Perbandingan Sistem Ekonomi (Bagian I)

Perbandingan Sistem Ekonomi

Abstract

There are economic systems dominant in the world during the last three hundred years – capitalism, sosialism, nasionalist-fascism and the welfare state – will be discussed in this paper. All oh them were based on the fundamentally and characteristically Western premise that religion and morality are not relevant to the solution of man ecomonic problems, that economic affairs are better settled by reference to the laws of economic behaviour and not in respect of any social code of moral conduct. In this paper should be discussed about comparison capitalism, socialism and their characteristics, goddness and badness with Islamic Economic system.

Key words: system, capitalism, socialism, islamic economics

 

PENDAHULUAN

Sebuah keniscayaan bahawa manusia dalam kehidupannya di dunia ini pasti tidak akan pernah lepas dari kehidupan berekonomi. Manusia membutuhkan makanan yang harus mereka konsumsi untuk bisa bertahan hidup, makanan yang manusia makan juga harus didistribusikan dari para produsen sehingga sampai pada yang konsumen yang  membutuhkan. Produksi, distribusi dan konsumsi menjadi kegiatan inti dari ekonomi yang pasti dilakukan manusia demi memenuhi kebutuhannya. Dalam mendukung lancarnya itu semua diperlukan sistem yang mengatur kegiatan ekonomi sehingga mampu menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Tentu saja setiap masyarakat, negara dan bangsa mempunyai kultur  atau latar belakang yang berbeda-beda sehingga dalam mengatur kegiatan ekonominya juga memiliki sistem yang berbeda-beda meskipun ada juga yang menggunaan sistem yang sama sesuai dengan keadaan lingkungan di mana sistem ini akan digunakan.

Dalam ekonomi, terdapat berbagai macam sistem yang merupakan hasil dari kemampuan untuk menginterpretasikan yang berbeda-beda sesuai dengan kultur dan lingkungan yang mempengaruhi cara berpikir untuk menemukan sebuah sistem. Kehidupan berekonomi juga tak lepas dari berbagai masalah yang terus mengahantui seperti pengentasan kemiskinan, menyediakan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan dasar setiap individu, pemerataan distribusi pendapatan dan kesejahteraan.[1] Ini mendorong masyarakat membentuk sistem yang diharapkan nantinya mampu mengatasi atau mencegah terjadinya masalah-masalah yang disebutkan di atas. Sistem ekonomi dengan pusat perencanaan adalah negara, yang diklaim mampu untuk memenuhi tujuan pokok, tidak hanya gagal untuk mewujudkannya tetapi juga menghadapi krisis ekonomi yang serius, meyakinkan kegagalan sistem. Kemudian sistem ekonomi pasar menawarkan bahwa sistem pasar lebih baik dari sebelumnya, tetapi walaupun performanya lebih baik, mereka juga gagal dalam mewujudkan tujuan pokok yang diinginkan. Kegagalan mereka yang sangat menonjol dari ketidastabilan ekonomi dan ketidakseimbangan ekonomi makro, tingkat inflasi yang tinggi tercermin dalam fluktuasi ekonomi yang sering terjadi tingginya tingkat inflasi dan pengangguran.[2] Negara-negara muslim, mereka juga dalam keadaan sangat goyah seperti halnya dunia lainnya. Kemiskinan dan ketidakmerataan menjadi lebih kentara. Kebutuhan-kebutuhan pokok masih belum terjangkau oleh sebagian besar penduduknya, sementara sebagian golongan atas dan orang kaya hidup dalam kemewahan. Adanya kemiskinan bersamaan dengan golongan hidup mewah cenderung menggerogoti jalinan ukhuwah dan solidaritas sosial serta berfungsi sebagai salah satu penyebab utama kejahatan, kekerasan, kerusuhan sosial dan ketidakstabilan politik. Mayoritas negara-negara ini juga dihadapkan pada ketidakseimbangan makroekonomi. Kegagalan negara-negara muslim lebih menegaskan lagi karena islam memberikan tekanan tanpa kompromi terhadap martabat manusia, ukhuwah, dan keadilan sosial sampai ekonomi yang tetap menjadi slogan kosong sampai elemen pokok dari kebahagiaan itu dipenuhi.[3]

