Pernikahan: Akumulasi Kapital atau Iman?

real-weddings

Fenomena yang sedang terjadi di negara kita, Indonesia adalah mengenai pernikahan artis/selebritis terkenal. Bukan hal yang harus diperdebatkan oleh banyak kalangan ketika yang melakukan pernikahan adalah orang biasa, seberapa pun mewah agenda tersebut dilaksanakan. Namun, ketika artis telah melangsungkan peristiwa sakral ini, akan terasa berbeda, meskipun diselenggarakan secara biasa-biasa saja, akan mengundang banyak pemberitaan—baik negatif maupun positif. Apa yang membedakan kedua keadaan tersebut adalah media. Di zaman informasi seperti sekarang ini, sisi positif media mempunyai peran inti dalam memberitakan suatu kejadian, tidak hanya itu tetapi di sisi lain, ia ikut mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap suatu hal/kejadian. Misalnya saja, banyaknya iklan yang ada di televisi, sedikit banyak membuat berubahnya perilaku masyarakat menjadi semakin konsumtif; tidak mampu membedakan keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Semua keinginan (wants) manusia bersifat tak terbatas, sengat dekat dengan keserakahan, akhirnya disama-samakan dengan kebutuhan (needs) yang terbatas. Begitulah gambaran media di era post-modern ini, mempunyai peran yang amat sentral.

Meskipun banyak manfaat yang bisa kita rasakan pada era informasi ini, tetapi ada beberapa hal yang menjadi persoalan, khususnya apabila media harus masuk dan memberitakan acara-acara yang seharusnya sangat private, seperti pernikahan dan (bahkan) persalinan artis. Mengapa demikian? Pernikahan merupakan acara yang sakral, harus (terpaksa) dikomersilkan, dengan dipertontonkan ke publik dengan alasan: edukasi masyarakat. Padahal, tidak sepenuhnya demikian, karena ketika suatu hal telah masuk ke dalam media (televisi, surat kabar dll), yang ada hanyalah pembicaraan mengenai rating, pangsa pasar (berapa banyak ditonton), semakin kontroversial suatu pemberitaan, semakin tinggi rating yang akan dicapai. Maka, ketika ada artis/selebritas terkenal akan melangsungkan pernikahan akan banyak tawaran dari berbagai stasiun TV untuk membeli hak penayangan pernikahan tersebut, hanya untuk satu tujuan: menaikkan rating -> peningkatan pendapatan -> akumulasi pendapatan (accumulation of capital). Hal ini tentu akan sangat menguntungkan bagi perusahaan TV yang menyiarkan.

Masuknya media ke dalam prosesi pernikahan (untuk ditayangkan ke publik) akan menggeser inti utama pernikahan: akumulasi spiritual menjadi akumulasi kapital, yang sangat menguntungkan si perusahaan penyiaran (TV) tertentu. Di sisi lain, pemaknaan pernikahan secara esensial akan tersisihkan karena telah dikomersilkan. Al-Qur’an telah memberikan pernyataan yang jelas mengenai pernikahan:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar-Ruum (30): 21).

Tiga golongan yang berhak ditolong oleh: a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

Ayat di atas dengan jelas memeberikan penekanan bahwa pernikahan adalah bagian dari tanda-tanda ke-Maha Agungan Allah, dengan esensi yang amat mulia: menjadikan ketentraman diantara dua pasangan, kasih sayang serta akan menghindarkan dari perbuatan yang dzalim. Hal ini sangat private dan sarat akan dimensi spiritual (keimanan) bukan material (hingar-bingar, pesta ria), karena itulah seharusnya pernikahan mengarahkan ke arah akumulasi spiritual (keimanan), pertambahan iman yang terus-menerus. Bukan tanpa sebab, keimanan akan sangat dibutuhkan dalam kehidupan berumah tangga, sebagai pondasi dasar.

Hubungan pernikahan tak selamanya menyenangkan, mengasyikkan kadang itu juga sangat membosankan, begitulah kiranya analisis saya, yang notabenenya belum pernah mengalami kehidupan berumah tangga. Tanpa keimanan yang kuat, menurut hemat saya, pernikahan tidak akan meraih esensi pernikahan yang hakiki: ketenteraman hati dan kasih sayang. Pandangan materialistik yang mendominasi kehidupan pernikahan akan selalu melihat pasangan hanya sebagai materi, layaknya suatu yang bersifat material: HP, mobil, rumah, begitu pula pasangan dipandang tidak lebih sebagai objek materi. Akumulasi keimanan yang menjadi penopang utama pernikahan akan selalu berhadapan dengan pandangan materialistik semacam itu.

Akhirnya, pernikahan yang sarat akan nuansa spiritual bisa menjadi hal yang tanpa makna, gersang, ketika nilai keimanan harus dikorbankan demi komersialisasi yang sangat materialistik dan menguntungkan pihak tertentu, secara materiil (profit, keuntungan) sehingga akumulasi iman terpaksa harus tersingkir, dipaksa kalah oleh akumulasi kapital. Wallaahu A’lamu bis-Shawaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s