REVIEW “MAKALAH MENUJU KAPITALISME RELIGIUS Iggi Haruman Achisen”

capitalism1

Arif Widodo

Pendahuluan

Kapitalisme adalah istilah yang dipakai untuk menamai sistem ekonomi yang mendominasi dunia barat sejak runtuhnya feodalisme. Sebagai dasar pada setiap sistem, ialah hubungan-hubungan diantara para pemilik pribadi atas alat-alat produksi yang bersifat non-pribadi (tanah, tambang, instalasi industri dan sebagainya, yang secara keseluruhan disebut modal atau kapital) dengan para pekerja yang biarpun bebas namun tak punya modal yang menjual jasa tenaga kerjanya kepada para majikan.[1]

Sistem kapitalisme seolah telah menjadi ‘agama’ baru yang dianut oleh para ekonom-ekonom di negara-negara maju dan bahkan sudah banyak negara-negara berkembang yang menerapkannya dalam kehidupan ekonomi negara mereka. Kekuatan sistem kapitalisme yang begitu menghegemoni semua bangsa di belahan bumi ini. Banyak kalangan beranggapan sistem kapitalisme dan revolusi industri yang dilahirkannya adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada umat manusia. Diklaim bahwa di negara mana pun yang menerapkan kapitalisme, kekayaan nasionalnya akan meningkat dan level kemiskinannya akan turun.

Negara-negara yang menolak atau tidak menerapkan sistem kapitalisme dipercaya akan tetap miskin dan tak mampu berkembang. Kapitalisme dipandang mampu memberi jalan untuk keluar dari kemiskinan karena memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk menjadi wirausaha dan kaya karenanya. Sebuah pola pikir yang mensyaratkan usaha keras dan persaingan tanpa batas untuk menjadi yang terbaik. Memberi keberhasilan yang sangat “bernilai” bagi yang sukses, tetapi membuat keterpurukan yang parah bagi yang gagal.

Sistem yang begitu diagung-agungkan sebagai sistem yang mampu mensejahterakan kehidupan ekonomi dunia setelah robohnya sistem sosialisme yang digagas oleh Karl Mark dan sistem dimana Adam Smith dengan bukunya yang sangat masyhur the Wealth of Nations dijadikan bapak dari kapitalisme, yang  pada akhirnya mengalami banyak kebobrokan dalam kehidupan ekonomi dunia saat ini.[2] Dengan keberhasilan kapitalisme inilah, ada beberapa penggagas ‘brand’ baru dengan menamakan Kapitalisme Religius.

Dalam tulisan Iggi Haruman Achisen yang berjudul “Menuju Kapitalisme Religius?”, Iggi ingin menawarkan sebuah konsep baru yang—secara substansial tidak jauh berbeda dengan Ekonomi Islam—tentang sistem ekonomi yang mempunyai keterpaduan antara positive dan normative. Dengan mencoba melihat kembali pemikiran dari tokoh ekonomi Barat yang disebutnya telah membahas tentang hubungan antara kapitalisme dan agama seperti Pemikiran Thomas Aquinas yang juga tokoh pemikiran kaum skolastik serta Max Weber. Mereka berdua dianggap sebagai representasi dari ajaran Kristen. Sedangkan untuk tokoh Islam yang pemikirannya tentang sistem ekonomi erat dengan semangat religius, seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Khaldun, untuk pemikir modern Syed Nawab Haider Naqwi dan Masudul Alam Choudury.

Dalam tulisan kecil ini, penulis ingin memberikan pandangan terhadap gagasan Kapitalisme Religius serta beberapa pemikiran yang dianggap merepresentasikan gagasan-gagasan tentang ekonomi yang dijiwai oleh ajaran agama. Dengan mencoba melihat dari sejarah pemikiran ekonomi, penulis ingin menjelaskan lebih dalam tentang sumber pemikiran dari tokoh Kapitalisme Religius sebagaimana ditulis Iggi Haruman Achisen.

