Konsumerisme Versus Organisasi Mahasiswa: Eksistensi atau Esensi ?[1]

konsumerism

Arif Widodo[2]

Hidup Mahasiswa !! Hidup Mahasiswa !!

Prolog

Itulah kalimat yang sering didendangkan ketika pertama kali menjadi mahasiswa, barangkali  kalimat di atas, untuk saat ini, telah menjadi semacam “mantra”, yang selalu dibaca berulang kali. Barangkali hanya dengan teriakan itulah mereka diakui serta dipandang sebagai Mahasiswa. Namun, ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab bersama hari ini: Bagaimanakah realitas kemahasiswaan hari ini? Bagaimana  pemahaman mahasiswa mengenai organisasi (BEM, HMJ dll)? Apakah organisasi mahasiswa sudah semakin “usang” di hadapan “ombak besar” budaya pop yang hedonis dan pragmatis ? ataukah organisasi mahasiswa bisa menjadi bagian dari usaha untuk memperkokoh budaya pop sembari ber-eksistensi ria; mencari pamor dan berlagak  paling berkuasa ?. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya kita jawab bersama, supaya tujuan dari kita berorganisasi bisa jelas dan terarah, tidak gamang dan menjadi rancu.

Hedonisme Mahasiswa: Realita saat Ini

Dewasa ini, slogan-slogan yang marak kita dapati di media massa, media elektronik adalah perihal iklan “produk” yang diperjualbelikan. Tapi, jangan terpaku pada arti produk secara konvensional, artinya kita harus melihat produk dari spektrum yang lebih luas, secara rasional-kritis. Percaya atau tidak, segala hal, tidak hanya yang berkaitan dengan barang, namun juga perilaku, bisa menjadi produk. Kecantikan misalnya, tolak ukur kecantikan yang dipahami banyak orang sekarang ini adalah tolak ukur pasar, bukan lagi tolak ukur manusia, sehingga kecantikan zaman ini terkesan menir-manusiakan manusia itu sendiri. Lihat saja, betapa banyak mahasiswa yang tergila-gila dengan gaya ini, gaya itu yang selalu berganti dan tak ada ujungnya, sehingga akan lahir generasi muda yang labil , tidak percaya diri, dan timbullah budaya mengekor (taqlid) terhadap budaya yang ada.

Mari kita lihat sejenak ke lingkungan kita saat ini. Menjamurnya mall-mall di kota-kota besar di Indonesia, sedikit banyak telah mempengaruhi psikologi masyarakat. Belanja, mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan sekunder—bahkan tersier, tampaknya sudah menjadi hal yang lumrah. Setiap bulan—bahkan setiap minggu—selalu ada jadwal wajib untuk pergi ke Mall. Bahkan bukan untuk belanja, tapi hanya sekedar numpang” eksis” makan produk-produk terkenal makanan cepat saji sambil memamerkan foto makanan dan logo produknya. Dan, kurang sempurna jika tidak diunggah di media sosial, fotonya bersama produk makanan yang dibelinya. Tampak seperti iklan.

Mall dengan berbagai macam produk yang ditawarkan melalui iklan-iklan di televisi dan berbagai medai lain, telah sedemikian berdampak, khususnya meningkatnya minatnya belanja masyarakat. Iklan yang luar biasa gencar ternyata mempunyai hubungan yang positif dengan minat belanja masyarakat. Inilah yang kemudian dinamakan dengan istilah Konsumerisme. Psikologi masyarakat berubah sedemikian rupa dan menganggap bahwa “mall” merupakan suatu tolak ukur kepercayaan diri, wibawa, bahkan kemuliaan. “Mall” yang dimaksud bukanlah terbatas pada tempat perbelanjaan, namun lebih dalam dari pada itu—sebagai agen pembawa budaya konsumerisme.

Satu hal lagi yang menjadi sorortan penting dengan menjamurnya “mall” bahwa masyarakat Indonesia secara sadar, maupun tidak, telah me-konstruksi suatu budaya; konsensus; kesepakatan umum—seorang “dianggap” memiliki “prestige”, wibawa atau tingkat kepercayaan diri ketika mengikuti budaya itu. Budaya global itulah yang ikut dibawa oleh “Mall”.

