauh mengungguli keajaiban-keajaiban dunia kuno. Pernyataan ini dipertegas lagi oleh George Ritzer dan Douglas J. Goodman[8] “Walaupun perhatian utama Marx adalah krisis-krisis yang tak terelakkan dari kapitalisme dan gambarannya tentang kapitalisme sebagai suatu sistem dominasi dan eksploitasi akan tetapi Marx juga melihat kapitalisme sebagai sesuatu yang baik. Tentu saja Marx tidak ingin kembali pada nilai-nilai tradisional prakapitalisme. Generasi-genarasi sebelumnya jelas hanya dieksploitasi; satu-satunya perbedaan adalah bahwa eksploitasi yang dahulu tidak diselubungi sistem ekonomi. Terlepas dari sifatnya yang mengeksploitasi, kelahiran kapitalisme membuka kemungkinan-kemuginan baru bagi kebebasan para pekerja. Sistem kapitalisme membebaskan mereka dari tradisi-tradisi yang mengungkung masyarakat-masyarakat sebelumnya. Walaupun pekerja belum benar-benar bebas, akan tetapi ada janji untuk itu. Sebagai sistem ekonomi paling kuat yang terus berkembang, kapitalisme menjanjikan kebebasan dari kelaparan dan bentuk-bentuk lain dari kekurangan kebutuhan pokok”.

Kapitalisme telah menjadi suatu kekuatan yang benar-benar revolusioner. Kapitalisme menciptakan masyarakat global; memperkenalkan peruabahan teknologi yang tak kenal henti; menggulingkan dunia tradisional, akan tetapi menurut Marx, sekarang kapitalisme harus digulingkan. Hukum kapitalisme telah berakhir dan sekarang saatnya komunisme harus dimulai. Dari perspektif inilah Marx meengkritisi kapitalisme, dari potensi-potensinya di masa depan.[9] Pertentangan terhadap sistem kapitalisme telah banyak dilontarkan oleh tokoh-tokoh sosialis yang mengkritik dari berbagai sisi yang kemudian mereka menawarkan sebuah sistem ekonomi yang mampu memberi apa yang tidak mampu dilakukan oleh sistem kapitalisme, yaitu sistem sosialisme. Kemudian, kedua sistem – selain Islam – inilah yang banyak memberi warna kepada dunia ekonomi modern serta merupakan aliran yang ekstrim dalam perkembangan ilmu ekonomi. Tetapi baru-baru ini muncul sistem ekonomi yang sebenarnya sudah digagas dan dipraktikkan sejak abad 7 Masehi, tahun dimana Islam juga sedang berkembang. Namun ummat Islam mulai serius menggali kembali khazanah ilmu ekonomi Islam pada beberapa tahun terakhir.

Pandangan lain tentang Ciri-ciri Kapitalisme

Abercombrie dan kawan-kawan mengemukakan ciri-ciri kapitalisme dalam bentuknya yang murni sebagai berikut:[10]

  1. Pemilikan dan kontrol atas instrumen produksi, khususnya kapital, oleh swasta
  2. Pengarahan kegiatan ekonomi ke arah pembentukan laba
  3. Adanya kerangka pasar yang mengatur semua kegiatan
  4. Apropriasi laba oleh pemilik modal (yang terkena pajak negara)
  5. Penyediaan tenaga kerja oleh buruh yang bertindak sebagai agen bebas.

Maghnad Desai memberikan urutan ciri-ciri secara berbeda. Sebagai moda (cara) produksi kapitalisme bercirikan:[11]

  1. Produksi untuk dijual dan bukannya untuk dikonsumsi sendiri
  2. Adanya pasar, dimana tenaga kerja dibeli dan dijual dengan alat tukar upah melalui hubungan kontrak
  3. Penggunan uang dalam tukar-menukar yang selanjutnya memberikan peranan yang sistematis kepada bank dan lembaga non-bank
  4. Proses produksi atau proses kerja berada dalam kontrol pemilik modal dan agen-agen manajerialnya
  5. Kontrol dalam keputusan keuangan berada di tangan pemilik modal, dimana para pekerja tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan itu
  6. Berlakunya persaingan bebas di antara pemilik kapital.

Menurut Desai, timbulnya kapitalisme itu dapat dilacak dari pertumbuhan kapital dagang dan perdagangan luar negeri dan tersebarnya transaksi moneter dalam sistem feodal. Revolusi industri dan perana negara dalam mengatur ekonomi, menurut Desai, merupakan faktor penting dalam pembentukan sistem kapitalisme, walaupun menurut ideologi laissez faire peranan negara harus dikurangi sampai ke tingkat minimal.[12]

Menurut Dr. Imamudin Yuliadi, ciri-ciri sistem ekonomi kapitalisme adalah sebagai berikut:[13]

  1. Kebebasan memilki harta secara perorangan:

Tiap individu bebas menggunakan sumber-sumber ekonominya menurut apa yang dikehendakinya. Serta diberi kebebasan penuh untuk menikmati manfaat yang diperoleh dari hasil produksi dan distribusi barangnya.

