Perbandingan Sistem Ekonomi (Bagian IV)

ekis Sistem Ekonomi Islam

Depresi ekonomi di berbagai negara maju tak bisa terelakkan. Dampak krisis yang akan selalu mengantui negara-negara yang menerapkan sistem kapitalisme, kemudian dengan runtuhnya negara Uni Soviet yang dianggap sebagai negara besar yang menerapan sistem sosialisme dalam perekonomiannya pun tak luput dari keruntuhan sistem sosialisme. Ini menunjukkan bahwa sistem-sistem yang pernah ada sebelumnya belum mampu untuk bertahan dalam waktu yang lama―kalaupun ada itu sudah tidak murni―kecuali sudah dimodifikasi sedemikian rupa seperti sistem kapitalisme yang sudah tidak lagi berpedoman kepada prinsip laissez-faire―sebagaimana pada awalnya dikumandangkan. Kapitalisme dengan self-interest nya yang merupakan sebuah konsep untuk menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Akan muncul tangan-tangan gaib yang kekuatan-kekutan pasar melalui batas-batas kompetisi akan mendorong kepentingan masyarakat, sehingga  menuju sebuah keharmonisan kepentingan individu dan umum. Tetapi dalam faktanya, semua yang diharapkan akan kehermonisan ekonomi tidak semaunya berasil sesusai dengan apa yang dinginkan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak dibarengi dengan pengahpusan kemiskinan atau pemenuhan kebutuhan pokok bagi setipa orang; ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan justru meningkat tajam. Pengagguran yang tinggi dan juga ketidaksabilan ekonomi menambah kesulitan pada rakyat miskin. Sistem sosialisme juga tak luput dari ketidaksuksesan mencapai tujuannya. Pemerataan yang dimimpikan tak kunjung terwujud, kaum buruh pada kenyataan praktisnya tidak bisa memiliki hak milik tetap sebagai buruh yang tidak memiliki faktor produksi. Perbudakan upah yang ingin dihapuskan, kian semakin tumbuh subur; para buruh dihadpakan dengan ketidakadaaan kebebasan untuk memilih majikan―tidak seperti dalam sistem kapitalis. Mimipi bahwa negara akan lenyap  tidak menjadi sebuah kenyataan yang mampu diwujudkan oleh sistem sosialis, malahan negara lebih  berkuasa dan berfungsi sebagai instrumen penindasan. Karena itu patut dipertanyakan, apa yang mereka peroleh dari revolusi Marxis? Apakah pendapatan mereka meningkat? Mengapa negara kapitalis lebih tinggi pertumbuhan dan kesejahterann ekonominya daripada Soviet?

Dengan adanya berbagai permasalahn ekonomi yang terjadi di dunia yang diakibatkan oleh sistem-sistem ekonomi sebelumnya yang belum mampu menghapuskan persoalan-persoalan ekonomi seperti pemerataan, pengangguran, inflasi dan lain-lain. Islam menawarkan sebuah sistem ekonomi yang dewasa ini sudah mampu menarik perhatian para ekonom non-muslim untuk mendalami sistem ini, dengan harapan mampu mengatasi krisis dan segala permasalahn yang belum mampu teratasi oleh sistem sebelumnya.

Secara filosofis sistem ekonomi islam adalah sebuah sistem yang dibangun di atas nilai-nilai islam dengan prinsip tauhid dan keadilan dan sistem ekonomi islam menjamin keselarasan antara pertumbuhan ekonomi. Bahasan dari tujuan sistem ekonomi islam menunjukan bahwa kesehjateraan materiil berdasar padapada dasar yang tidak tergoyahkan bagi nilai-nilai ruhani yang mendasari suatu hal yang dibutuhkan pada ekonomi islam. Sistem ekonomi islam secara pasang surut didedikasikaan kepada persaudaraan manusia yang ditemani oleh keadilan sosial, ekonomi, dan distribusi pendapatan yang patut, serta kepada kebebasan individu dalam konteks kesehjateraan sosial. Komitmen islam pada kebebasan individu berkarakteritik tajam jika dibandingkan dengan sosialisme atau sistem manapun yang menghapuskan kebebasan individu. Persetujuan bebas dan timbal balik yang menyangkut pembeli dan penjual menurut hukum islam adalah suatu kondisi yang perlu untuk transaksi bisnis manapun. Tiga prinsip fundamental : [1]

