Simbah dan Ulang Tahun

simbah

Ada percapakan menarik yang sempat saya lakukan dengan Simbah Putri (nenek), dan entah mengapa percapakan ini selalu saya ingat hingga saat ini.

“Mbah, sakniki umure simbah sampun pinten?”, tanyaku dengan bahasa Jawa krama sebisaku. Pertanyaan itu kurang lebih artinya: “Berapa umur nenek sekarang?”.

Dengan sangat santai beliau menjawab, “Aku wis lali le[1], piro umurku saiki”. Artinya:”saya sudah lupa nak, berapa umur saya sekarang”.

Dialog singkat di atas selalu membuat saya berpikir, apa sebetulnya makna atau esensi dari ulang tahun yang sekarang ini sudah menjadi barang yang “wajib” untuk dirayakan, bahkan terkesan dipaksakan? Begitu pentingkah umur untuk dihitung-hitung dan dirayakan setiap tahunnya? Apakah dengan cara merayakan pertambahan umur, sudah barang tentu kita berarti menghormati umur?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu membuat saya berpikir dan sekaligus merenungi dialog saya dan mbah putri, yang sudah tidak ingat (lagi) berapa umurnya saat ini. Padahal, beliau masih sangat bugar dan energik untuk orang seumuran beliau. Ditambah, sholat jamaah di musholla yang tak pernah beliau tinggalkan, meskipun berjarak cukup jauh dari rumah. Serta pengajian dan majlis ta’lim yang selalu beliau hadiri, meski pendengaran yang tidak lagi baik. Gambaran inilah yang membuat saya sekali lagi mempertanyakan, merayakan umur (ulang tahun), apakah mampu merefleksikan hidup selama di dunia, untuk mempersiapkan mati yang baik (khusnul khatimah)?

Tulisan ini tidaklah bertujuan untuk melarang dan mengharam-haramkan perayaan ulang tahun yang selama ini telah dilakukan, hanya saya mencoba merefleksikan dan menelusuri substansi dan makna dari perayaan ulang tahun. Barangkali, ulang tahun yang selama ini banyak dirayakan hanya sebatas hura-hura, makan-makan dst., tanpa ada makna yang sebetulnya bisa bersama dipetik dari perayaan tahunan ini.

***

Kegelisahan saya muncul ketika melihat beberapa kejadian yang hampir mirip satu dengan kejadian yang lain tentang: cara memberi selamat ketika seseorang berulang tahun. Barangkali kejadian seperti melempari telur busuk, tepung terigu sampai air comberan (serta berbagai cara lain yang serupa) kepada seorang yang berulang tahun sudah biasa menjadi tontonan yang “asyik” bahkan menghibur sebagian kalangan. Fenomena inilah yang saya sebut di awal sebagai perayaan (pengucapan) ulang tahun yang berlebihan dan bahkan terkesan dipaksakan.

Sekarang kita sudah berada di zaman teknologi dan hidup pada tatanan dunia yang modern, bukan jahiliyyah, dimana martabat manusia dijunjung tinggi di hadapan manusia yang lain. Kejadian-kejadian perayaan ulang tahun yang tidak menghormati nilai dan martabat manusia kiranya perlu dirubah sedikit demi sedikit ke arah yang lebih produktif.

Makna ulang tahun adalah introspeksi diri, ngaca diri. Moment ini harusnya digunakan untuk ngaca diri, mengevaluasi total segala kekurangan tahun-tahun yang lalu. Maka, seyogyanya bisa merubah gaya-gaya lama (lempar telor, tepung dsb.) ke arah yang produktif. Misalkan saja, kita “lempari” saja dia yang berulang tahun dengan kritik dan evaluasi selama setahun belakangan. Apa yang kurang baik, dari perbuatan, sifat dan lainnya yang selama ini telah dilakukan. Hal ini dimaksudkan supaya dia (berulang tahun) mampu menilai dirinya sendiri, dari kacamata orang lain. Penilaian ini tentu saja harus membangun dan disampaikan secara sopan. Saya kira hal-hal ini akan mampu memberikan perbaikan bagi dia (yang berulang tahun) dan orang lain di masa yang akan datang.

Menghitung umur bukanlah suatu hal yang penting, jika dibandingkan dengan merenungi berapa banyak dari jumlah umur kita, yang telah kita habiskan untuk berbuat baik, seperti hadist Nabi SAW yang berbunyi:

“Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan  (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?”—(Sunan At-Tirmidzî).

Dari hadist di atas, umur ditempatkan di tempat pertama dari empat pertanyaan yang akan ditanyakan Allah:”tentang umur untuk apa ia habiskan?” Maka dari itu, refleksi diri menjadi hal yang utama dan penting: untuk apa umur yang sudah kita habiskan selama ini? Sehingga, belum tentu orang yang merayakan ulang tahun benar-benar sudah menghormati umur, jika ia tidak mampu dan tidak menjadikan pertambahan umurnya sebagai sarana untuk berpikir dan merenung tentang umur yang telah ia habiskan selama ini. Sebaliknya, orang yang sudah merenungi mengenai perbuatan (baik maupun buruk) yang telah ia lakukan selama ini, tanpa harus merayakan ulang tahun dengan berbagai cara tadi, sudah menjadi orang yang menghormati umurnya.

***

Mengenai Simbah putri, saya menangkap aroma sufi dalam percakapannya.

Beliau yang tidak lagi peduli dengan perayaan umur dengan berbagai caranya itu, menurut penilaian saya, sangat sufistik. Tidaklah penting untuk selalu mengingat umur-umur kita, jika kita pun tidak tahu makna dari umur-umur kita sendiri.

Barangkali simbah sudah memahami bahwa segala perayaan ulang tahun, yang setiap tahun rutin dilakukan itu tidak akan banyak memberikan “bekal” untuk hidup di kehidupan selanjutnya, terutama bagi mereka yang tidak tahu untuk apa saja ia habiskan umurnya selama ini.

[1] Kata le merupakan penggalan dari kata thole, bisa diartikan anak; nak. Kata ini biasa dipakai orang tua (Jawa) untuk memanggil anak atau cucunya dengan bahasa yang akrab.

One thought on “Simbah dan Ulang Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s