Perbandingan Sistem Ekonomi (Bagian III)

 karl-marx-adam-smith

Komunisme

Pada awanya komunisme muncul dari kebobrokan sistem ekonomi kapitalis. Aliran ekstrem yang muncul dengan tujuan yang sama dangan sistem ekonomi sosialis dan lebih bersifat gerakan ideologis dan mencoba mandobrak sistem kapitalis dan sistem lain yang telah mapan dengan tokohnya Karl Marx. Inti ajaran komunisme adalah produksi dan konsumsi secara bersama. Barang-barang dimiliki secara bersma dan di distribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota masyarakat.

Terdapat tiga doktrin pokok yang mendasari konsep umum komunisme. Yang pertama ialah doktrin tentang keadaan alam yang dalam berbagai bentuk mendominasi pemikiran zaman kuno dan dunia modern, dari zaman reanisans sampai pertengahan abad kesembilan belas. Doktrin ini pada hakikatnya bersifat utopia, rasionalis dan pasifistik. Doktrin kedua adalah Manichaeisme yang menganggap sejarah manusia sebagai suatu perlombaan yang tiada hentinya antara dua kekuasaan yang berdaulat―baik dan jahat, roh dan zat, terang dan gelap. Doktrin ketiga adalah Marxisme, atau teori ekonomi mengenai timbul dan berkembangnya tenaga produksi masyarakat kapitalis, kecenderungan kolektif yang terdapat di dalamnya dan kepentingan antagonistik dengan perjuangan kelas sebagai tenaga kekuatan manusia dalam peradaban. Kominisme merupakan suatu bagian integral mitos kuno zaman keemasan, idealisasi tingkat primitif oleh manusia beradab, suku “alami” sejarah manusia. Ia merupakan reaksi terhadap kerumitan yang tumbuh pada zaman peralihan.[1] Komunisme merupakan sebuah konsekuensi logis sekaligus cita-cita dalam bentuk praktis dari sosialisme, karena tokoh sosialisme Karl Marx ingin menjadikan masyarakat komunis yang sebenarnya melalui sosialisme yang diusungnya dengan perjuangan kelas sebagai gerakan utamanya.

Komunisme lebih ekstrem daripada sosialisme. Untuk memahami bagaimana mereka melaksanakan tugasnya, perlu diketahui tentang teori evolusi sosial mereka. Komunisme Marx yakin tentang penafsiran ekonomis atau materialis dari sejarah yaitu peristiwa ekonomi mendoinasi dalam mengendalikan kehidupan sosial dan politik. Marx menyebut sistem ekonomi masyarakat itu substruktur (unterbau) dan ia menyebut agama, hukum etika dan lembaga masyarakat lainnya adalah super-struktur (oberbau). Menurut Marx, analisis yang saksama mengenai suatu unsur superstruktur akan mengungkapkan pengaruh subsruktur sebagai faktor penentu. Agama dan moral dibuat oleh kelas yang berkuasa untuk memperkukuh kepentingan mereka sendiri. Karena itu agama dan etika yang hingga kini terdapat di kalangan umat manusia patut dicurigai. Ide kebenaran abadi dan keadilan sosial tidak punya tempat dalam kenyataan; hal itu diciptakan oleh kelas yang berkuasa untuk mengabadikan kekuasaan mereka. Penafsiran ekonomi Marx dapat dengan singkat dirangkum dalam lima prinsip: hukum konsentrasi, nilai surplus, perjuangan dua kelas, teori produksi berlebihan masa depresi dan revolusi sosial.[2]

Marx, seperti halnya pemikir sosial lainnya mencoba mendiagnosa kondisi manusia dalam masyarakat dan ingin mendapatkan resep penyembuhannya. Dalam proses ini ia menggunakan konsep kunci seperti alienasi, eksploitasi, nilai surplus, kepemilikan barang oleh swasta, perjuangan kelas, perbudakan upah dan determinasi ekonomi. Karena Marx sendiri bukan seorang penulis yang baik, maka konsep-konsep itu sukar dimengerti dan kabur.[3]