Beberapa sistem telah berhasil dalam beberapa periode atau rentan waktu saja tetapi setelah itu menghilang. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, full employment, kestabilan harga, ditribusi pendapatan menjadi masalah-masalah yang harus diusahakan untuk tidak terjadi dalam sebuah perekonomian. Tidak hanya di negara-negara Asia, bahkan negara-negara barat sedang mencari solusi sistem yang mampu memecahkan permasalahan yang sedang atau diprediksikan akan terjadi. Dalam makalah ini akan diuraikan berbagai sistem yang ada di dunia – kapilaisme, sosiaisme, Islam – ditambah juga sistem ekonomi komunisme yang merupakan varian dari sistem sosialisme dan sistem ekonomi fasisme. Beberapa kebaikan dari beberapa sistem dan juga kelemahannya juga akan diuraikan dalam malakah ini sehingga diketahui sistem yang memang harus diikuti atau dijadikan pedoman ekonomi agar mampu mengatasi berbagai permasalahan yang belum bisa diselesaikan oleh sistem yang telah gagal.

PENGERTIAN SISTEM

Pengertian sistem adalah merujuk pada sehimpunan gagasan (ide) yang tersusun diorganisasikan, suatu himpunan gagasan, prinsip, doktrin, hukum dsb. yang membentuk suatu kesatuan yang logik dan dikenal sebagai isi buah pikiran tertentu, agama, atau bentuk pemerintahan tertentu. Sistem mengandung ciri-ciri sebagai berikut[4] :

  • Setiap sistem mempunyai tujuan
  • Setiap sistem mempunyai batas, akan tetapi sistem itu bersifat terbuka, dalam arti berinteraksi dengan lingkungannya
  • Setiap suatu sistem terdiri dari beberapa sub sistem yang biasa pula disebut bagian, unsur atau komponen
  • Sistem tidak hanya sekedar sekumpulan dari bagian atau unsur melainkan juga merupakan suatu kebulatan yang utuh dan padu atau mempunyai “wholisme” (keterpaduan)
  • Terdapat saling hubungan dan saling ketergantungan baik dalam sistem (internal) maupun antara sistem dengan lingkungannya (eksternal)
  • Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses transformasi atau proses mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output), sehingga sistem disebut juga dengan istilah “processor” atau “transformator”
  • Dalam setiap sistem terdapat mekanisme kontrol dengan memanfaatkan tersedianya umpan balik .
  • Adanya mekanisme kontrol memungkinkan setiap sistem melakukan adaptasi terhadap lingkungannya secara otomatis.

Pada dasarnya  sistem ekonomi dibagi menjadi dua yaitu sistem ekonomi islam dan sistem ekonomi konvensional. Dan banyak negara yang telah menggunakan sistem ekonomi islam untuk mengataur kehidupan manusia baik kehidupan didunia dan di akhirat karena perekonomian adalah bagian dari kehidupan manusia  maka harus ada sumber mutlak yaitu Alquran dan sunah. Seperti yang telah kita ketahui tentang definisi sistem ekonomi islam yaitu sebuah sistem yang dibangun di atas nilai-nilai islam dengan prinsip tauhid dan keadilan dan sistem ekonomi islam menjamin keselarasan antara pertumbuhan ekonomi. Sumber (epistimologi) dan tujuan kehidupan kehidupan ekonomi islam berasaskan kepada Alquran dan Sunah. Perkara asas muamalah dijelaskan di dalamya termasuk bentuk suruhan dan larangan. Suruhan dan larangan tersebut bertujuan untuk membangun keseimbangan rohani dan jasmani manusia dengan berasaskan tauhid.

