Paradigma Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo …. (Bagian III–selesai)

Kuntowijoyo

Apa yang tertuang dalam QS Ali Imran (3): 110, mencakup juga tiga pilar Ilmu Sosial Profetik, yaitu (1) ta’muruuna bil ma’ruuf, (2) tanhauna ‘anil munkar, (3) tu’minuuna billaah. Ketiga pilar ini kemudian diterjemahkan dengan bahasa yang universal menjadi konsep Humanisasi, Liberasi dan Transendensi.

  • Humanisasi

Amar Ma’ruf dalam bahasa sehari-hari berarti apa saja, naik yang paling individual seperti sholat, dzikir, sampai hal-hal yang semi-sosial, seperti menghormati orang tua, menyantuni anak yatim, serta yang bersifat kolektif seperti mengusahakan Jamsostek. Kuntowijoyo memakai kata humanisasi. Dalam bahasa latin humanitas berarti “makhluk manusia”, “kondisi menjadi manusia”, jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia.[1] Humanisasi merupakan terjemahan yang kreatif dari amal ma’ruf  yang memiliki makna asal menganjurkan atau menegakkan kebaikan. Amar ma’ruf meliki tujuan untuk meningkatkan dimensi dan potensi positif manusia, yang membawa kembali pada petunjuk ilahi untuk mencapai keadaan fitrah. Fitrah adalah keadan dimana manusia memiliki kedudukan sebagai mahluk yang mulia sesuai dengan kodrat kemanusiaannya. Memanusiakan manusia adalah menghilangkan kebendaan, ketergantungan dan kekerasan, serta kebencian dari manusia. Humanisme yang ditawarkan adalah humanisme teosentris bukan humanisme antroposentris seperti barat. Konsep humanisme tidak dapat dipahami tanpa konsep trasendensi yang menjadi dasarnya. Humanisme yang berasal dari barat yang dalam sejarahnya merupakan pembrontakan terhadap gereja yang bersifat dogmatis pada abad pertengahan. Dari antroposentrisme menjadikan mansuai yang berkuasa atas dirinya sendiri dan sebagi pusat dunia, serta cukup dari diri manusia. Akal yang dimiliki oleh manusia menjadi penetu dan bertindak tidak sesuai dengan norma yang ada dan menyebabkan kerusakan pada alam raya. Humanisme antroposentris ini menjadikan manusia telah ‘membunuh Tuhan’ sebagaimana yang dikatan oleh Francis Bacon dikarenakan pengetahuan bukannya untuk mencarai kebenaran tetapi untuk mencari kekuatan dan kekuasaan. Humanisme antroposenstris yang memiliki tujuan untuk memanusiakan manusia telah terjatuh pada dehumanisasi. Humanisme teoantroposentris Kunto berangkat dari konsen iman dan amal sholeh, yang dapat menghindari manusia jatuh pad dehumanisasi. Iman sebagai konsep teoantroposentris yang menjadikan Tuhan sebagai konsep pengabdian. Amal sebagai aksi manusia dalam kemanusiaan. Konsep tersebut iman tidak dapat dipisahkan dengan amal, artinya manusia harus memusatkan diri pada Tuhan dan memiliki tujuan untuk kepentingan manusia. Humanisme teosentris  kemanusia tidak semata dikur oleh akal tetapi oleh trasendensi.[2]