Tauhid (Keesaan Tuhan)

Batu fondasi keimanan Islam adalah tauhid (keesaan Tuhan). Pada konsep ini bermuara semua pandagan dunia dan strateginya. Segala sesuatu yang lain secara logika bermuara di sini. Tauhid mengandung arti bahwa alam semesta didesain dan diciptakan secara sadar oleh Tuhan yang Maha Kuasa, yang bersifat esa dan ia tidak kebetulan atau aksiden. (Ali-Imran:191; Shad: 27; dan Al-mu’minun: 15). Segala sesuatu yang diciptakanNYA mempunyai tujuan. Tujuan inilah yang memberikan arti dan signifiasi bagi eksistensi jagat raya di mana manusia menjadi bagian di dalamnya.

Khilafah (Perwakilan)

Manusia adalah khalifah-Nya atau wakil-Nya di bumi (al-baqarah:30; al-An’aam: 165; Faathir: 39; Shaad: 28 dan al-Hadiid: 7). Ia telah dibekali dengan semua karakteristik mental dan spiritual serta materiil untuk memungkinkannya hidup dan mengemban misinya secara efektif.

Sumber-sumber daya yang disediakan oleh Tuhan di dunia ini tidak tak terbatas. Akan tetapi, sumber-sumber daya itu akan mencukupi bagi pemenuhan kebahagiaan manusia seluruhnya, hanya jika dipergunakan secara “efisien” dan adil. Manusia bebas memilih antara berbagai penggunaan alternatif sumber daya ini, maka ujian riil bagi manusia adalah bagaimana menggunakan sumber daya yang telah dikaruniakan Tuhan ini dengna cara yang “efisien” dan adil, sehingga kemakmuran bagi seluruh manusia di bumi Allah ini bisa terwujud. Konsep tauhid dan khilafah secara inheren bertentangan dengan konsep “dosa asal” atau “bidak di atas papan catur” atau “tabula rasa” atau “dikutuk karena kebebasannya”. Gagasan menganai dosa asal mengandung pengertian bahwa dosa itu dapat disalurkan secara genetik dan setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini sudah tertular oleh kegagalan dan dosa orang lain. Lebih lanjut, jika manusia “dilahirkan dalam keadaan berdosa”, bagaimana ia harus bertaanggung jawab terhadap perbuatannya? Dengan demikian maka konsep “dosa asal” sangat bertentangan dengan tanggung jawab individu terhadap semua perbuatannya yang ditekankan oleh Al-qur’an (Al-An’am: 164; al-Isra’: 15; Faathir: 18; az-Zumar: 38; dan an-Najm: 38).

Konsep-konsep di atas sangat berbdeda konsep khilafah yang memandang manusia mempunyai status terhomat dan mulia dalam jagat raya (al-Isra’: 70) dan memberikan nilai dan misi kepada kehidupan manusia. Misi mereka adalah untuk bertidak sesuai denga ajaran-ajaran Tuhan, meskipun mereka dalam keadaan bebas. Inilah yang dikandung oleh pengertian ibadah atau persembahan (Ad-dzariyat: 56) dalam pengertian Islam, suatu kewajiban perorangan terhadap orang lain (huququl ‘ibad), mendorong kemakmuran dan mengaktualisasikan maqashid.

‘Adalah (Keadilan)

Persaudaraan merupakan bagian integral dari konsep tauhid dan khilafah akan tetap menjadi konsep kosong yang tidak memiliki substansi, jika tidak dibarengi dengan keadilan sosio-ekonomi. Keadilan telh dipandang oleh para fuqaha sebagai isi pokok maqashid syari’ah, sehingga mustahil melihat sebuah masyarakat muslim, yang tidak menegakkan keadilan di dalamnya. Islam tegas sekali dalam menegakkan tujuannya menghapuskan semua bentuk kezaliman (zulm) dari masyarakat manusia, yang merupakan istilah komprehensih islam untuk mengacu semua bentuk ketidakadilan, eksploitasi, penindasan dan kekliruan, sehingga seseoang menjauhkan hak orang lain atau tidak memenuhi kewajibannya terhadap mereka.