Pandangan tentang Kapitlaisme Religius

Pandangan tentang kapitalisme religius yang didefinisikan sebagai sebuah free market enterprise system dimana aktivitas ekonomi para pelakunya – yang meliputi produksi, alokasi, konsumsi, dan distribusi kekayaan- dituntun oleh etika, moral, dan semangat keagamaan.

Dari definisi di atas, paling tidak ada dua kunci utama: pertama, free market enterprise system yang berarti bahwa sistem dengan mekanisme pasar bebas. Kedua, dituntun oleh etika, moral, dan semangat keagamaan yang berarti sistem pasar bebas harus dijalankan oleh para pelaku ekonomi dengan dituntun oleh etika, semangat keagamaan dan moral, sehingga pada kegiatan produksi, alokasi, konsumsi, dan distribusi bisa berjalan dengan adil karena didasarkan pada semangat moral ddan keagamaan.

Kapitalisme religius sebenarnya hanyalah persoalan ‘simbol’ atau ‘brand’ baru, penekanan yang terjadi adalah pada satu sistem ekonomi yaitu Kapitalisme. Dalam ajaran agama Kristen (Protestan), sebagaimana ditulis oleh Max Weber dalam Protestant Ethics and The Raise of Capitalism, agama adalah sumber dari pemikiran tentang ekonomi. Kristen (Protestan), menurut Weber telah mampu memberikan gambaran hubungan agama dengan kehidupan ekonomi yang maju dibandingkan dengan Katolik yang lebih dominan pada ajaran agama yang menekankan pada kehidupan spiritual daripada kehidupan duniawi yang serba material. Karena eratnya hubungan antara Kristen (Protestan) dengan kapitalisme maka digagaslah kembali pemikiran tentang Kapitalisme Religius.

Lebih lanjut, selain dari pemikiran tokoh-tokoh Kristen, kapitalisme religius—seperti yang ditulis Iggi—juga ingin menjadikan pemikiran ulama’ muslim (dalam permasalahan ekonomi) sebagai suntikan keagamaan bagi kapitalisme religius. Pemikiran dari ulama’ muslim diantaranya: Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Khaldun mempunyai kesamaan visi dengan pada pemikir Kristen—Aquinas, Max Weber. Padahal jika melihat pada sejarah pemikiran, itu semua akan mengerucut pada pemikiran ulama’ muslim yang telah banyak diadopsi—bahkan ‘dicuri’—oleh kebanyakan pemikir Barat.

Melihat (Kembali) Sejarah Pemikiran

Dalam literatur Islam, sangat jarang ditemukan tulisan tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam atau sejarah ekonomi Islam. Buku-buku sejarah Islam atau sejarah peradaban Islam sekalipun tidak menyentuh sejarah pemikiran ekonomi Islam klasik. Buku-buku sejarah Islam lebih dominan bermuatan sejarah politik.

Kajian yang khusus tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam adalah tulisan Muhammad Nejatullah Ash-Shiddiqi yang berjudul, Muslim Economic Thinking, A Survey of Contemporary Literature , dan Artikelnya berjudul History of Islamic Economics Thought . Buku dan artikel tersebut ditulis pada tahun 1976. Paparannya tentang studi historis ini lebih banyak bersifat diskriptif. Ia belum melakukan analisa kritik, khususnya terhadap “kejahatan” intelektual yang dilakukan ilmuwan Barat yang menyembunyikan peranan ilmuwan Islam dalam mengembangkan pemikiran ekonomi, sehingga kontribusi pemikiran ekonomi Islam tidak begitu terlihat pengaruhnya terhadap ekonomi modern.[3] Tetapi, Abdul Azim Islahi dalam bukunya Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought an Analysis (11-905 A.H./632-1500 A.D.) telah banyak memaparkan tentang pemikiran-pemikiran ulama’ muslim serta ‘kejahatan inteletual’ dengan mencuri pemikiran tersebut.