Terbentuknya suatu “konsensus” dalam masyarakat akan melegitimasi simbol kekuatan itu untuk tidak menerima persepsi lain dari “mall”. Misalkan, konsumerisme sebagai budaya tidak lagi dianggap sebagai suatu yang harus dicermati, karena hal itu sudah terlalu biasa, tak ada yang harus dicermati dari perspektif lain. Seolah budaya belanja, budaya menghamburkan uang bukan suatu hal yang aneh dan patut dipertanyakan. Layaknya suatu kebiasaan yang given, sudah adanya demikian. Maka tak perlu lagi dipertanyakan.

Beberapa penjelasan di atas adalah awal dari potret realita kehidupan masyarakat zaman modern—atau postmodern. Budaya konsumsi mensyaratkan adanya produk yang dijual, untuk memenuhi hasrat konsumsi manusia. Adam Smith dalam The Wealth of Nations telah memberi tahu kita, bahwa manusia mempunyai sifat rakus, tamak, individualis. Namun, kiranya hal itu tidak lah sesuai dengan apa yang menjadi common sense (pemahaman bersama) bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sikap individualis yang dibawa dari budaya konsumsi ini juga menyerang kita, mahasiswa. Idealnya, mahasiswa sebagai agent of social control harus mampu berpikir lebih mendalam tekait dengan budaya konsumsi yang kian merebaik ini, bukan malah ikut dan terbawa arus besar hedonisme.

Hedonisme adalah budaya yang sangat meracuni pikiran mahasiswa saat ini, sikap ingin enak, sikap individualis, sikap acuh terhadap sesama, merupakan bagian dari hedonisme mahasiswa saat ini. Sehingga yang terpenting adalah kuliah (saja) dan bisa mengahsilkan uang banyak untuk membeli berbagai “produk”, gadget, baju, make up dan sebagainya. Barangkali kita bisa menyimpulkan bahwa, hedonisme mengarahkan mahasiswa kepada Eksistensi; yang penting eksis, terlihat oleh orang lain, dengan mengikuti arus budaya konsumsi yang sudah jelas-jelas sangat menguntungkan bagi pihak-pihak tertentu (konglomerat dan kroni-kroninya).

Aktivis Organisasi Mahasiswa: Mau Kemana?

Organisasi mahaiswa kini dihadapkan dengan—bisa kita katakan—“musuh” yang sangat besar, yaitu Hedonisme: yang membuat mahasiswa hanya ingin eksistensi. Bahkan, menurut hemat saya, ada beberapa indikasi bahwa organisasi juga merupakan wadah untuk mengokohkan budaya eksistensi-hedonis di kalangan mahasiswa. Di mata mahasiswa, sudah menjadi mindset bahwa ada beberapa organisasi mahasiswa yang prestigious, bergengsi. Satu diantaranya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Lihat saja, namanaya saja sudah eksekutif, secara spontan kita akan langsung megarah kepada orang elite, pejabat dan posisi penting lainnya. Dengan adanya mindset yang demikian, maka bisa saja organisasi mahasiswa hanya menjadi alat “pemuas” bagi siapa saja yang mempunyai hasrat eksistensi. Sehingga, mahasiswa bukan ingin berorganisasi di dalamnya, namun malah ingin eksis.  Sehingga akan sama antara “Mall” dan organisasi (baca: BEM); sama-sama tempat untuk eksistensi saja.

Saya akan mencoba mengilustrasikan tentang eksistensi dan esensi dalam bahasa yang lebih sederhana: ada satu bungkus makanan ringan berisi kentang goreng, sebut saja merk-nya “Tarro”. Eksistensi itu ibarat bungkus dengan merk “Tarro” sedangkan esensi ibarat kentang goreng yang merupakan isi bungkus itu. Apabila mahasiswa lebih mengutamakan eksistensi daripada esensinya, seperti bungkus kosong yang bertuliskan “Tarro” hanya bungkus saja yang bagus, namun dalamnya tidak ada isinya: kentang goreng. Sebaliknya, apabila seseorang hanya mengunggulkan esensinya saja, yaitu kentang goreng, kemungkinan besar orang tidak akan tahu bahwa di dalam bungkus itu ada kentang goreng. Jadi mana yang harus kita dahulukan—sebagai mahasiswa yang berorganisasi?