Konsep pokok dalam analisis Marx adalah “alienasi” atau “keterasingan” (estrangement), yang timbul dalam masyarakat kapitalis karena eksploitasi terhadap kaum proletariat (buruh) oleh kaum borjouis. Kaum proletar adalah para buruh pekerja industri yang tidak memiliki sarana produksi sendiri, karena itu mereka menjadi sasaran perbudakan upah dengan menjual tenaganya untuk sekedar hidup. Kaum borjuis adalah para kapitalis, pemilik sarana-sarana produksi. Padahal semua nilai ekonomi berasal darikaum proletar, tetapi mereka mendapatkan tidak lebih dari upah subsistence, yaitu upah yang hanya cukup untuk melanjutkan hidup dan melahirkan keturunan. Saldo (nilai surplus) tetap digenggam oleh kaum borjuis,  karena itu mereka menjadi kuat dan memojokkan kaum proletar kepada suatu keadaan perbudakan upah abadi. Proses ini akan memerosotkan martabat dan meberlakukan dehumanisasi pada kaum proletar sehingga menurunkan mereka menjadi potongan manusia (alienasi). Mereka akhirnya tidak mampu mengembangkan potensi kemanusiannya secara penuh. Eksploitasi ini menyebabkan pembagian masyarakat menjadi dua kelas antagonis dan meniupkan api peperangan kelas yang membentuk inti proses sejarah umat manusia. Umat manusia tidak bebas, mereka adalah bidak-bidak di atas papan catur sejarah. Nasib mereka ditentukan oleh konflik kepentingan ekonomi yang tidak dihindarkan dalam berbagai kelas masyarakat manusia (determinisme ekonomi).[4] Menurut Marx “tak ada yang disebut dengan fitrah manusia (individual human nature)”, yang mengacu pada suatu kumpulan karakteristik manusia secara umum dan pokok serta karenanya juga mengacu pada sesuatu yang secara definitif konstan atau tidak berubah.[5]

Perlu disadari bahwa ternyata konsep materialisme sejarah secara logika tidak mengizinkan adanya konsep fitrah manusia, padahal konsep alienasinya menuntut fitrah demikian sebab kalau tidak, tak akan ada kriteria di mana konsep alienasi dapat dipahami. Kedua konsep itu memang saling tidak konsisten, yang tidak diragukan lagi merupakan salah satu alasan adanya keluhan umum mengenai kekaburan dan inkonsistensi dalam tulisan-tulisan Marx.[6]

Dalam konsep nilai lebih (surplus) yang menyebabkan konflik dari kedua kelas, di mana para kaum proletariat yang tidak memiliki sarana dan alat produksi ingin merebut alat produksi dari para kapitalis atau kaum borjuis, sehingga akan terjadi sebuah revolusi. Kaum proletariat akan membentuk sebuah sistem baru dengan melucuti hak-hak kaum kapitalis. Menyusul tahap yang diketahui sebagai kediktatoran proletariat yaitu golongan minoritas yang cendekia―partai komunis―bagaimanapun juga mereka harus memegang kekuasaan dan memerintah negeri dengan tangan besi, sampai sosialisme berhasil diciptakan dan rakyat dididik menuju cita-citanya. Tahap kediktatoran akan memberi jalan kepada masyarakat sosialis, yang dianggap sebagai tahap komunisme paling rendah. Pada tingkat ini, semua alat produksi akan berada dalam tangan negara yang diperintah secara demokratis. Akhirnya masyarakat sosialis akan berkembang menjadi masyarakat komunis yang merupakan tahap komunisme yang paling tinggi, inilah cita-cita terakhir dari partai komunis. Bila tingkat ini tercapai, otoritas negara yang memaksa tidak lagi diperlukan. Negara akan “menghilang” karena ini akan terjadi masyarakat tanpa kelas. Kemudian berlakulah prinsip komunis yang berbunyi: “dari setiap orang menurut kemampuannya, kepada setiap orang menurut kebutuhannya”. [7]

Sepintas terlihat tujuan sosialis dan komunis sama tetapi di dalamnya sangat berbeda. Kominisme adalah bentuk paling ekstrem dari sosialis. Dalam sistem ini segala sesuatu harus dikomando. Negara merupakan penguasa mutlak, atau perekonomian sering disebut sebagai sistem ekonomi totaliter. Sistem ekonomi totaliter dalam praktiknya berubah menjadi sistem ekonomi otoriter, dimana sumber-sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir elite para penguasa partai komunis.

Dengan kata lain Komunisme adalah suatu sistem perekonomian di mana peran pemerintah sebagai pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian. Setiap orang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah. Semua unit bisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan pemerataan ekonomi dan kebersamaan. Namun tujuan sistem komunis tersebut belum pernah sampai ke tahap yang maju, sehingga banyak negara yang meninggalkan sistem komunisme tersebut.

