Hidden Momentum di Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat

over-population-_ 

Arif Widodo

Abstract

There are many problems faced by less deceloping countries. Poverty, population growth, unemployment and so on, according to Economic Development there are the most problems in the Third World. This paper gives the explanation about one of them,that is population. High rate of population caused a new problems after that, will be discussed also the comparison between developed and less developing country in both of demography also Hidden Momentum of population growth in Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Keywords: less developing country, Hidden Momentum, population growth

 

Pendahuluan

Negara dunia Ketiga akan selalu menjadi pokok pembahasan dalam studi ilmu Ekonomi Pembangunan. Ekonomi pembangunan tidak kurang dan tidak lebih adalah sebuah ilmu ekonomi khusus mengenai negara-negara Dunia Ketiga yang rata-rata masih miskin dan terbelakang. Cara yang paling umum dalam mendefinisikan negara-negara berkembang adalah dengan menggunakan pendapatan per kapita, rendahnya pendapatan per kapita akan berdampak pada standar hidup yang relatif rendah. Berbagai data statistik yang banyak dipublikasikan mengenai standar hidup negara dunia ketiga menunjukkan bahwa rendahnya standar hidup dilihat dari pendapatan per kapita yang rendah, perumahan yang kumuh, kesehatan yang buruk, pendidikan yang minimum, angka kematian bayi yang tinggi.

Kemiskinan yang tinggi terjadi pada hampir seluruh negara sedang berkembang, distribusi pemdapatan yang kurang merata sehingga terjadi kesenjangan yang amat nyata antara si miskin dan si kaya menjadikan pengaruh buruk pada kesehatan si miskin. Selian harus bekerja keras mereka juga harus melawan kekurangan gizi, penyakit dan kesehatan yang buruk. Sehingga tingkat kematian bayi pun akan semakin tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju.

Di negara-negara sedang berkembang, tingkat kelahiran pada umumnya sangat tinggi yaitu berkisar 30-40 untuk setiap 1000 penduduk, sedangkan di negara maju kurang dari setengahnya. Selain kemiskinan, pendapatan yang rendah, kesehatan yang buruk juga ada permasalahan yang lain yaitu tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi di negara sedang berkembang membuat permasalahan semakin kompleks harus dihadapi oleh negara berkembang ditambah dengan tingkat kematian yang juga tinggi jika dibandingkan dengan negara maju lainnya.

Dalam makalah singkat ini, akan menjelaskan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh negara berkembang terkait masalah pertumbuhan penduduk tetapi lebih spesifik yaitu salah satu provinsi yang ada di Indonesia, Nusa Tenggara Barat. Akan dijelaskan pula pola demografi atau piramida penduduk pada negara maju dibandingkan negara berkembang, selain itu juga akan dipaparkan mengenai piramida penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang kemudian akan dikorelasikan dengan permasalahan yang mungkin muncul.

Pola Umum Demografi: Negara Maju dan Negara Berkembang

Salah satu aspek pertumbuhan penduduk yang paling sulit dipahami adalah kecenderungannya untuk terus menerus mengalami peningkatan yang tidak terhentikan sekalipun tingkat kelahiran telah mengalami penurunan yang pesat. Pertumbuhan penduduk mempunyai kecenderungan untuk terus melaju.[1]

Dalam bagian ini, akan dipaparkan terkait dengan pola demografi atau piramida penduduk secara umum yang nantinya akan bisa menjelaskan—dengan piramida penduduk—perbedaan mendasar jumlah penduduk yang ada pada negara maju dan penduduk negara berkembang.

Negara Berkembang

Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, negara berkembang mempunyai bentuk piramida seperti limas dimana bagian bawah terlihat besar kemudian semkin ke atas semakin mengecil. Setiap piramida dibagi berdasarkan interval usia, baik  pria maupun wanita. Jumlah penduduk masing-masing kelompok umur diukur pada sumbu horisontal.

Bentuk piramida pada negara berkembang atau negara dunia ketiga menunjukkan jumlah penduduk usia muda yang lebih banyak dari pada usia dewaa maupun usia tua, sehingga pertumbuhan penduduknya sangat tinggi. Misalnya: Indonesia, Fhilipina, Nigeria, Mesir, Brazil.

images

Gambar (a) negara berkembang

Dapat kita lihat bahwa pola demografi atau piramida penduduk di negara berkembang semakin ke atas semakin mengerucut. Dari gambar tersebut juga kita bisa menyimpulkan bahwa sebagian besar berada pada kelompok penduduk muda dan melihat sebaliknya kelompok usia tua jumlahnya semakin sedikit. Selain itu tingkat kelahiran bayi yang tinggi terlihat dari piramida tersebut (bagian paling bawah) tetapi juga dibarengi dengan tingkat kematian yang tinggi, menandakan bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi sesuai dengan ciri dan karakteristik negara sedang berkembang.