Sistem ekonomi konvensional secara bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu masalah atau pekara yang sudah diterima, digunakan dan dipraktikan dalam masyarakat. Apabila dihubungkan dengan ekonomi maka sistem ekonomi konvensional merupakan suatu sistem yang sudah dipraktekan secara luas di masyarakat. Dengan kata lain sistem ekonomi konvensional merupakan sistem yang ditentukan oleh manusia di dalam suatu masyarakat yang bersifat dinamis sehingga dapat berubah sesuai ketentuan dan kebutuhan masyarakat. Dalam sejarah dunia ada beberapa sistem ekonomi konvensional yaitu Kapitalis, Sosialis, Komunis, dan Fasisme.

PERBANDINGAN SISTEM EKONOMI

Secara kategoris sistem ekonomi yang beroprasi dalam aktifitas ekonomi sekarang adalah sistem ekonomi kapitalis, sosialis dan ekonomi islam. Karateristik sistem ekonomi islam berbeda dengan sistem kapitalis maupun sosialis. Meskipun begitu, sistem konvensional―kapitalisme, sosialisme, fasisme―telah mampu hadir dalam perekonomian masyarakat dunia dan memang masih banyak digunakan oleh sebagian besar negara di dunia. Masing-masing mempunyai kerangka yang berbeda-beda. Dalam perbadingan sistem ekonomi, perhatian kita banyak tertuju pada cara membandingkan prestasi. Karena itu tidaklah mungkin untuk dapat mencapai kesimpulan shahih yang objektif, bila “objektif” yang dimaksud adalah suatu penilaian yang logis harus diterima oleh para oendudkung dari semua sistem ekonomi. Tetapi, perbandingan kita tentang prestasi hanya dapat mencapai dua hal: perbandingan yang dapat menunjukan setiap sistem unggul di atas sistem lainnya dalama memenuhi tujuan tertentu, dan perbandingan yang dapat mengemukakan sejauh mana tujuan itu dikorbankan utnuk tujuan lainnya.[5]

Ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang memiliki kegunaan alternatif. Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari cara manusia mencapai kesehjateraan dan mendistribusikanya.[6] Kesehjateraan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang memiliki nilai dan harga, mencakup barang dan jasa yang diproduksi dan dijual oleh para pebisnis. Dan pernyataan selanjutnya adalah bagaimana barang dan jasa tersebut di distribusikan. Cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan menentukan sistem ekonomi. Dan ada lima sistem ekonomi di dunia diantaranya adalah :

  1. Kapitalisme
  2. Sosialisme
  3. Komunisme
  4. Fasisme
  5. Islam

Dan kami bahas secara rinci di bawah ini:

adam smith1.     Kapitalisme

Kapitalisme, sebagaimana didefiniskan dalam A Modern Dictionary of Sociology adalah:

An economic system based upon the accumulation and investment of capital by private individuals who then become the owners of means of productions and distribution of goods and services.[7]

Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang didasarkan pada kebebasan untuk mengeksploitasi segala sumber daya yang sudah menjadi milik dari individu untuk mendapatkan profit yang tinggi selama tidak melanggar peraturan yang berlaku. Paham kapitalisme berasal dari inggris pada abad ke-18. Dasar pemikiran ekonomi kapitalis bersumber pada tulisan Adam Smith dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes oh the Wealth of Nations yang ditulis pada tahun 1776. Isi buku tersebut sarat dengan pemikiran-pemikiran tingkah laku ekonomi masyarakat. Dari dasar filosofi tersebut kemudian menjadi sistem eknoomi dan pada akhirnya mengakar menjadi ideologi yang mencerminkan suatu gaya hidup (way of life).[8] Dan salah satu isinya adalah Menurut adam smith manusia melakukan kegiatan ekonomi atas dasar kepentingan pribadi, yang bertindak sebagai tenaga dan pendorong manusia untuk mengerjakan kegiatan apa saja asal dibayar. Motif kepentingan individu yang didorong oleh filsafat liberalisme kemudian melahirkan sistem ekonomi pasar bebas dan akibatnya muncul ekonomi kapitalis. Milton H. Spencer (1977), menulis dalam bukunya Contemporary Economics: “Kapitalisme merupakan sebuah sistem organisasi ekonomi yang dicirikan oleh hal milik privat (individu) atas alat-alat produksi dan distribusi (tanah, pabrik-pabrik, jalan-jalan kereta api dan sebagainya) dan pemanfaatannya untuk mencapai laba dalam kondisi-kondisi yang sangat kompetitif”.[9]  Kapitalisme sanagat erat hubunganya dengan pengerjaan kepentingan individu. Dalam bukunya ‘The Wealth of Nations’ Smith mengungkapkan: “ Bukan berkat kemurahan tukang daging, tukang pembuat bir atau tukang pembuat roti kita dapat makan siang. Akan tetapi, karena mereka memperhatikan kepentingan pribadi mereka. Kita berbicara bukan kepada rasa kemanusiaan mereka, melainkan kepada cinta mereka kepada diri mereka sendiri, dan janganlah sekali-kali berbicara tentang keperluan-keperluan kita, melainkan tentang keuntungan-keuntungan mereka”. Bagi Smith, jika setiap individu diperbolehkan mengerjakan kepentinganya sendiri tanpa ada campur tangan pemerintah, untuk mencapai yang terbaik di masyarakat seakan-akan dibimbing oleh tangan tidak tampak (invisible hand).

Kapitalisme, dalam arti klasik laissez-faire, tidak pernah ada di manapun. Ia telah mengalami modifikasi terus-menerus selama beberapa abad. Pemerintah secara ekstentif telah melakukan intervensi untuk melakukan meperbaiki kekurangan-kekurangannya dan menggantikan, paling tidak secara parsial, beberapa dampaknya pada pemerataan. Namun demikian, ia tetap menampilkan citra kharismatiknya sebagai suatu model. Penampilannya ini bertambah kuat setelah kegagalan sosialisme, penjauhan peran yang besar dalam ekonomi, dan reaksi keras terhadap negara kesejahteraan.[10] Akhir-akhir ini, seruan-seruan yang mendukung liberalisme atau kembali lagi sedekat mungkin kepada model neoklasik dengan intervensi pemerintah “yang minimum” makin intens, baik yang berasal dari platform politik maupun intelektual.[11]

Dengan demikian secara sederhana sistem ekonomi kapitalis mengandung tiga prinsip dasar yaitu[12] :

  1. Kebebasan memilih harta secara perorangan : setiap warga negara mengetahui hak kebebasan individu untuk memiliki harta perorangan. Setiap individu dapat memiliki, membeli, dan menjual hartanya menurut yang dikehendaki tanpa hambatan. Individu memiliki kuasa penuh terhadap hartanya dan bebas menggunaka sumber-sumber ekonomi menurut cara yang dikehendaki. Dan setiap individu berhakmemiliki manfaat  yang diperoleh dari produksi dan distribusi serta bebas melakukan pekerjaan. Perusahaan bebas sangat erat jika dikaitkan dengan kepemilikan individu. Itu artinya, bahwa di bawah kapitalisme, perusahaan swasta bebas untuk memperoleh sumber daya yang mereka inginkan dan mengorganisasikan sesuai keinginan dan kehendak mereka dan mereka bebas untuk menjual produk di pasar yang mereka pilih. Disana tidak ada pembatasan dari pemerintah untuk menghalangi perusahaan masuk atau keluar dari pasar.[13]
  2. Kebebasan ekonomi dan persaingan bebas : setiap individu berhak mendirikan, mengorganisasikan, dan mengelola perusahaan yang diinginkan. Individu berhak terjun dalam semua bidang perniagaan dan memperoleh sebanyak-banyaknya keuntungan.
  3. Ketimpangan ekonomi : dalam ekonomi kapitalis modal merupakan sumber produksi dan sumber kebebasan. Jika memiliki modal lebih besar maka akan menikmati hak kebebasan lebih baik untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
  4. Ketidakadaan Perencanaan[14]: di bawah sistem kapitalisme tidak ada pusat perencanaan ekonomi. Ekonomi kapitalis bersandar pada kegiatan individual dari jutaan private economy. Kegiatan-kegiatan ini diatur oleh mekanisme pasar; pasar bebas menentukan harga yang memungkinkan bagi kalkulasi ekonomi. Disisni, harga tidak ditentukan oleh intervens pemerintah, mereka adalah hasil dari kekuatan pasar. Bagaimanapun, pemerintah harus menjaga kesehatan moneter dan kondisi kredit dan juga harus memperhatikan keseluruhan permintaan; terlalu tinggi atau terlalu rendah, dan harus berhati-hati dengan kekuatan monopolistik.