Kontribusi kaum muslimin yang sangat besar terhadap kelangsungan dan perkembangan pemikiran ekonomi pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya, telah diabaikan oleh para ilmuwan barat. Buku-buku teks ekonomi barat hampir tidak pernah tidak menyebutkan peranan kaum muslimin ini. Menurut Chapra, meskipun sebagian kesalahan terletak di tangan umat Islam karena tidak mengartikulasikan secara memadai kontribusi kaum muslimin namun barat memiliki andil dalam hal ini, karena tidak memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi peradaban lain bagi kemajuan pengetahuan manusia.[4]

Para sejarawan barat telah menulis sejarah ekonomi dengan sebuah asumsi bahwa periode antara Yunani dan Skolastik adalah steril dan tidak produktif. Sebagai contoh, sejarawan sekaligus ekonom terkemuka, Joseph Schumpeter sama sekali menagabaikan peranan kaum muslimin. Ia membuat penulisan sejarah ekonominya dari para filosof Yunani dan langsung melakukan loncatan jauh selama 500 tahun, dikenal sebagai The Great Gap,ke zaman St. Thomas Aquinas (1225-1274 M).[5] Sejarah pengetahuan tidaklah dibangun dari satu generasi, melainkan dari proses yang panjang dan berkesinambungan dibangun di atas fondasi para pemikir sebelumnya. Dan barat tidak menyadari akan hal ini, selalu saja mengubur dalam-dalam kontribusi yang diberikan oleh para pemikir Islam dan akhirnya melakukan penulisan sejarah yang di dalamnya terdapat kesenjangan selama 500 tahun. Sebalinya, para pemikir muslim tidaklah begitu saja melupakan jasa-jasa dari para pemikir Yunani, Persia, Cina dan India. Cendekiawan muslim belajar dari ilmu-ilmu mereka kemudian diambil dari ilmu tersebut yang memang tidak bertentangan dengan landasan dasar Islam.

Dalam tiga dekade belakangan ini, kajian dan penelitian ekonomi Islam kembali berkembang. Berbagai forum internasional tentang ekonomi Islam telah sering dan banyak digelar di berbagai negara, seperti konferensi, seminar, simposium, dan workshop. Puluhan para doktor dan profesor ekonomi Islam yang ahli dalam ekonomi konvensional dan syari’ah, tampil sebagai pembicara dalam forum-forum tersebut. Dari kajian mereka ditemukan bahwa teori ekonomi Islam, sebenarnya bukan ilmu baru ataupun ilmu yang diturunkan secara mendasar dari teori ekonomi modern yang berkembang saat ini. Fakta historis menunjukkan bahwa para ilmuwan Islam zaman klasik, adalah penemu dan peletak dasar semua bidang keilmuan, termasuk ilmu ekonomi.

Teori-teori ekonomi Barat yang telah banyak dipeajari oleh mahasiswa se-antero dunia ini merupakan hasil pemikiran para ulama’ muslim klasik yang telah diambil oleh ilmuwan Barat diperjelas dengan tidak diakuinya kontribusi ulama’ muslim dalam perkembangan pemikiran Barat terlihat dari banyaknya literatur yang tidak menyentuh sejarah pemikiran ekonomi Islam klasik.

Dalam Encyclokipaedia Britania, Jerome Ravetz berkata, ”Eropa masih berada dalam kegelapan, sehingga tahun 1000 Masehi di mana ia dapat dikatakan kosong dari segala ilmu dan pemikiran, kemudian pada abad ke 12 Masehi, Eropa mulai bangkit. Kebangkitan ini disebabkan oleh adanya persinggungan Eropa dengan dunia Islam yang sangat tinggi di Spanyol dan Palestina, serta juga disebabkan oleh perkembangan kota-kota tempat berkumpul orang-orang kaya yang terpelajar. Joseph Schumpeter dalam buku History of Economics Analysis, Oxford University, 1954, mengatakaan, adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai dark ages. Masa kegelapan Barat tersebut sebenarnya adalah masa kegemilangan Islam.[6]

Pada saat Islam berkembang dengan pesatnya dalam berbagai bidang ilmu baik ekonomi, kedokteran maupun ilmu eksakta, pada saat itulah barat sedang mengalami masa-masa kegelapannya. Bangkitnya barat dari keterpurukan tidak lain adalah hasil dari pertolongan umat Islam melalui ilmu pengetahuan yang akhirnya dikliam menjadi milik mereka.