  1. Kebebasan ekonomi dan persaingan bebas:

Selagi tidak melanggar norma-norma masyarakat tiap individu bebas mendirikan, mengorganisir, dan megelola perusahaannya. Tiap individu bebas mengoptimalkan semua potensi ekonominya baik fisik, mental dan sumber daya lain menurut keinginannya.

  1. Potensi menimbulkan ketimbangan ekonomi:

Pada sistem ekonomi kapitalisme modal memegang peranan yang strategis. Pelaku-pelaku ekonomi yang memiliki modal relatif cukup banyak akan menikmati peluang usaha yang lebih besar dan memperoleh keuntungan yang lebih banyak. Sebaliknya bagi mereka yang tidak memiliki modal hanya memperoleh kesempatan usaha yang sedikit sehingga akan menimbulkan kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi.

Dari berbagai pandangan tentang ciri-ciri sistem kapitalisme, dapat disimpulkan bahwa inti dari pandangan yang adalah sama, tidak jauh berbeda hanya dalam bahasa dan kata yang dipakai memang berbeda, tapi substansinya sama. Dalam sistem-sistem yang ada terdapat elemen-elemen yang menyusun sebuah sistem. Kapitalisme memiliki tiga elemen pokok yang mana terkait dengan maksud, motif dan prinsip dari sistem. Tiga gagasan yang menguasai motif dan prinsip kapitalisme adalah pendapatan, kompetisi dan rasionalitas.[14] Pendapatan dalam terminologi uang dan memaksimalakan uang tersebut merupakan tujuan dari aktiivitas ekonomi di bawah kapitalisme yang membedakan dengan sistem-sistem sebelumnya. Ekonomi pra-kapitalis sebagian besar terkait dengan gagasan pendapatan sebagai mata pencaharian.[15] Dalam sistem kapitalisme, jalan untuk mendapatkan tujuan dari aktivitas  ekonomi adalah dengan melewati proses kompetisi. Kompetisi yang ada disikapi dengan rasionalitas individu, dimana setiap individu diasumsikan berkelakuan bebas dan rasional untuk mendapatkan kesuksesan dalam aktivitas ekonomi dengan berbagai jalan yang dia inginkan dengan syarat tidak melanggar aturan-aturan yang berlaku.

Jadi dalam sistem kapitalisme, seorang pemilik modal akan terus memaksimalkan modalnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dalam aktivitas ekonominya, dengan menggunakan rasionalitas individunya. Pemilik modal bebas dalam memaksimalakan keuntungan dengan jalan apapun dan dengan cara apapun selama tidak melanggar aturan yang berlaku. Ekploitasi terhadap para pekerja dibolehkan bahkan merupakan hal yang tidak aneh dalam sistem kapitalisme selama tidak melanggar peraturan yang berlaku di negara atau daerah tertentu.

Ekonom Islam memandang Sistem Kapitalisme

Dalam pembahasan sebelumnya telah dibahas tentang banyak hal terkait pandangan beberapa tokoh dan juga pandangan dari sistem ekonomi sosialis mengenai sistem kapitalisme. Penulis juga akan menambahkan penjelasan dari penulis makalah tentang sistem kapitalisme melalui kaca mata ekonom Islam. Bagaiamana ekonom Islam memandang sistem ekonomi yang sangat berpengaruh dalam pekembangan ekonomi modern walaupun selama ini sistem ini telah mengalam banyak krisis menuju keruntuhannya.

Secara ontologis kapitalisme memiliki tiga pandangan, Pertama adalah generatio spontanea, yakni suatu pandangan bahwa dunia dan segala isinya muncul secara kebetulan dan dengan sendirinya. Kedua, God is a watch maker yakni suatu pandangan bahwa dunia dan segala isinya adalah memiliki pencipta tetapi pencipta tersebut tidak peduli terhadap apa yang diciptakannya. Dalam pandangan Nietzche dalam karyanya Thus spake Zarathustra dikatakan bahwa God is death. Ketiga, pandangan agnotis yakni suatu pandangan yang menunda kepercayaan kepada Tuhan karena belum bisa membuktikan adanya Tuhan secara empirik. Pandangan ontologis inilah yang kemudian mlahirkan pandangan epistemologis bahwa God is death dan super human is born artinya pusat dunia adalah manusia yang super yang memiliki kemampuan memformulasikan segala macam pandangan aksiologis mulai dari keindahan, kemanfaatan, kebajikan, kebenaran dan lain-lain. Pandangan aksiologis ini kemudian melahirkan suatu konsep yang tidak memiliki standar baku dan bersifat sangat subjektif.[16] Dalam sistem kapitalisme tidak dikenal sebuah sumber atau asas dimana setiap teori yang ada harus berpedoman kepada sumber tersebut, oleh karenanya metodologi kapitalisme selalu berubah-ubah dengan berubahnya fakta dan realita yang ada, tidak tetap pada satu sumber karena memang tidak memiliki sumber yang baku.

