Dakwah dan Realitas Post-Modern

Wanita-Perokok

Malam kemarin saya sempat berkumpul bersama beberapa teman di satu tempat kongkow. Ada fenomena yang menarik untuk disimak. Tidak sengaja terlihat perempuan dengan tatto di hampir seluruh tangan kanannya duduk sambil merokok, yang juga sedang berbincang dengan beberapa kawannya dengan style yang tidak jauh berbeda.

Di zaman modern ini—bahkan postmodern—inilah realitas yang terjadi dan tidak jarang terlihat fenomena di atas, terutama di kota-kota besar. Walaupun itu sudah menjadi fenomena yg dianggap ‘biasa’, tapi ada yang harus dicermati. Paling tidak ada dua hal: 
Pertama, fenomena di atas mungkin akan membuat sebagian orang—berpandangan bahwa wanita itu kurang baik, tidak memahami kemuliaan wanita dsb. Dan orang yang melihat dengan perspektif demikian akan menghindarinya atau menjauhinya. Dengan mengutuk dan menjauhinya maka hal itu tidak akan pernah mengubah keadaan.

Bukankah ketika terjadi kemungkaran dan hanya menyangkal di hati, yang disebut oleh Rasulullah sebagai selemah-lemahnya iman?

Kedua, seyogyanya yang harus dilakukan adalah melihatnya dari spektrum yg lebih luas. Maksudnya, dengan konteks zaman ini, saya kira fenomena di atas tidak bisa dihindari dan justru harus dijadikan tantangan untuk bergerak mendakwahkan islam kepada mereka dalam bahasa yang lebih damai (inklusif-kontekstual)—tanpa harus mengutuk mereka dan menjadikan dakwah Islam semakin eksklusif, bahkan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah ‘mapan’ pemahaman ke-Islamannya. Sehingga, esensi dari dakwah yang bermakna mengajak, bisa benar-benar mampu dilakukan.

Dakwah berarti mengajak; mengajak dari keadaan yang buruk (jahiliyyah) ke dalam cahaya Islam. Artinya, dalam melihat konteks zaman ini, perlu adanya upaya yang serius dalam mendakwahkan cahaya Islam kepada mereka yang selama ini belum tersentuh oleh pencerahan Islam, sehingga tidak terkesan bahwa Islam itu eksklusif. Maka, menjadi urgent untuk menafsirkan objek dakwah, sehingga objek dakwah yang selama ini belum disentuh itu, bisa dijadikan lahan garap para ustadz dan da’i kita.
Bukankah Rasulullah SAW tidak pernah mengutuk orang yg melemparinya dengan kotoran? Bahkan beliau menjenguk org tsb ketika jatuh sakit.

Itulah ajaran islam yang lathif dan damai. Mungkin itulah objek dakwah para da’i pada khususnya dan ummat Islam pada umumnya di zaman postmodern ini. Wallahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s