Terima Kasih, Petani Indonesia !

petani (1)

(I)

“…..perjuangan perombakan hukum agraria nasional berjalan erat dgn sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari cengkraman, pengaruh dan sisa2 penjajahan; khususnya perjuangan rakyag tani utk membebaskan diri dari kekangan2 sistem feodal atas tanah dan pemerasan oleh kaum modal asing….”

Kalimat di atas merupakan penggalan dari pidato Menteri Agraria (Mr Sadjarwo) pada 24 September 1960. Pada hari itu pula Presiden Soekarno menetapkan UU NO 5 TH 1960 ttg peraturan dasar pokok2 agraria, itulah sedikit sejarah dari Hari Tani Indonesia. Yang sepertinya sdh hampir tak dikenali bukan? Kalah “bersaing” pamor dengan hari-hari “impor” (sebut saja Valentine).

Jika kita renungi sejenak tampaknya pidato yg disampaikan pada tahun 60-an itu masih sangat relevan untuk kita jadikan bahan refleksi sejenak, atas apa yang sudah dan sedang terjadi pada petani kita hari ini. Paling tidak ada dua point kunci yg bisa disimpulkan:

Pertama, bahwa perombakan hukum agraria sangat erat kaitannya dengan perjuangan utk lepas dari cengkraman kolonialisme kala itu. Artinya bahwa sejarah bangsa kita mencatat perjuangan melepaskan diri dari kaum penjajah berjalan seiring dengan perombakan hukum agraria, yang sangat menguntungkan pihak penjajah.

Kedua, Perjuangan kaum petani untuk bebas dari kekangan sistem feodal dan kaum modal asing atas tanah mereka. Point kedua inilah yang masih sangat relevan untuk dibahas. Bagaimana tidak, setelah berpuluh tahun kita merdeka, nyatanya kaum petani masih harus berjuang utk mendapatkan tanah mereka. Bahkan, petanilah yang paling sering menjadi korban atas tanahnya yang dirampas secara semena-mena. Akhirnya, mereka (para petani) harus puas menerima bekerja sebagi BURUH di tanahnya sendiri. Dan tentu saja, mereka tidak pernah akan makmur selama keadaan seperti ini masih saja berlangsung.

(II)

Sejak masa kolonial hingga saat ini, ternyata petani masih belum seutuhnya merdeka dari kekangan sistem feodal, sistem ini terutama telah merenggut hak-hak petani atas tanahnya. Sehingga, sering kita dengar dan saksikan kasus sengketa tanah di berbagai daerah di Indonesia, misalkan saja Kawasan urut sewu Kebumen, Kulon Progo dan mash banyak lagi. Parahnya, media kita hari ini tidak sering memberitakan kasus tanah tersebut, kebanyakan memuat berita “blusukan” dari pejabat yang ingin dikatakan merakyat.

Ini menjadi refleksi penting bagi kita (rakyat Indonesia) bahwa disadari atau tidak sistem feodal—seperti yang dimaksud oleh Mr Sadjarwo—masih hidup dan tumbuh subur di negara kita sekarang ini. Bahkan tidak hanya dilakukan oleh asing, tapi juga oleh kaum pribumi yang ingin mengekploitasi tanah untuk keuntungan sendiri. Tentu saja hal tsb sudah jelas-jelas melanggar konstitusi kita, yang dijelaskan dengan gamblang di UUD 45 pasal 33 ayat 3, yg bunyinya:

“Bumi, air dan kekayaan alam yg terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan utk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Pasal di atas selaras dgn anjuran Rasulullah Muhammad bahwa air, bumi dan api (minyak dll) harus diurus untuk mashlahat bersama bukan untuk keuntungan individu tertentu.

Pertanyaannya: Apakah benar kekayaan alam kita dikuasai oleh Negara?

Kalau iya, sudahkah rakyat merasakan kemakmuran dari semua sumber daya alam yang ada di Negara kita?

Ataukah kemakmuran hanya dirasakan oleh segelintir orang, bahkan pemodal asing?

Jika pertanyaan tersebut belum mampu terjawab, maka hipotesa yang mengatakan bahwa sistem feodal masih hidup di Indonesia dan sedang “mengincar” tanah petani. Itu bisa dibenarkan. Bahkan barangkali ini sesuai dgn apa yg disampaikan oleh Mahathir Muhammad (Mantan PM Malaysia) yang ia mengutip Presiden Soekarno, bahwa: kolonialisme telah berkembang menjadi Neo-kolonialisme. Itu nyata adanya dan tidak mengada-ada.

Dalam rangka Hari Tani Nasional, saya mengucapkan terima kasih atas usaha dan kerja keras para petani Indonesia dengan mengabdi mengolah tanah pertanian, meskipun masih tertatih-tatih. Tak peduli cengkraman tangan-tangan besi para neo-imperialis, kau tetap bekerja tak kenal lelah. Teringat kalimat singkat yang sering tertulis di dinding-dinding tembok kota, berbunyi:

petani 2

HIDUP PETANI INDONESIA !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s