Paradigma Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo: Ikhtiyar Menuju Alternatif Paradigma Ilmu Sosial Integralistik (Bagian I)

Kuntowijoyo

Arif Widodo

Pendahuluan

Ilmu sosial yang ada sekarang ini pada umumnya berasal dari barat, sehingga terkadang sangat bias barat. Barat yang notabene-nya berlatar belakang agama, ras, budaya dan worldview yang berbeda, menjadi masalah penting dalam penerapan ilmu tersebut ketika dipertemukan dengan nilai-nilai Islam. Ilmu sosial barat telah banyak mengalami krisis yang tak terelakkan karena ilmu tersebut sangat bersandar pada premis-premis kebenaran yang berasal dari manusia (humanisme), sehingga sangat rentan akan kekeliruan. Kita harus akui bahwa tradisi keilmuan barat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Yunani-kuno, yaitu bahwa ada pertentangan, persaingan antara manusia dan dewa. Perspektif ini masih lestari dan semakin modern di Eropa saat ini sehingga lebih menekankan pada humanisme-antroposentris, yang menentang semua yang berbau immateri, ukhrawi dan cenderung ke arah materialisme[1] serta menjadikan manusia sebagai ukuran kebenaran dan kesalahan (man is a measure of all things). Namun, bukan berarti ilmu sosial barat tidak memiliki relevansi sama sekali, karena tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu sosial barat telah berjasa dalam menambah khazanah keilmuan dunia—termasuk dunia keilmuan Islam. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa tidak semua ilmu-ilmu sosial barat bisa diadopsi, harus juga ada proses seleksi-kritis yang mendalam mengenai kesesuaian ilmu barat dengan prinsip syari’ah.

Dalam ilmu sosial, belum banyak teori yang genuine berasal dari Islam, sementara yang teori-teori yang berasal dari barat telah “menjamur” dan diajarkan dalam perkuliahan-perkuliahan di hampir semua kampus di Indonesia. Pemikiran Kuntowijoyo yang sangat briliant mampu memberikan sentuhan yang lain dalam ilmu sosial. Dengan bertumpu pada prinsip-prinsip Islam, ia ingin mengembangkan ilmu sosial yang berasal dari Islam, dengan mengkolaborasikan teori-teori barat yang sesuai dengan prinsip Islam, yang kemudian dikenal dengan Ilmu sosial Profetik (ISP). Ilmu Sosial Profetik merupakan pemikiran Kuntowijoyo yang ingin menurunkan ayat Al-qur’an dan etika profetis menjadi teori-teori sosial yang sesuai dengan realitas sosial masa kini dan disini yang tidak hanya berbicara tentang mengubah fenomena sosial, tetapi juga mengarahkan kemana arah tujuan dari transformasi itu. Tulisan kecil ini akan menjelaskan tentang kritik Islam terhadap ilmu sosial barat, kemudian juga mengenai perlunya Ilmu Sosial Profetik serta membahas Paradigma Ilmu Sosial Profetik.

Kritik Islam terhadap Ilmu Sosial Barat

Melihat kebudayaan barat, bisa didapati bahwa pemikiran mereka berkembang. Berakar pada mitologi Yunani, dunia barat mengalami kungkungan keagamaan bahwa seolah-olah Tuhan membelenggu manusia. Kadang Tuhan dianggap iri hati dengan manusia, sehingga mansuia selalu merasa dendam[2]. Peperangan antara dewa dengan manusia, dimana para dewa digambarkan selalu bersikap anti-manusia, dan dewalah yang selalu memenangkan peperangan ini. Kontradiksi antara manusia dengan dewa itu melahirkan pandangan yang mendobrak pandangan keagamaan mitologis secara revolusioner[3]. Maka timbullah humanisme yang mendasarkan pada pengingkaran terhadap dewa-dewa yang anti-manusia, yang juga disebut pandangan antroposentris yang menjadikan manusia pusat dari segala sesuatu, ukuran kebenaran dan kesalahan berpusat pada manusia bukan Tuhan atau kitab suci[4]. Sesungguhnya pemikiran humanisme atau entroposentrisme merupakan hasil dari pandangan rasionalisme yang juga melahirkan Renaisans, yang bercita-cita untuk mengembalikan kedaulatan manusia dari belenggu dewa-dewa yang seolah menguasai nasibnya, bahwa manusia itu bebas dan dapat menentukan arah kehidupannya sendiri. Namun, revolusi pemikiran ini juga pada gilirannya menimbulkan masalah baru. Semangat untuk merebut kembali kedaulatan manusia berubah menjadi agnotisisme terhadap agama  dan juga sekularisme. Maka dari itu, barat meghasilkan paham bahwa ilmu pengetahuan secara inheren bersifat bebas-nilai (free-value)[5], termasuk juga dalam ilmu-ilmu sosial yang berasal dari Barat yang telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dalam ilmu sosial Barat, Paling tidak bisa dikelompokkan menjadi dua madzhab besar, yaitu madzhab Liberal dan madzhab Marxis. Amien Rais dalam Cakrawala Islam mengungkapkan:

