Paradigma Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo: Ikhtiyar Menuju Alternatif … (Bagian II)

Kuntowijoyo

Menuju Ilmu Sosil Profetik

Gambaran realitas manusia pada zaman modern ini adalah konsekuensi dari cita-cita Barat tentang kemanusiaan, yang mana manusia akan berdaulat jika ia mampu membebaskan diri dari pengaruh agama. Sebab, dalam filsafat Yunani-Romawi, manusia dianggap sebagai makluk yang dungu, dan tak memiliki kecerdasaan. Begitu juga filsafat Kristen yang menganggap manusia sebagai pendosa sejak akhir, maka diperlukan penebus dosa. Humanisme Eropa telah menjadikan kedudukan manusia semakin rendah, dan menuju pada arah dehumanisasi.

Berbeda dengan Islam yang menenmpatkan posisi manusia pada tempat yang mulia yaitu sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Amanah yang berat ini hanya mampu dijalankan oleh manusia. Penugasan manusia di muka bumi ini adalah wujud kemuliaan manusia dibandingkan makhluk lain, dan misi utamanya adalah pembebasan yang diabdikan hanya kepada-NYA. Dalam dunia modern, Islam harus berperan dalam pembebasan manusia dari kungkungan pemikiran yang membawa manusia pada penghambaan terhadap manusia atau materi serta membawa pada tujuan yang absurd. Islam dengan visi pembebesan yang revolusioner mampu membawa alternatif pemecahan masalah yang dihadapi manusia modern. Selain itu, dalam struktur keagamaan Islam, tidak dikenal dikotomi antara domain duniawi dan domain agama.[1] Dengan landasan dasar itu, maka Islam sangat berbeda dengan prinsip filsafat dan prinsip agama lain. Kuntowijoyo menyatakan:

Humanisme Islam adalah humanisme teosentris. Artinya ia merupakan sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan terhadap Tuhan, tetapi mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban manusia.[2]

Jadi Islam tidak menerima panteologis atau pemikiran yang serba teologi serta meremehkan rasio. Sehingga, rasio dalam Islam merupakan bagian epistemologi yang sah. Namun manusia masih memerlukan petunjuk yang melampaui rasio manusia, sistem filsafat, dan ideologi buatan manusia, maka Wahyu Tuhan dalam hal ini sangat dibutuhkan sebagai petunjuk pemecahan dilema dan masalah manusia modern.

Dengan melihat persoalan manusia modern yang tak kunjung mampu diselesaikan oleh ilmu sosial Barat, maka Kuntowijoyo ingin memberikan sentuhan baru dalam “ilmu sosial”—ia lebih memilih istilah ilmu sosial daripada teologi, karena kata teologi bisa membingungkan dan menimbulkan perdebatan serta salah paham—dengan mengembangkan Ilmu Sosial Profetik, yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan. Oleh karena itu ilmu sosial profetik tidak hanya sekedar mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita etik dan profetik.[3] Ilmu Sosial Profetik merupakan penafsiran yang mendalam dari surat Ali Imran: ayat 110: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah. Dari ayat ini, perubahan didasarkan pada cita-cita humanisasi/emansipasi, liberasi dan transendensi yang akan mengarahkan manusia kepada tujuan sosio-etiknya di masa depan. Ilmu sosial profetik merupakan ilmu sosial alternatif terhadap ilmu sosial yang selama ini berkembang cenderung bercorak liberal dan positivistik yang mana tidak memberikan transformasi sosial tapi lebih cenderung mempertahankan status quo dan berusaha netral, value-free,[4] begitu juga dengan ilmu sosial yang bercorak kritis dan memiliki sifat perfeksionis yang jatuh dalam kugkungan ilmu yang deterministik, baik determinisme ekonomi (Marxian) ataupun determinisme seksual (Feminisme).[5] Ilmu Sosial Profetik sebagai ilmu yang sarat nilai (value-laden) dan berpihak serta mengupayakan terjadinya transformasi sosial sesuai cita-cita profetik.