Sistem ekonomi islam memilki empet sifat diantaranya adalah:

  1. Keseimbangan (equilibrium)
  2. Kebebasan (free will)
  3. Tanggung jawab (responsibility)

Selain empat sisfat dari sistem ekomomi islam. Sistem ekonomi islam juga mempunyai prinsip dasar seperti sistem ekonomi yang lain dan prinsip dasar tersebat adalah:[2]

  1. Kebebasan individu. Individu mempunyai hak kebebasan sepenuhnya untuk berpendapat atau membuat suatu keputusan yang dianggap perlu dalam sebuah negara islam. Karena tanpa kebebasan tersebut individu muslim tidak dapat melaksanakan kewajiban mendasar dan penting dalam menikmati kesehjateraan dan menghindariterjadinya kekacauan dalam masyarakat.
  2. Hak terhadap harta. Islam mengakui hak individu untuk memiliki harta. Walauoun begitu islam memberi batasan tertentu agar kebebasan itutak merugikan masyarakat umum.
  3. Ketidaksamaan ekonomi dalam batas wajar. Islam mengakui adanya ketidakasamaan ekonomi antara orang perorang, tapi tidak membiarkanya menjadi bertambah luas, dan islammenjadikan perbedaan tersebut dalam batas-batas yang wajar.
  4. Kesamaan sosial islam tidak menganjurkan kesammaan ekonomi, tetapi mendukung dan menggalakan kesamaan sosial sehingga sampai tahap bahwa kekayaan negara yang dimiliki tidak hanya dinikmati oleh sekelompok tertentu di dalam masyarakat saja.
  5. Jaminan sosisal setiap individu memounyai hak untuk hidup dalam suatu negara islam, dan setiap warga negara dijamin untuk memperoleh kebutuhan pokoknya masing-masing.
  6. Distribusi kekayaan secara meluas. Islam mencegah mengumpulkan kekayaan pada klompok kecil tertentu orang dan menganjurkan distribusi kekayaan pada semua lapisan masyarakat.
  7. Kesehjateraan individu. Islam mengakui kesehjateraan individu dan kesehjateraan sosial masyarakat yang saling melengkapi satu dengan yang lain, bukan saling bersaing dan bertentangan dengan mereka. Maka sistem ekonomi islam mencoba membedakan konflik ini sehingga terwujud kemanfaatan bersama.

Kesimpulan

Berbagai ulasan dan penejelasan mengenai sistem-sistem ekonomi yang ada di dunia ini, pada bagian ini merupakan point-point penting yang paling tidak membantu memberikan perbandingan antar semua sistem yang telah lalu penjelasannya.  Berikut merupakan perbedaan asumsi dasar dari ketiga sistem ekonomi mainstream :

Sistem Asumsi dasar Kepedulian utama
Kapitalis Manusia Ekonomi yang telah domotifasi oleh kepentingan pribadi dan maksimisasi keuntungan, diasumsisakn sangat individualistik dan kompetitif Imperatif – imperatif ekonomi : kebutuhan-kebutuhan dan politik tersubordinasi dibawah kebutuhan ekonomi.
Sosialis Negara yang dipandu oleh keyakinan akan kurangnya keharmonisan kepentingan, konflik kelas dan materialisme historis berada pada posisi terbaik untuk mengetahui pilihan dan kebijakan yang bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan Impiratif-imperatif politis :

Kebutuhan sosial dan ekonomi berada dibawah suberbinasi kebutuhan-kebutuhan politik

Islam Mensyaratkan keberadaan manusia islam : evolusi kesadaran islam dan perwujudan yang konsekuen pada relasi produksi islami. Manusia islam diasumsikan sebgai pemaksimisasi ekonomi dengan kendala etik dan moral dari syariah dianggap sebagai individualis kooperatif dan bertanggung jawab secara sosial. Etika dan moral : kebutuhan” ekonomi sosial dan politik yang terpadu berada dalam suberdinasi impratif keyakinan syariah islam.

Sumber: Muhammad Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi Sebuah Tinajauan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 112.

ekis1


[1]  Lihat Muhammad Umer Chapra, op. cit., hal. 204-211.

[2] Imamudin Yuliadi, op. cit., hal. 84, dikutip dari  Mashudul Alam Choudury, Contributions to Islamic Economic Theory, (London: MacMillan,1986), hal. 131.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s