Schumpeter menyebut dua kontribusi ekonom scholastic, Pertama, penemuan kembali tulisan-tulisan Aristoteles tentang ekonomi. Kedua, towering achievement (capaian hebat) St.Thomas Aquinas. Scumpeter menulis dalam catatan kakinya nama Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi yang berjasa menjembatani pemikiran Aristoteles ke St. Thomas. Artinya, tanpa peranan Ibnu Sina dan Ibnu Rusydi, St.Thomas tak pernah mengetahui konsep konsep Aristoteles. Karena itu tidak aneh, jika pemikiran St.Thomas sendiri banyak yang bertentangan dengan dogma-dogma gereja sehingga para sejarawan menduga St.Thomas mencuri ide-ide itu dari ekonomi Islam. Pemikiran Thomas Aquinas tidaklah murni dari hasil proses berpikir yang panjang tetapi ada peranan ulama’ muslim yang sangat besar dalam menjembatani Aquinas guna memahami pemikiran Aristoteles.

Abdul Azim Islahi menggambarkan tidak diakuinya peranan ulama’ musim dalam family tree of Economics sebagai berikut:

Image

Menurut Abdul Azim Islahi[7] dalam Contribution of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis menyebutkan bahwa dalam beberapa buku teks karya ekonom barat, misalkan Economics – nya Samuelson yang diterbitkan sekitar tahun 1948, digambarkan bahwa pemikiran Aristoteles dan Bibel yang langsung mempengaruhi pemikiran dari Thomas Aquinas (tokoh skolastik) dan tidak mencantumkan kontribusi dari para ulama’ muslim.

Dalam gambar diatas terlihat jelas bahwa St.Thomas Aquinas mendapatkan inspirasi pemikiran tentang ekonomi kaum skolastik langsung dari bibel dan Aristoteles, padahal dalam selisih waktu antara masa Aristoteles hingga Aquinas (dalam gambar: 350 BC hingga 1270) dengan jangka waktu yang sangat lama terjadi great gap dengan penghapusan peranan ulama muslim yang sangat dominan dalam menerjemahkan dan menkritisi pemikiran para filosof Yunani kuno. Ini yang mendasari pernyataan bahwa ‘kejahatan intelektual’ kaum barat memang benar adanya. Jadi, sangat memungkinkan St. Thomas Aquinas meminjam hasil pemikiran ulama’ muslim dengan cara yang illegitimate secara intelektual.

Kemudian Islahi juga menyempurnakan gambar diatas dengan adanya peranan ulama’ muslim dalam perkembangan sejarah pemikiran ekonomi:

 Image

Seharusnya gambar di atas inilah yang merupakan sebuah kebenaran sejarah dengan mengajui adanya peranan Islam. Ide yang berasal dari Yunani banyak diterjemahknan oleh ulama’ muslim pada masa penerjemahan, kemudian para ulama’ memberikan komnetar atas pemikiran tersebut sehingga timbul pemikiran baru yang lebih berkembang. Itu merupakan hasil dari proses berpikir ulama muslim yang pada akhirnya banyak diterjemahkan kembali ke dalam bahasa-bahasa Eropa untuk dipelajari, dari situlah mulai terjadinya perkembangan pemikiran di dunia barat. Dari gambar itulah terlihat jelas besarnya peranan ulama’muslim dalam perkembangan ekonomi dari masa skolastik hingga klasik (Adam Smith) yang kemudian melahirkan ekonomi mainstream.