Negara Maju

Berbeda dari negara berkembang, negara maju dengan pertumbuhan penduduk yang rendah, negara maju mempunyai bentuk piramida yang berbeda tidak berbentuk limas layaknya pada negara berkembang tetapi berbentuk granat.

Bentuk piramida yang menunjukkan jumlah usia muda hampir sama dengan usia dewasa, sehingga pertumbuhan penduduk sangat kecil, contohnya: Amerika Serikat, Belanda, Norwegia, Finlandia. Penduduk di negara maju mempunyai pertumbuhan yang rendah sehingga jumlah penduduk pada tiap kelompok umur hampir sama dari usia bayi hingga usia tua.

piramida - Copy

Gambar (b) negara maju

Dapat kilta lihat bahwa pola demografi atau piramida penduduk di negara meju bagian bawah hampir sama dengan bagian atas ini menunjukkan tingkat kelahiran yang rendah begitu juga tingkat kematian yang rendah. Ini sangat berbeda jika kita melihat dari pola demografi negara sedangn berkembang, oertumbuhan oenduduk pada negara maju mendekati nol atau bisa dikatakan lambat.

 

Pola Demografi Provinsi Nusa Tenggara Barat

Setelah mengetahui tentang pola pirmaida penduduk dari negara maju dan negara berkembang, sekarang kita mencoba melihat pola pertumbuhan penduduk dari Provinsi Nusa Tenggara Barat yang akan digambarkan dengan piramida penduduk.

Dari piramida penduduk Provinsi NTB, akan terlihat nantinya kecocokan piramida tersebut dengan negara berkembang yang bentuknya seperti limas ataupun pola negara maju yang pirmamida berpola granat.

Untitled

Gambar (c) Provinsi NTB

Dari pola piramida Provinsi Nusa Tenggara Barat, kita bisa melihat bahwa pola di atas lebih cocok dengan pola piramida negara sedang berkembang—seperti yang telah dibahas sebelumnya. Kita juga bisa melihat bahwa penduduk umur 0-4 tahun terlihat besar dengan jumlah hampir 500.000 (laki-laki + perempuan), ini menunjukkan bahwa Provinsi NTB mempunyai tingkat kelahiran yang tinggi. Jika diamati lebih cermat semakin ke atas semakin mengecil yang artinya selain punya tingkat pertumbuhan yang tinggi juga mempunyai tingkat kematian yang tinggi pula.

Todaro[2] mendefinisikan rasio ketergantungan pemuda sebagai perbandingan antara pemuda berusia di bawah 15 tahun yang tentunya belum memiliki pendapatan sendiri, dengan orang-orang dewasa yang aktif atau produktif secara ekonomis berusia 15 hingga 64 tahun—sangat tinggi. Selaras dengan apa yang didefinisian oleh Todaro, Provinsi NTB juga memiliki rasio ketergantungan yang artinya penduduk produktif di NTB harus menanggung beban hidup anak-anak mereka yang belum produktif. Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah 55,52. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 56 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 51,52 sementara di daerah perdesaan 58,52.[3]

Secara umum dapat diakatakan bahwa semakin cepat laju pertumbuhan penduduk, maka akan semakin besar pula proporsi penduduk berusia muda yang belum produktif dalam populasi total dan semakin berat pula beban tanggungan penduduk yang produktif.[4]

Prediksi Demografi: Adakah Fenomena Hidden Momentum di NTB ?

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya mengenai fenomena ketergantungan penduduk berusia muda di provinsi NTB yang selanjutnya akan menimbulkan konsep lain yang tidak kalah pentingnya, yakni apa yang disebut dengan Hidden Momentum Pertumbuhan Penduduk.