  • Liberasi

Kata liberasi (bahasa latin liberare berarti “memerdekakan”) artinya pembebasan semuanya dengan konotasi yang mempunyai signifikasi sosial. Liberasi merupakan terjemahan dari nahi munkar yang memiliki arti melarang atau mencegah segala tindakan kejahatan yang merusak. Liberasi memilki arti pembebasan terhadap yang termarjinalkan. Liberasi yang mengilhami Kunto adalah bukan liberasi dalam kontek Marxisme, teologi pembebasan Amerika Latin tetapi liberasi yang ditawarkan oleh Kunto adalah liberasi dengan disari nilai-nilai trasendensi. Liberasi dalam kerangka profetik untuk membebaskan manusia dari kekejaman kemiskinan, dominasi struktur, kekerasan dan menolak konservataisme dalam agama. Liberasi dalam konteks profetik menjadikan agama sebagai nilai-nilai trasendental yang menjadi alat tranformasi sosial sehingga agama menjadi ilmu yang objhektif dan faktual. Liberasi bukan hanya dalam dataran moralita stetapi dilakukan secara konkreat dalam realiats kemanusiaan. Kunto menawarkan Liberasi dalam empat sistem, yaitu: sistem pengetahuan, sistem sosial, sisten ekonomi dan sistem politik yang membelenggu manusia sehingga ia dapat mengktualisasikannya dirinya sebagai mahluk yang merdeka dan mulia. Liberasi dari sistem pengetahuan manusia yang matrialistik dan dominasi struktur. Kesadaran dari Marxisme adalah kesadaran kelas, kesadaran deterministik atau materi. Bagi Kunto kesadaran menentukan basis materi. Liberasi dalam konteks ekonomi adalah menjembatani anatar yang kaya dengan yang miskin agar tidak terjadi ketimpangan yang jauh. Liberasi ekonomi memiliki tujuan terciptanya ekonomi yang berkeadilan berpihak pada kaum miskin. Dalam hal ekonomi setidaknya ada dalam QS Al-Hasyr (59): 7 yang menyebutkan:”Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu”. Liberasi dalam konteks politik membebaskan sistem politik adari diktator, potoriterianisme, dan neofeodalisme, hal tersebut menjadikan demokrasi dan HAM yang terciptannya masyarakat yang berkeadilan.[3] Konsep liberasi yang diinginkan oleh Kunto bercorak marxian atau melakukan liberasi menggunakan kekerasan tak fungsional dalam memandang realitas sosial.

  • Transendensi

Kata transendensi (bahasa Latin Transcendere berarti “naik ke atas”; bahasa Inggris to transcend ialah “menembus”, “melewati”, “melampaui”) dan istilah teologis seperto soal Ketuhanan. Trasendensi merupakan terjemahan dari tu’minuna bi Allah yang berarti beriman kepada Allah. Gagasan transendensi ini menjiwai seluruh proses humanisasi dan liberasi. Proses memanusikan manusia dan melakukan proses pembebasan merupakan sarana untuk kembali pada Tuhan. Tujuan akhir dari proses liberasi dan humanisasi adalah Tuhan. Transendensi tersebut merupakan respon terhadap ilmu sosial yang selama ini bercorak positivistik menafikan hal yang berkaitan dengan agama. Proses modernisasi yang dilakukan oleh bangsa barat yang cenderung menafikan agama, menjadikan posisi agama termarginalkan. Trasendensi ketuhanan yang akan menunjung nilai-nilai luhur kemanuasiaan. Dengan kritik trasendensi, kemajuan teknik dapat untuk mengabdi pada perkembangan manusia dan kemanusiaan bukan kesadaran materialistik. Pemaknaan trasendensi dalam pemahaman Roger Garaudy; dengan trasendensi menghilangkan nafsu manusia yang serakah dan nafsu kekuasaan, memiliki kontinyuitas kebersamaan Tuhan dan manusia, mengakuai keunggulkan norma mutlak diatas akal manusia. Trasedensi merupakan suatu penerapan yang baru dalam ilmu sosial, trasendensi menajdikan ilmu sosial yang bercorak agamis dan berdasarkan nilai-nilai al Qur’an. Kunto menginginkan bahwa al Qur’an sebagai penurunan teori ia mencontohkan dalam bukunya Sejarah Dinamika Umat Islam Indonesia, ia menginginkan al Qur’an mebagai grand teory dan ditrunkan menjadi midle teori dan ditrunkan lagi menjadi aplikatifnya. Oleh karena itu, Kunto menawarkan al Qur’an menjadi paradigma dalam melihat realitas dengan cara menjadikan al Qur’an  bersifat objektif di terima oleh semua golongan. Cara yang dilakukan oleh Kunto adalah melakukan objektifikasi terhadap al Qur’an. Ia memberikan gambaran tentang konsep zakat adalah tujuan utamanya untuk memberantas kemiskinan, jadi zakat nilai objektif dari zakat adalah pemerataan ekonomi.[4]

Ilmu Sosial Profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo bersifat parsipatoris untuk melakuakan perubahan dan sekaligus arah dari perubahan itu. Ilmu ini sarat dengan nilai-nilai dan berpihak kepada kemanusiaan, memberantas ketidakadilan sosial[5]. Dengan menjadikan Surat Ali Imran: 110 sebagai dasar, Ilmu Sosial Profetik menghasilkan tiga paradigma untuk mewujudkan khoiru ummah. Dan ketiga pilar itu adalah suatu tatanan yang integral, saling berhubungan, dan menjadikan transendensi sebagai dasar dua gerakan lainnya (humanisasi, liberasi).

[1] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 364.

[2] M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, hal. 49-50.

[3] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 370-371.

[4] M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, hal. 51-52.

[5] M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, hal. 173.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s