Kritik atas Kapitalisme Religius

Kapitalisme religius yang digagas dengan mengkombinasikan pemikiran-pemikiran ekonomi yang mengandung unsur spiritualitas, baik yang berasal dari Islam maupun dari Kristen—seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya—hanya menambah istilah atau “brand” baru. Karena jika dilihat dari faktor-faktor yang terkait dengan itu, semuanya hampir merujuk kepada satu sistem yang mampu menjadi alternatif dari sistem-sistem yang telah ada sebelumnya.

Apabila melihat dari perjalanan sejarah, pemikiran ummat Islam sangatlah berperan penting dalam lahirnya pemikiran-pemikiran ekonomi modern ini. Peranan ulama’ Islam menjadi pantas untuk diakui karena merekalah telah menjadi yang pertama ‘membaca’ karya-karya filsuf Yunani kemudian memberikan komentar. Dari situlah lahir pemikiran Skolastik dengan tokohnya bernama Thomas Aquinas. Dia juga merupakan salah satu tokoh yang mengilhami digagasnya kapitalisme religius.

Pada akhirnya, kapitalisme religius dengan berbagai konsep yang menaunginya akan bermuara pada satu sistem ekonomi yang juga merupakan alternatif, yaitu Ekonomi Islam. Ini  juga semakin membuktikan bahwa Islam adalah agama yang komprehensif, mencakup semua segi kehidupan, baik ekonomi, politik, sosial dan berbagai hal lainnya. Semangat Religius dari kapitalisme religius juga sangat senada dengan konsep Islam. Jadi, substansi konsep kapitalisme religius telah lama menjadi konsep para ulama’ muslim tetapi tidak dijiwai dengan ruh kapitalisme tetapi dengan semangat Ke-Tauhidan.


[1] Dudley Dillard, “Kapitalisme”, dalam Dawam Rahardjo (eds.), Kapitalisme Dulu dan   Sekarang, (Jakarta: LP3ES, 1987), hal. 15.

[2] Dawam Raharjo, Kapitalisme Dulu dan Sekarang, (Jakarta: LP3ES, 1987), hal. Viii.

[3] http://icmi-na.org/, diakses pada 24 Juni 2013.

[4] M. Umer Chapra, The Future of Economics : An Islamic Perspektive, (Jakarta: Shari’ah Economics and Banking Institute,2001), hlm. 261.

[5] Adiwarman Azwar Kasim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi Ketiga, (Jakarta: Rajawali Press, 2010) hlm. 9. Pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini, lihat Abbas Mirakhor, Muslim Contribution of Economics, dalam Baqir al-hasani dan Abbas Mirakhor (ed), Essays on Iqtisad: The Islamic Approach to Economic Problems (USA: Nur Corporation, 1989), hlm. 82-86.

[7] Islahi, Abdul Azim, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought an Analysis (11-905 A.H./632-1500 A.D.), Jeddah: Islamic Economics Research Centre, King Abdul Aziz University, 2004), hal. 94.

Referensi

Abbas Mirakhor, Muslim Contribution of Economics, dalam Baqir al-hasani dan Abbas Mirakhor (ed), Essays on Iqtisad: The Islamic Approach to Economic Problems (USA: Nur Corporation, 1989).

Chapra, M. Umer, The Future of Economics : An Islamic Perspektive, Jakarta: Shari’ah Economics and Banking Institute, 2001.

Islahi, Abdul Azim, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought an Analysis (11-905 A.H./632-1500 A.D.), Jeddah: Islamic Economics Research Centre, King Abdul Aziz University, 2004.

Kasim, Adiwarman Azwar, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi Ketiga, Jakarta: Rajawali Press, 2010.

Rahardjo, M. Dawam (Ed), Kapitalisme Dulu dan Sekarang, Jakarta: LP3ES, 1987

http://icmi-na.org/.

One thought on “REVIEW “MAKALAH MENUJU KAPITALISME RELIGIUS Iggi Haruman Achisen”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s