Ekonomi kapitalis juga menpunyai kebaikan antara lain[15] :

  1. Kebebasan ekonomi akan meningkatkan produktivitas masyarakat yang nantinya meningkatkan kekayaan negara.
  2. Persaingan bebas akan mewujudkan dan tingkat harga yang wajar.
  3. Motivasi mendapatkan keuntungan maksimal menyebabkan orang berusaha keras.

Akan tetapi sistem ekonomi kapitalis tidak selalu memperoleh tetapi ada kerugian dari sistem ekonomi kapitalis[16] :

  1. Menyebabkan ketidakselarasan karena semangat persaingan
  2. Persaingan bebas mengganggu kapasitas kerja dan sistem ekonomi karena mengakibatkan banyak keburukan dalam masyarakat.
  3. Hilangnya nilai-nilai moral kemanusiaan seperti kasih sayang, persaudaraan, kerjasama.
  4. Menghalalkan segala cara untuk keuntungan individu.
  5. Perbedaan mencolok antara majikan (pemilik modal/kaum borjuis) dan pekerja (buruh).
  6. Mengesampingkan masalah kesehjateraan mastarakat banyak.

Secara ontologis kapitalisme memiliki tiga pandangan, Pertama adalah generatio spontanea, yakni suatu pandangan bahwa dunia dan segala isinya muncul secara kebetulan dan dengan sendirinya. Kedua, God is a watch maker yakni suatu pandangan bahwa dunia dan segala isinya adalah memiliki pencipta tetapi pencipta tersebut tidak peduli terhadap apa yang diciptakannya. Dalam pandangan Nietzche dalam karyanya Thus spake Zarathustra dikatakan bahwa God is death. Ketiga, pandangan agnotis yakni suatu pandangan yang menunda kepercayaan kepada Tuhan karena belum bisa membuktikan adanya Tuhan secara empirik. Pandangan ontologis inilah yang kemudian mlahirkan pandangan epistemologis bahwa God is death dan super human is born artinya pusat dunia adalah manusia yang super yang memiliki kemampuan memformulasikan segala macam pandangan aksiologis mulai dari keindahan, kemanfaatan, kebajikan, kebenaran dan lain-lain. Pandangan aksiologis ini kemudian melahirkan suatu konsep yang tidak memiliki standar baku dan bersifat sangat subjektif.[17]

Dalam analisis ekonomi ideologi kapitalisme mengandung kesalahan tingkat pertama dan paling asasi yaitu kesalahan identifikasi tentang apa yang dimaksudkan dengan kebutuhan (needs). Sistem kapitalisme telah mencapai taraf ketidaksadaran total bahwa apa yang akan mereka penuhi sebenarnya adalah keinginan (wants) yang bersifat materialis dan idealis bukan kebutuhan (needs). Dalam perkembangan selanjutnya wants ini kemudian dikemas sedemikian rupa dan dieksploitasi secara intensif melalui iklan dan promosi. Galbraith dalam bukunya The New Industrial State menyatakan “All forms of consumer persuasion affirm that the consumption of goods is the greatest source of pleasure, the highest measure of human achievement”. Bujukan dan rayuan dari promosi menciptakan suatu masyarakat yang konsumtif dengan keinginan yang tidak terbatas (infinite) dan tidak terpuasi (insatiable). Daniel Bell menyebutnya bourgeois appetities dan menyatakan sebagai satu dari tiga akar masalah utama dalam masyarakat kapitalis, dua lainnya adalah democratic polity dan individualist ethos.[18]