Dari sudut pandang Marxis, ilmu sosial mempunyai tugas untuk menemukan hukum-hukum fundamental evolusi historis dan terutama sekali merupakan suatu interpretasi  inklusif tentang evolusi tipe-tipe sosial. Tipe-tipe sosial yang dikemukakan Marx adalah ekonomi kuno berdasar pada perbudakan, ekonomi abad pertengahan (feodal) berdasar pada penindasan petani kecil (serfdom), ekonomi kapitalis didasarkan pada tingkat upah (wage earning) dan akhirnya ekonomi sosialis yang mengakhiri ekploitasi manusia atas manusia dan ekploitasi kelas atas kelas. Dalam tahapan terkahir, baik negara sebagai alat ekploitasi dari kelas kaya maupu masyarakat sipil sebagai pengejawantahan prinsip individualisme, akan lenyap dengan sendirinya.[6]

Ilmu sosial Marxis bertumpu pada determinisme sejarah bahwa sejarah di masa lalu adalah gambaran pertentangan antara majikan dan budak, kaum proletar dan kaum borjuis. Pertentangan atau dialektika tersebut akan terus berlangsung hingga saat ini, dan ukuran kemanusiaan diganti dengan hubungan mode of production, hubungan produksi yang materialistis, tanpa memperhatikan aspek fitrah manusia, yaitu spiritualitas. Dalam pandangan determinisme, manusia dianggap tidak dapat merdeka: karena kesadarannya, keberadaaan sosialnya, dan keberadaan eksistensialnya, dientukan oleh mode of production, cara produksinya. Singkatnya, manusia dianggap sebagai produk  masyarakatnya, tidak ada aspek spiritual atau transendental.[7] Ali Syari’ati mengungkapkan bahwa Marx begitu menawan ketika ia menyerang sistem kapitalisme yang telah menindas manusia serta merendahkan nilai kemanusiaan, tetapi ketika ia berbicara tentang prinsip produksi, nilai alat-alat produksi,  nada mistik itu berubah menjadi nada materialistis.[8] Ilmu sosial jenis Marxis bercorak sintesis, karena mencoba menangkap masyarakat dari seluruh totalitasnya. Historis karena tidak puas dengan hanya menganalisis masyarakat modern berdasar struktur yang ada pada saat tertentu, tetapi mencoba menginterpretasikan masyarakat modern berdasarkan perkembangan makhluk manusia. Dan determinis, karena mencoba membuat prediksi tentang datangnya suatu mode ekonomi dan suatu model masyarakat yang tidak mungkin dihindarkan.[9]

Berbeda dengan ilmu sosial liberal yang tidak percaya pada hukum-hukum sejarah, karena bagi mereka hukum-hukum sejarah tidak dapat ditemukan secara jelas. Hukum sejarah bagi sarjana ilmu sosial liberal tidak mempunyai validitas ilmiah, seperti keajekan sejarah mansia maupun dari kecenderungan yang memungkinkan memprediksi masa depan secara akurat berdasarkan masa sekarang. Secara fundamental ilmu sosial liberal berwatak analitis, empiris dan probabilistis.[10] Perbedaan yang menonjol ini telah banyak mempengaruhi jalan pikiran para pendukungnya, sehingga terdapat juga banyak varian dari masing-masing madzhab tersebut. Selain itu, sarjana Indonesia pendukung ilmu sosial liberal maupun Marxis seolah mengabaikan bahwa sesungguhnya ilmu ssosil yang berasal dari Barat tidak semuanya cocok diterapkan di Indonesia.

Ilmu sosial Barat tak bisa dilepaskan dari kebudayaan modern, yang dominan saat ini, semangatnya berasal dari keinginan Barat untuk melepaskan diri dari agama. Dalam masyarakat modern saat ini, kita melihat bahwa manusia telah diperbudak oleh teknologi yang diciptakannya sendiri. Fungsi teknologi yang memudahkan manusia telah diubah untuk menindas manusia yang lain, manusia telah dijadikan budak untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang semu[11]. Dengan realitas yang demikian itu, ilmu sosial Barat belum cukup mampu untuk mengobati segala penyakit yang timbul di zaman modern ini, yang menyebabkan kedudukan manusia mengalami degradasi total. Maka perlu lahir ilmu sosial baru yang mampu memperbaiki kesalahan ilmu sosial Barat dan mampu mengubah realitas sosial ini serta mengarahkan ke mana transformasi tersebut diarahkan.

[1] Ali Syari’ati, Kritik islam atas Marxisme dan sesat-pikir Barat lainnya, (Bandung: Penerbit Mizan, 1983), hal. 53.

[2] Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Penerbit  Mizan, 1991), hal. 160.

[3] Ibid.

[4] Ali Syari’ati, Kritik islam atas Marxisme, hal. 56.

[5] Kuntowijoyo, Paradigma Islam, loc. cit.

[6] Amien Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, (Bandung: Penerbit Mizan, 1989), hal. 70.

[7] Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 164. Lihat juga Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, hal. 120.

[8] Ali Syari’ati, Kritik islam atas Marxisme, hal. 63.

[9] Amien Rais, Cakrawala Islam, hal. 71.

[10] Amien Rais, Cakrawala Islam, ibid.

[11] Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hal. 116. Lihat juga Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 161.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s