(Masih) Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Singapore Mixed Notes

Arif Widodo[1]

Indonesia merupakan salah satu negara yang digadang-gadang akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia beberapa puluh tahun kedepan. Seminar atau Konferensi nasional telah diadakan untuk membahas tentang mimpi ini beberapa waktu lalu, dihadiri berbagai kalangan mulai dari ekonom, pengusaha, politisi dan beberapa elit politik. Tidak hanya itu, Menko Perekonomian pun dalam setiap pidato dan orasinya selalu berbicara tentang keunggulan Ekonomi Indonesia, serta tidak pernah lupa menyebutkan angka pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,3 %. Tidak ketinggalan, Presiden dalam pidato-pidatonya selalu memberikan gambaran ekonomi Indonesia yang sangat fantastis, terbukti bersamaan dengan adanya krisis ekonomi yang terjadi di beberapa negara di Eropa dan Amerika, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh konsisten dengan angka pertumbuhan lebih dari 6 %.

Harapan menjadi salah satu negara berkekuatan ekonomi terbesar dunia dengan pertumbuhan yang konsisten harus diurungkan karena terjadi perubahan pada kondisi ekonomi. Paling tidak dengan naiknya harga BBM yang diikuti oleh naiknya harga barang-barang kebutuhan lainnya bertepatan dengan Ramadhan mulailah terjadi perubahan situasi ekonomi Indonesia. Asumsi makro ekonomi ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan, angka inflasi yang tak kunjung turung pasca Lebaran juga menjadi kenyataan yang pahit bagi pemerintah. Dilanjutkan dengan semakin naiknya harga-harga kebutuhan domestik menjadikan rakyat pun harus menelan pil pahit. Pertumbuhan ekonomi yang diasumsikan akan mencapai angka 6,8% pada tahun 2013 ternyata tidak terbukti, ekonomi hanya mampu tumbuh pada angka 6,3% saja, selain itu laju inflasi yang dinilai akan mulai turun pasca lebaran ternyata tidak turun bahkan semakin naik hingga mencapai angka 8% lebih. Angka inflasi tersebut lebih tinggi dari angka suku bunga acuan yaitu 6,5% sehingga pemerintah melalui otoritas moneter yaitu Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 7% sebagai solusi untuk menekan laju inflasi yang terus naik.

Berbagai Penyebab

Berbagai langkah antisipasi pemerintah sudah mulai digulirkan dengan 4 paket yang dikemukakan oleh Menko Perekonomian dan Menkeu beberapa waktu lalu di Istana Negara. Sejatinya, jika isi dari 4 paket tersebut mampu dilakukan oleh pemerintah akan memberikan solusi atau tindakan preventif sebelum terjadinya krisis yang lebih besar lagi di kemudian hari. Ketidakstabilan ekonomi Indonesia semakin memperburuk nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, saat ini rupiah pada angka 11.340  terhadap dollar AS, apabila di analisa lebih lanjut penyebab lemahnya rupiah ditinjau dari berbagai sudut pandang—baik internal maupun eksternal—antara lain:

Fiskal. Ditinjau dari sektor riil terjadi beberapa permasalahan di antaranya masalah yang terkait dengan ekspor. Amerika dan beberapa negara Eropa adalah pasar bagi produk-produk ekspor negara-negara berkembang termasuk Indonesia, permasalahan muncul ketika krisis ekonomi yang melanda kawasan Eropa dan Amerika menyebabkan pasar ekspor mengalami kelesuan. Sehingga, permintaan akan ekspor mengalami penurunan yang cukup signifikan, hal ini menyebabkan negara produsen barang ekspor harus menurunkan produksi barang-barang ekspornya, karena jika tidak begitu produsen akan mengalami kerugian. Dengan berkurangnya produksi barang ekspor, maka dengan terpaksa dibarengi juga dengan pemutusan hak kerja bagi sebagian pekerja. Pemberhentian sebagian pekerja menyebabkan mereka tidak lagi mempunyai pendapatan, sehingga tingkat pengangguran akan mengalami kenaikan. Selain itu, dengan turunnya ekspor Indonesia berdampak pada turunnya devisa negara yang dihasilkan dari ekspor.