Dalam kubangan besar hedonisme dan eksistensi di kalangan mahasiwa, organisasi harus ber-ijtihad serta berpikir ulang (rethinking) tentang esensi (essence), inti dari organisasi. Mengapa perlu berpikir ulang mengenai esensi, karena organisasi kampus sudah “selesai” dengan eksistensi, dalam artian sudah dikenal oleh hampir semua kalangan mahasiswa, terliebih BEM. Saya tidak akan mengulang lagi tentang Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Ada yang lebih penting dari empat perkara itu, yaitu kesadaran. Kesadaran kita dalam berorganisasi sangat dan harus diutamakan: untuk apa kita berorganisi? Apa Niat awal kita ? apakah kita ingin ekesistensi atau esensi?

Barangkali kita semua sepakat bahwa berorganisasi adalah sarana pembelajaran yang menunjang, di luar ruang kuliah. Dalam organisasi, mahasiswa dari berbagai suku, berbagai bahasa dengan perbedaan sikap, kepribadian bahkan tujuan berorganisasi (eksistensi atau esensi) “diharuskan” berkumpul dalam suatu wadah. Namun satu hal yang ingin saya tegaskan: Tidak ada satu orang yang sukses di dunia ini, hanya karena masuk organisasi, TAPI kesuksesan seseorang karena usahanya berjuang dalam membangun organisasi. Artinya, organisasi itu bagai barang mati, kecuali ada orang-orang yang aktif ingin memberikan nafas kehidupan bagi organisasi itu.

Organisasi bukan hanya wadah “refreshing” dari kegiatan perkuliahan yang makin hari, makin mengerikan. Namun, lebih dari itu, organisasi adalah tempat belajar kehidupan. Kita tak lagi bisa menonjolkan ke-aku-anku saja, karena banyak ke-aku-an yang lain, sehingga yang terpenting adalah kita harus bisa meminggirkan hasrat pribadi; memikirkan diri-sendiri, ketika dalam organisasi. Yang diutamakan adalah kepentingan bersama, sehingga rasa tidak suka terhadap pribadi orang lain, harus coba disingkirkan, karena itu persoalan pribadi dan bukan organisasi.

Berpikir Kritis

Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi?” (Qs Yunus: 101)

Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah telah berulang-ualng mengingatkan kita untuk berpikir, dengan kalimat afalaa tatafakkarun, afalaa tatadakkarun, afalaa ta’qiluun, ditambah lagi dengan perintah untuk iqra’, membaca. Artinya, kita diharuskan untuk memfungsikan akal kita untuk berpikir mendalam, kritis terhadap apa yang ada di bumi, bahkan di langit. Bumi di mana kita berpijak adalah Indonesia, lebih kecil lagi, kita sedang berada di kampus, sebagai mahasiswa. Maka, berpikirlah dengan kritis atas situasi yang ada di sekitar kita, selalu menjadi agent of control bagi lingkungan kampus, terkhusus Fakultas Ekonomi.

Lebih lanjut, kita juga harus berpikir kritis terhadap diri kita sendiri, apakah aku masih cenderung eksistensi dan hedonis atau apakah eksistensi ku sudah mengalahkan bahkan mengaburkan esensi ku sendiri? teruslah bertanya demikian agar dalam berorganisasi, kita menjadi insan yang lebih baik. Pesan: Dahuluakan Rasional daripada Emosional !!

 

Akhirnya saya kutip pernyataan Nabi Syu’aib a.s. seperti tercantum abadi dalam kitab suci Al-qur’an: “aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Huud: 88). Wallahu ‘Alam

[1] Disampaikan dalam acara “Upgrading BEM FE UMY” di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi UMY, Sabtu, 25 Oktober 2014.

[2] Ketua Bidang Keilmuan IMM Cabang AR Fakhruddin Kota Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s