Dalam analisis ekonomi ideologi kapitalisme mengandung kesalahan tingkat pertama dan paling asasi yaitu kesalahan identifikasi tentang apa yang dimaksudkan dengan kebutuhan (needs). Sistem kapitalisme telah mencapai taraf ketidaksadaran total bahwa apa yang akan mereka penuhi sebenarnya adalah keinginan (wants) yang bersifat materialis dan idealis bukan kebutuhan (needs). Dalam perkembangan selanjutnya wants ini kemudian dikemas sedemikian rupa dan dieksploitasi secara intensif melalui iklan dan promosi.[17] Kebutuhan yang sebenarnya adalah keinginan ini akan terus mereka penuhi karena keinginan ini mereka anggap sebagai kebutuhan yang akan terus mereka penuhi dengan segala cara, yang mengakibatkan permintaan (demand) naik secara drastis. Keinginan ini yang mengakibatkan terjadinya kelangkaan (scarcity) dalam masyarakat modern, sehingga terjadi sistem ekonomi yang ekploitatif.

Dapatkah Kapitalisme Bertahan?

“Can capitalism survive? No, I do not think it can. The thesis I shall endeavor to establish is that the actual and prospective performance of the capitalist system is such as to negative the idea of its breaking down under the weight of economic failure, but that its very success undermines the social institutions which protect it, and inevitably creates conditions in which it will not be able to live and which strongly point to socialism as the heir apparent.”[18]

Kalimat di atat adalah tulisan dari Joseph Schumpter yang menyatakan bahwa kapitalisme tidaklah akan bisa bertahan di kemudian hari. Tetapi, masih ada banyak ekonom yang meyakini akan kebangkiatan sistem kapitalisme kembali setelah beberapa krisis yang melanda akibat sistem ini. Kelenturan sistem kapitalisme untuk berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang menjadikannya berubah adalah rahasia sistem ini tetap ada hingga saat ini.

Menurut Fernand Braudel[19], kelebihan utama kapitalisme selama berabad-abad – dulu dan sekarang – ialah kebebasan untuk memilih, kapitalisme punya kemampuan untuk setiap kali mengubah arah: itulah rahasia daya hidupnya. Selanjutnya Braudel menambahkan bahwa kelenturan semacam itu tentu saja tidak elindungi kapitalisme dari segala resiko. Pada saat-saat krisis besar, banyak kapitalis yang bangkrut. Namun banyak yang lain tetap bertahan dan yang lainnya lagi tetap masuk daftar biarpun mulai dari papan bawah.

Ada banyak pendapat yang menyatakan “pro” bahwa kapitalisme akan runtuh maupun “kontra”, bisa dilihat dari sedikit pendapat tokoh di atas keduanya mempunyai pendapat yang saling bertentangan mengenai apakah kapitalisme dapat bertahan atau tidak. Fernand meyakaini bahwa krisis yang terjadi di berbagai negara bukanlah sebuah indikator keruntuhan sistem kapitalisme. Kapitalisme sedang mengubah arah, mereorganisasi bentuk-bentuk dominasinya.[20]

Memang tidak bisa ditampik bahwa kapitalisme telah menjadi bagian dari perkembangan ekonomi dunia sejak beratus tehaun yang lalu, tapi penulis meyakini bahwa sistem yang tidak mempunyai sumber dan landansan yang kokoh akan tetap tumbang seperti halnya sebuah bangunan yang tidak mempunyai pondasi yang kokoh pasti akan ambruk suatu saat nanti. Begitupun dengan sistem kapitalisme yang keruntuhan baginya adalah sebuah keniscayaan menurut penulis hanya tinggal menunggu waktu. Sistem ini memang telah banyak juga memberikan warna bagi para ekonom muslim untuk bisa menumbuh kembangkan Ekonomi Islam yang nantinya akan bisa menggantikan sistem-sistem ekonomi yang telah ada sebelumnya. Ekonomi dalam Islam meruapakan bagian dari sebuah sistem kehidupan yang secara komprehensif telah diatur dalam sumber yang sekaligus menajdi patokan dan pondasi ummat Islam dalam menjalankan setiap aktivitas dalam kehidupan duniawi maupun ukhrowi yaitu Al-qur’an dan Hadist.