Pertumbuhan penduduk terus melaju, seolah-olah laju pertumbuhan penduduk mengandung suatu daya gerak (momentum) internal yang kuat dan tersembunyi. Dalam kasus pertumbuhan penduduk, daya gerak tersebut agaknya akan berlangsung terus-menerus sampai beberapa dekade kemudian setelah angka kelahiran mengalami penurunan yang cukup berarti.[5]

Ada dua alasan pokok yang melatarbelakangi keberadaan daya gerak tersembunyi ini. Pertama, tingkat kelahiran ini sendiri tidak mungkin diturunkan hanya dalam waktu singkat. Berdasarkan pengalaman negara-negara Eropa di masa lampau, penurunan tingkat kelahiran secara berarti memerlukan waktu yang tidak singkat. Itulah sebabnya, meskipun negara-negara berkembang menetapkan upaya-upaya untuk meredakan laju pertumbuhan penduduk sebagai prioritas utama, mereka tidak akan memperoleh hasilnya dengan segera. Kedua, berkaitan dengan struktur usia penduduk di negara-negara berkembang.

Prediksi dari pola piramida Provinsi Nusa Tenggara Barat, akan terjadi hidden momentum sebagaimana kebanyakan terjadi di negara berkembang.  Misalkan pendapatan penduduk naik ini akan mempengaruhi kesehatan yang semakin membaik  sehingga dapat diperkiarakan bahwa bayi yang jumlahnya besar di NTB akan terus hidup karena kesehatan yang membaik. Ini mengakibatkan apa yang disebut Hidden Momentum pertumbuhan penduduk yang mana jumlah penduduk akan semakin meledak dan bertambah besar.

Dengan adanya hidden momentum tersebut, misalkan pemerintah pusat melalui pemerintah daerah NTB akan mencanangkan program Keluarga Berencana (KB)—masing-masing pasutri mempunyai dua anak saja. Program tersebut akan mengalami banyak kendala karena walaupun sudah ada program KB tetapi pertambahan penduduk akan terus meningkat sejalan dengan membaiknya kesehatan.

Persoalan yang akan Muncul

Masalah pendidikan, dengan adanya pertambahan penduduk yang semakin lama semakin naik, pemerintah Provinsi NTB mempunyai tugas yang lebih banyak untuk memberikan tambahan fasilitas pendidikan, misalkan pendirian sekolah baru. Penambahan sekolah baru pun harus dibarengi juga dengan penambahan guru baru, penambahan guru baru pun akan semakin membebani anggaran belanja pegawai untuk gaji para guru. Apabila pemerintah tidak menjalankan hal tersebut atau tidak meyediakan fasilitas tambahan pendidikan maka penduduk dan calon penduduk baru akan semakin jauh dari pendidikan, akibatnya buta huruf akan lebih banyak lagi.

Kesehatan juga menjadi hal yang patut untuk diperhatikan dalam kaitannya dengan pertumbuhan penduduk. Kesehatan yang buruk akan berpengaruh buruk terhadap penduduk pada umumnya dan bayi pada khususnya yang juga membutuhkan layanan kesehatan yang baik. Pemerintah—dengan adanya pertumbuhan—diharuskan juga untuk menambah layanan kesehatan yang lebih baik misalkan dengan membangun Puskesmas baru. Tentu saja pembangunan Puskesmas ini membutuhkan tenaga medis tambahan. Jika ini tidak terpenuhi maka akan ada peningkatan tingkat kematian bayi dikarenakan buruknya kesehatan dan gizi yang diterima masyarakat.

Pertumbuhan penduduk juga akan berpengaruh pada tingkat pengangguran. Pertumbuhan yang terus menerus naik sedangkan lapangan pekerjaan tidak mamou untuk menampung penawaran akan tenaga kerja yang semakin tinggi setiap tahunnya. Maka, pengangguran akan semakin naik angkanya. Semakin banyaknya pengangguran juga tidak baik jika dibiarkan terus menerus bagi perekonomian nasioanal, harus ada upaya khusus dari pemerintah pusat maupun daerah terkait dengan pertambahan penduduk yang juga akan menimbulkan efek negatif yaitu pertambahan tingkat pengangguran yang terjadi di Provinsi NTB.

Permasalahan-permasalahan di atas jika tidak dicermati dan ditangani secara serius akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi dan bahkan akan terjadi persoalan yang bersifat multidimensi. Persoalan yang akan menyerang berbagai dimensi baik dalam level yang sifatnya mikro ataupun makro.

Referensi

Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development, Ninth Edition, diterjemahkan oleh Haris Munandar dengan judul Pembangunan Ekonomi, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006).

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=5200000000&wilayah=Nusa-Tenggara-Barat, diakses pada 9 April 2013.


[1] Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development, Ninth Edition, diterjemahkan oleh Haris Munandar dengan judul Pembangunan Ekonomi, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hal. 323.

[2] Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development, ibid., hal. 322

[4] Ibid.

[5] Ibid., hal. 323.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s