Dalam hal konsumsi, masyarakat akan cenderung mengkonsumsi sebanyak-banyaknya karena bukan hanya didorong oleh keinginan pribadi untuk memenuhi keinginan tetapi juga dimotivasi oleh promosi akan barang yang semakin besar, sehingga akan menjadikan masyarakat kecanduan untuk terus mengkonsumsi. Konsumerisme tidak hanya menjadi permasalahan di negara-negara sedang berkembang tetapi juga menajdi masalah bagi negara maju seperti Amerika. Ini merupakan dampak dari kesalahan pemahaman antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), karena keinginan yang dalam ekonomi kapitalisme adalah kebutuhan maka segala yang menjadi keinginan harus didapatkan dengan segala macam cara. Menurut mereka, Sumber daya yang ada sekarang ini sudah mulai langka tetapi penyebab sebenarnya adalah keinginan yang besar itulah yang mengakibatkan kelangkaan (scarcity) dalam perekonomian.

capitalism2


[1] Muhammad Umer Chapra, Islam and The Economic Chalenge, (Riyadh: The Islamic Foundation and The International Institute of Islamic Thought, 1992 ), hal. 1.

[2] Ibid., hal. 2.

[3] Muhammad Umer Chapra, Islam and The Economic Chalenge, diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin Basri dengan judul Islam dan Tantangan Ekonomi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hal. 3.

[4] Lihat Imamudin Yuliadi, Ekonomi Islam: Filosofi, Teori dan Implementasi, (Cet. II; Yogyakarta: LPPI UMY, 2007), hal. 72 – 73, dikutip dari Muhammad Anas Zarqa, “Methodology of Islamic Economics”, dalam Ausaf Ahmad, et.al., Lectures on Islamic Economics, (Jeddah: Islamic Research and Training Institute Islamic Development Bank, 1987), hal. 49.

[5] Abdul Mannan, Islamic Economics, Thery and Practice, yang diterjemahkan oleh M. Nastangin dengan judul Teori dan Praktek Ekonomi Islam, (Yoagyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), hal. 311.

[6] Veithzal Rivai dan Andi Buchari, Islamics Economics: Ekonomi Syariah Bukan OPSI tetapi SOLUSI !, (Cetakan Pertama, Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 219.

[7] Mehdi B. Razavi,  Dissertation: Modeling an Islamic Economic System: An interaction Delivery Matrix and Boolean Digraph Approach,  (Michigan: UMI, 1983), hal. 63, dikutip dari Achilles G. Theodorson and George A. Theodorson, A Modern Dictionary of Sociology, (New York: Thomas Y. Crowell Company, 1969), hal. 36.

[8] Veithzal Rivai dan Andi Buchari, op. cit., hal 220.

[9] Veithzal Rivai dan Andi Buchari, op. cit.

[10] Muhammad Umer Chapra, op. cit., hal. 17.

[11] Muhammad Umer Chapra, op. cit.

[12] Imamudin Yuliadi, op. cit., hal. 74.

[13] Mehdi B. Razavi,  ibid., hal 69, dikutip dari  Campbell R. McConnell, Economics, (New York: McGraw Hill Book Company, 1982), hal. 40. Lihat juga Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, (Yoagyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), hal. 312.

[14] Mehdi B. Razavi,  ibid., hal. 68.

[15] Veithzal Rivai dan Andi Buchari, op. cit., hal. 262.

[16]  Op. cit.

[17] Imamudin Yuliadi, op. cit., hal. 76.

[18] Imamudin Yuliadi, op. cit., hal. 77.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s