Dewasa ini, tidak sdikit pula para ekonom barat  yang telah menjadikan Ekonomi Islam sebagai Ekonomi alternatif untuk menyembuhkan berbagai penyakit akibat dari sistem kapitalisme. Ekonomi Islam mampu melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh sistem-sistem ekonomi lainnya, karena mempunyai landasan yang kokoh dan bukan berasal dari otak dan rasio manusia yang serba sangat terbatas. Tetapi ekonomi Islam mempunyai landasan dari zat yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, yaitu Allah SWT.


[1] Dudley Dillard, “Kapitalisme”, dalam Dawam Rahardjo (eds.), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES, 1987), hal. 15.

[2] Walaupun sistem sosialisme telah roboh tapi pada kenyataannya sistem ini pernah dianggap menjadi sistem ekonomi alternatif dari kapitalisme. Pada awal tahun 1960-an, Hatta masih menggaungkan cita Sosialisme Indonesia dalam berbagai tulisannya, yang disambut baik oleh cendekiawan muslim, Nurcholish Majid. Namun harus diakui, bahwa gaung cita sosialisme itu sudah jarang,bahkan hampir tidak, terdengar pada masa orde baru.  Bahkan ketika Arif Budiman mencoba menampilkan kembali sosialisme sebagai ideologi didasarkan pada kritiknya terhadap berlangsungnya kapitalisme yang dinilainya telah mngekibatkan ketimpangan dalam perkembangan ekonomi di Indonesia pada waktu itu, selanjutnya lihat dalam Dawam Raharjo, Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES, 1987), hal. Viii.

[4] George Ritzer, Douglas J. Goodman, Sociological Theory: Karl Marx and Varieties of Neo-Marxian Theory, diterjemahkan oleh Nurhadi dengan judul Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo-Marxian, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011), hal. 45

[5] Bagi Marx, eksplotasi dan dominasi lebih dari sekedar distribusi kesejahteraan dan kekuasaan yang tidak seimbang. Ekploitasi merupakan bagian penting dari ekonomi kapitalis. Tentu saja, setiap masyarakat memiliki sejarah ekploitasi, tetapi yang unik di dalam kapitalisme adalah bahwa eksploitasi dilakukan oleh sistem ekonomi yang impersonal dan “objektif”. Selengkapnya lihat dalam George Ritzer, Douglas J. Goodman, Sociological Theory: Karl Marx and Varieties of Neo-Marxian Theory, diterjemahkan oleh Nurhadi dengan judul Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo-Marxian, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011), hal. 55.

[6] Dawam Rahardjo, Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES, 1987), hal. xxv

[7] Kumpulan artikel dan tulisan Karl Marx dan Frederick Engels dalam Dave Renton (ed), Karl Marx: Membongkar Akar Krisis Global, (Cet. I; Yogyakarta: Resist Book, 2009), hal. 31.

[8] George Ritzer, Douglas J. Goodman, op. cit., hal. 63.

[9] Op. cit., hal. 64.

[10] Ibid., hal. xviii.

[11] Ibid., hal. xix.

[12] Lihat Dawam Rahardjo, ibid., hal. xix, Baca istilah “Capitalism” dalam Tom Bottomore et.al. A Dictionary of Marxist Thought (Cambridge, Massachussets: Harvad University Press, 1983), hal. 64.

[13] Imamudin Yuliadi, Ekonomi Islam: Filosofi, Teori dan Implementasi, (Cet. II; Yogyakarta: LPPI UMY, 2007), hal. 74.

[14] Mehdi B. Razavi, Modeling an Islamic Economic System: An interaction Delivery Matrix and Boolean Digraph Approach (A Dissertation), (Michigan: UMI, 1983), hal. 65.

[15] Ibid., hal. 66, dikutip dari Zakir Husain, Capitalism, (Bombay, India: Asia Publishing House, 1967), hal. 44.

[16] Imamudin Yuliadi, ibid., hal. 76.

[17] Loc. cit.

[18] http://www.econlib.org/library/LFBooks/Rogge/rggCCS1.html , dikutip dari Joseph A. Schumpeter, Capitalism, Socialism, and Democracy, 3rd ed. (New York: Harper & Row, 1962), hal. 61

[19] Fernand Braudel, “Dapatkah Kapitalisme Bertahan?”, dalam Dawam Rahardjo (ed.), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES, 1987), hal. 316.

[20] Ibid., hal. 321.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s