Paradigma Ilmu Sosial Profetik

Ilmu-ilmu Islam telah menjadi apa yagn dimaksud Thomas S. Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution sebagai normal science. Cara mendapatkan paradigma baru ialah dengan mengubah komitmen. Komitmen tradisi normatif ialah dakwah, komitmen tradisi ideologis adalah politik dan komitmen tradisi ilmiah adalah ilmu. Paradigma baru itu mempunyai komitmen baru yaitu umat (masyarakat, komunitas, bangsa). Paradigma baru ini kita sebut Ilmu Sosial Profetik.[6] Perbedaan Paradigma antara Ilmu barat-sekuler dengan Paradigma Islam yang integral, digambarkan Kuntowijoyo[7]:

Periode Sumber Etika Proses Sejarah Ilmu
BARAT Modern Akal Humanisme Diferensiasi Sekular, otonom
ISLAM Pasca-modern Wahyu-akal Humanisme-Teosentris Dediferensiasi Integralistik

Pada zaman modern, semangat kemanusiaan dibangun dari humanisme yang membangun kekuatan pusat pada manusia, sebagai lawan teosentrisme. Maka ini berarti differentiation (pemisahan). Sedangkan post-modern menolah semacam itu dan cirinya adalah de-differentiation. Sehingga, menurut Kuntowijoyo prospek Ilmu sosial Profetik di zaman post-mo akan mampu diterima.

Asal-usul Ilmu Sosial Profetik ialah buku Muhammad Iqbal Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Dalam Bab tentang “Jiwa dan Kebudayaan Islam”dengan mengutip kata-kata seorang sufi, Abdul Quddus, Iqbal memaparkan perbedaan kesadaran Rasul (profetik) dengan kesadaran mistik. Abdul Quddus mengatakan (h. 123): “Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku yang mencapai tingkat itu, aku tidak akan kembali lagi”.[8] Jadi, semagat kenabian adalah semangat terlibat dalam sejarah, untuk merubah keadaan sosial, berbeda dengan mistikus yang puas dengan pencapaiannya sendiri. Dasar dari Ilmu Sosial Profetik terdapat dalam QS Ali Imran (3): 110:

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.

Menurut Kuntowijoyo, setidaknya ada empat hal yang terirat dalam ayat itu, yaitu (1) konsep tentang umat yang terbaik, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran, (4) etika profetik. Pertama, konsep tentang umat yang terbaik (the choosen people). Umat islam menjadi umat terbaik (khaira ummah) dengan syarat mengerjakan tiga hal di atas. Tidak secara otomatis mejadi umat terbaik. Konsep ini berbeda dengan konsep the choosen people Yahudi yang menyebabkan rasialisme. Konsep Yudaisme menyebabkan rasialisme sedangkan konsep Islam mengaharuskan untuk bekerja keras ke arah aktivisme sejarah[9]. Konsep umat yang terbaik merupaka proses setiap individu dalam menciptakan masyarakat yang diidealkan bersama.[10] Kedua, aktivisme sejarah. Bekerja di tengah-tengah manusia (ukhrijat linnaas) berarti yang ideal bagi umat Islam adalah keterlibatan mereka dalam sejarah. Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai ilahiah menjadi tumpuan aktivisme sejarah. Peranan kesadaran ini yang membedakan etika Islam dengan etika Materialistis[11]. Pandangan kaum Marxis bahwa super structure (kesadaran) ditentukan oleh structure (basis sosial, kondisi material) bertentangan dengan Islam, dimana Islam (Ilmu Sosial Profetik) membalikkan rumusan itu dengan meletakkan kesadaran (superstructure) yang menentukan structure.[12] Demikian pula bertenangan dengan individualisme, liberalisme, kaputalisme, Islam juga bertentangan dengan sekularisme. Keempat, etika profetik. Ayat ini berlaku umum untuk siapa saja baik individu, lembaga, atau kolektivitas. Ilmu sebagai pelembagaan dari pengalaman, penelitian dan pengetahuan harus melaksanakan ayat ini, yaitu amar ma’ruf (berbuat baik), nahi mungkar (mencegah kemungkaran) dan tu’minuuna billaah (beriman kepada Allah).

[1] Lihat Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 164-167.

[2] Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 168.

[3] Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, hal. 87.

[4] M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, (Yogyakarta: Samudra Biru, 2011), hal. 165-166

[5] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental, (Bandung: Penerbit Mizan, 2001), hal. 361.

[6] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 106.

[7] Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, hal. 59.

[8] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 107.

[9] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 358.

[10] M. Abdul Halim Sani, Manifesto Gerakan Intelektual Profetik, hal. 109

[11] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, ibid.

[12] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, hal. 363.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s