Benito_Mussolini_and_Adolf_Hitler

2.      Fasisme

Fasisme (/ fæʃɪzəm /) adalah, gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter yang berusaha mobilisasi massa suatu bangsa dan terciptanya “manusia baru” yang ideal untuk membentuk suatu elit pemerintahan melalui indoktrinasi, pendidikan fisik, dan eugenika kebijakan keluarga termasuk. Fasis percaya bahwa bangsa memerlukan kepemimpinan yang kuat, identitas kolektif tunggal, dan akan dan kemampuan untuk melakukan kekerasan dan berperang untuk menjaga bangsa yang kuat. pemerintah Fasis melarang dan menekan oposisi terhadap negara. Fasisme didirikan oleh sindikalis nasional Italia dalam Perang Dunia I yang menggabungkan sayap kiri dan sayap kanan pandangan politik, tapi condong ke kanan di awal 1920-an. Para sarjana umumnya menganggap fasisme berada di paling kanan. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai memberikan perubahan positif dalam masyarakat, dalam memberikan renovasi spiritual, pendidikan, menanamkan sebuah keinginan untuk mendominasi dalam karakter orang, dan menciptakan persaudaraan nasional melalui dinas militer . Fasis kekerasan melihat dan perang sebagai tindakan yang menciptakan regenerasi semangat, nasional dan vitalitas. Fasisme adalah anti-komunisme, anti-demokratis, anti-individualis, anti-liberal, anti-parlemen, anti-konservatif, anti-borjuis dan anti-proletar, dan dalam banyak kasus anti-kapitalis Fasisme. menolak konsep-konsep egalitarianisme, materialisme, dan rasionalisme yang mendukung tindakan, disiplin, hirarki, semangat, dan keinginan. Dalam ilmu ekonomi, fasis menentang liberalisme (sebagai gerakan borjuis) dan Marxisme (sebagai sebuah gerakan proletar) untuk menjadi eksklusif ekonomi berbasis kelas gerakan Fasis ini. ideologi mereka seperti yang dilakukan oleh gerakan ekonomi trans-kelas yang mempromosikan menyelesaikan konflik kelas ekonomi untuk mengamankan solidaritas nasional Mereka mendukung, diatur multi-kelas, sistem ekonomi nasional yang terintegrasi.[8]

Fasisme muncul dari filsafat radikal yang muncul dari revolusi industri yakni sindikalisme. Eksponen sindikalisme adalah George Sorel (1847-1922). Para penganjur sindikalisme menginginkan reorganisasi masyarakat menjadi asosiasi-asosiasi yang mencakup seluruh industri atau sindikat-sindikat pekerja.dalam sistem ekonomi fasisme, pemerintah melakukan pengendalian dalam bidang produksi, sedangkan kekayaan dimiliki oleh puhka swasta.[9] Paham fasisme sangat memuja superioritas nasionalis, anti liberalis. Ciri –ciri khas dari fasisme adalah , antara lain : adanya sebuah ideologi yang sakral mendekati bahkan melampoui sifat agama. Dan contoh fasisme yang kita kenal misalnya Nazi- Hitler, jepang , Rezim Mussolini. Fasisme adalah suatu paham yang mengedepankan bangsa sendiri dan memandang rendah bangsa lain. Dengan kata lain, fasisme adalah suatu sikap nasionalisme yang berlebihan. Bagi kaum fasis, negara adalah mutlak, maka negara merupakan tujuan itu sendiri. Bagi mereka, segala sesuatu adalah untuk negara, tiada sesuatupun yang melawan negara dan tiada sesuatu pun di luar negara. Demikianlah negara menuntut melaksanakan dominasinya atas lembaga pendidikan, agama, ilmu dan kesenian. Adanya semua lemabaga dan kantor negara adalah untuk mengabdi pada negara. Semua kewajiban dan tugas individu adalah sumbangan untuk kekuasaan dan persatuan negara dan ia kehilangan identitas sepenuhnya di dalamnya. Satu-satunya hak yang dimiliki setiap individu adalah hak untuk membantu memperuat negara. Dengan kata lain, ia hanya memiliki hak pribadi sejauh hak ini tidak bertentangan dengan kebutuhan negara yang berdaulat.[10]

Filsafat ekonomi fasisme dituntun oleh filsafat dasar negara. Walaupun lembaga harta benda pribadi yang diancam oleh komunisme dilindungi, namun dalam praktiknya, kapitalisme laissez-faire yang liberal tradisional hampir seluruhnya lenyap dalam masa fasisme. Karena segala sesuatunya untuk negara, maka pengusaha swasta dinyatakan bertanggung jawab kepada negara untuk pimpinan yang diberikan kepada produksi. Bila prakarsa swasta tidak lagi efisien, maka campur tangan pemerintah diperkenankan.[11] Perlu disadari bahwa maksud utama kegiatan ekonomi dalam fasisme bukanlah tercapainya tingkat hidup setinggi mungkin tetapi bertambahnya kekuatan militer negara secara terus-menerus. Dengan mengemukakan hal ini sebagai tujuannya, negara fasis bekerja atas dasar ekonomi perang.


[1] Abdul Mannan, op. cit., hal. 323.

[2] Abdul Mannan, op. cit.

[3] Muhammad Umer Chapra, op. cit., hal. 72, dikutip dari  John Plamenatz, Karl Marx’s Philosophy of Man (1975), hal. 11-13.

[4] Muhammad Umer Chapra, op. cit., hal. 72.

[5] Muhammad Umer Chapra, op. cit., hal. 73, dikutip dari John Plamenatz, Karl Marx’s Philosophy of Man (1975), hal. 37-38.

[6] Muhammad Umer Chapra, op. cit.

[7] Abdul Mannan, op. cit., hal. 324.

[9] Veithzal Rivai dan Andi Buchari, op. cit., hal. 224.

[10] Abdul Mannan, op. cit., hal. 330.

[11] Abdul Mannan, op. cit., hal. 331

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s