Penjelasan singkat di atas, paling tidak bisa menjelaskan tentang dampak, yang disadari atau tidak, harus ditanggung oleh Indonesia dengan adanya krisis ekonomi di belahan dunia lain (Amerika dan Eropa). Globalisasi yang bergulir begitu derasnya telah menyebabkan hubungan negara satu dengan yang lainnya menjadi hubungan saling ketergantungan, interdependent. Dengan begitu, sesuatu yang terjadi di satu negara akan menimbulkan akibat yang dirasakan oleh negara lain.

Moneter. Kebijakan moneter secara sederhana dapat digambarkan dengan Jumlah Uang Beredar (JUB). Sebelum menjelaskan tentang pengaruh kebijakan moneter AS, terlebih dahulu akan penulis jelaskan tentang ilustrasi sederhana dari kebijakan moneter. Kran air berfungsi sebagai kontrol terhadap air yang dialirkan ke bak mandi, ketika bak mandi berisi sedikit air maka kran air diarahkan untuk membuka kran selebar mungkin supaya air yang keluar banyak. Sebaliknya, jika air yang berada di bak mandi sudah hampir penuh, maka kran air diarahkan supaya air yang keluar tidak terlalu banyak. Keadaan moneter AS berada bagaikan ‘bak mandi yang telah penuh’, otomatis JUB AS sudah terlalu banyak beredar di pasar sehingga pemerintah AS melakukan penarikan dollar dari pasar dunia dengan menaikkan suku bunga. Dengan naiknya suku bunga AS, maka dollar mulai tertarik dari pasar luar negri sedangkan permintaan dollar naik. Inilah yang menjadikan dollar semakin tinggi nilainya karena kelangkaan dollar di pasaran.

Dampak Kebijakan Amerika

Gubernur Bank Sentral AS, pada Mei 2013, menetapkan kebijakan dengan menarik dollar dari pasar menimbulkan dampak yang negatif bagi perekonomian Indonesia secara makro, seperti turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang menjadikan sektor lain pun mulai terkena dampak ini. Investasi asing yang berada di negara-negara berkembang mulai ditarik keluar (capital outflow) dan dipindahkan ke negara lain yang mendatangkan return lebih besar. Dengan banyaknya modal asing yang keluar menyebabkan goyahnya kestabilan ekonomi nasional, karena modal asing telah banyak membantu pemerintah dalam menyukupi kebutuhan pembangunan infrastruktur. Melemahnya rupiah akan memberatkan negara dalam membayar hutang luar negeri yang sudah jatuh tempo, pembayaran hutang harus menggunakan dollar, maka pemerintah akan ‘menguras’ cadangan devisa negara. Lebih lanjut, implikasi dari keluarnya modal asing adalah terganggunya neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan Indonesia, defisit neraca berjalan akan semakin membesar dan memberatkan negara. Langkanya dollar yang berada di pasar, menyebabkan cadangan devisa yang dimiliki negara semakin berkurang, sehingga rupiah ikut melemah.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan damapak negatif dengan naiknya harga barang-barang impor, ditambah dengan Indonesia merupakan salah satu negara yang masih tergantung dengan impor dari luar negeri. Naiknya harga barang impor sangat berpengaruh pada langkanya barang kebutuhan, seperti kedelai. Harga kedelai yang terus naik diakibatkan melemahnya nilai tukar rupiah, sehingga kedelai di pasaran pun mulai langka. Ada dugaan juga naiknya harga kedelai karena adanya kartel kedelai yang memanfaatkan moment ini. Dalam hal ini, pihak yang sangat dirugikan adalah importir dikarenakan harga barang impor yang terus menjulang. Tetapi, dalam sisi lain ada pihak yang diuntungkan dari keadaan ini yaitu, para eksportir yang mengirimkan barangnya ke luar negeri, karena dollar menguat terhadap rupiah menyebabkan harga barang ekpor relative murah di luar negeri. Sehingga penerimaan dari ekspor akan mengalami kenaikan, otomatis eksportir akan sangat diuntungkan.

Akhir tulisan ini, penulis ingin menggugah kepada seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam menangani masalah ekonomi negara tercinta, salah satunya dengan mencintai mata uang sendiri, rupiah. Di samping hal lain yang akan dijalankan pemerintah berupa policy untuk membangun kembali kekuatan ekonomi bangsa.

[1] Bidang Kader PK IMM FE UMY periode 2013-2014, aktif di Korps Instruktur PC IMM AR Fakhruddin Kota Yogyakarta.

2 thoughts on “(Masih) Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s