Menjadi kekanak-kanakan: Suatu Ikhtiyār mengorganisir Diri[1]

Jpeg

Arif Widodo[2]

Pendahuluan

Ada kelakar menarik dari Sujiwo Tedjo yang ia lontarkan di salah satu acara tv swasta, membuat saya ingin memberi judul tulisan kecil ini dengan kelakarnya itu. Kurang lebih Ia menyatakan:

“….menjadi kekanak-kanakan yang abadi itu baik untuk pemimpin Indonesia, karena kanak-kanak tidak memiliki rasa takut, tidak punya rasa dendam. Kalau berantem pagi, sore harinya sudah bersikap seperti tidak perbah terjadi apa-apa..”[3]

Bagi saya pernyataan itu sangat menarik. Mengapa? Begitu banyak persoalan dalam orang-orang dewasa—termasuk kita—yang sebetulnya terjadi juga dalam diri anak-anak, dan solusinya pun ada dalam kebiasaan yang kita selalu remehkan. Pertengkaran, permusuhan, iri, dan dengki itu lah sifat buruk manusia,dan hampir semua manusia pernah mengalami hal itu, meskipun sedikit. Kanak-kanak pun merasakan hal-hal itu. Yang menjadi perbedaan adalah cara penyelesaiannya yang unik dan hanya dimiliki oleh mereka (kanak-kanak): perasaaan tanpa dendam, selalu berani menghadapi pada hal-hal baru, dan memaafkan kesalahan dengan cepat merupakan cara unik kanak-kanak yang langka kita dapati dalam diri orang dewasa. Bukankah kanak-kanak itu sangat spiritualis?

Orang dewasa telah banyak terpengaruh oleh iklan-iklan media massa yang sadar atau tidak telah banyak merubah perilakunya ke arah yang lebih materialistic. Sehingga, dimensi keluhuran dan kejernihan jiwa yang ada pada kanak-kanak tenggelam dalam arus besar materialism, yang telah banyak mengombang-ambingkan manusia. Lihat saja, iklan yang dibungkus dengan berbagai macam dalih dan argumemtasi yang amat menarik—bahkan dalil agama—telah membuat masyarakat terperdaya oleh iklan; mulai dari iklan alat mempercantik wajah sampai iklan jualan “Ka’bah”.

Arus materialism (yang penting HANYA materi) itu yang lama-kelamaaan menyingkirkan masalah-masalah spiritualitas—seperti yang dipunyai kanak-kanak—serta menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman. Hasrat manusia yang ditandai dengan keinginan yang tak akan pernah habis terhadap materi, terus dipelihara bahkan dimanjakan dengan iklan-iklan yang ada. Sehingaa, masyarakat kian lama semakin menjadi individualis. Karena mementingkan hawa nafsunya sendiri, manusia mengarahkan focusnya tidak lagi pada kemashlahatan bersama (kolektif), namun pada kenikmatan material individu; diri-sendiri.

Kolektif, jama’ah, merupakan spirit yang ada di semua organisasi. Maka, menjadi sangat berbahaya jika mahasiswa yang merupakan bagian dari masyarkat menjadi indivisualis, bahkan sampai pada taraf hedonis. Sehingga, psikologi mahasiswa (bahkan masyarakat) menjadi hanya orientasi kenikmatan yang merupakan hasil dari pemuasan hawa nafsu (hasrat). Kegiatan social, kegiatan organisasi yang sama sekali tidak membuat kenikmatan (material) bagi dirinya akan ditinggalkan. Lebih parah, satu-satunya tolak ukur kehidupan adalah kenikmatan yang didapatkan dari pemenuhan hasrat materialnya. Akhirnya, yang ada dalam dirinya hanya materi, hedonism menjadi “sahabat karib” dalam mengarungi kehidupan. Sebagaimana Hedonism dalam Encyclopedia Britannica yang diartikan sebagai “….the doctrine that pleasure or happiness is the chief good”. Maka rumusan sederhananya menjadi hedonism = konsumerisme + hawa nafsu manusia.

Manusia: antara Qabil dan Habil

Sebelum mengorganisir atau mengatur diri kita sendiri, ada hal yang penting yang harus dibicarakan terlebih dahulu, mengenai kita: manusia. Syari’ati[4] mendefinsikan manusia sebagai gabungan dari Ruh Allah dan Tanah lempung.

Manusia = Ruh Allah + lempung busuk

Manusia diciptakan dari dua unsure yang saling bertentangan. Ruh Allah adalah symbol dari kemuliaan, kesucian dan kesempurnaan sedangkan lempung busuk merupakan symbol kerendahan, ketamakan kerakusan. Dua-duanya ada dalam setiap manusia, tidak bisa dipungkiri. Sehingga, manusia sebuah makhluk dialektis, yang di dalam dirinya terdapat pertentangan antara kesucian dan keburukan (hawa nafsu). Manusia yang bertaqwa adalah yang selalu berusaha secara terus-menerus untuk menjauhi kutub keburukan menuju kutub kesucian. Sebagaimana hal tersebut digambarkan di dalam Al-Qur’an dengan kisah Qabil dan Habil:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Al-Māidah: 27)

Qabil adalah symbol dari keburukan perilaku manusia, ketamakan pada materi; individualistic. Sebaliknya, Habil adalah lambang manusia bertaqwa yang menjauhi kebencian dan kerakusan duniawi. Apa yang termaktu dalam Qur’an akan tetap relevan hingga akhir zaman.

Kecenderugan untuk memuja-muja materi sudah terbukti. Seperti yang saya tuliskan di awal tulisan bahwa hawa nafsu manusia pada materi dijadikan bahan yang ampuh untuk menyebarkan budaya  “….that an increasing consumption of goods is economically desirable”[5]. Itulah konsumerisme.

Zaman ini dinamai oleh kalangan intelektual barat  dengan post-modern yang menjadikan relativisme menjadi doktrin utamanya. Artinya, zaman ini adalah zaman yang serba relative; nisbi, tidak ada lagi yang mutlak, tidak ada lagi yang bisa men-judge halal-haram hal tertentu—termasuk agama. Agama Islam tidak boleh menyatakan bahwa Islam adalah agama yang benar. Itu dilarang. Ini yang akan semakin memperparah keadaan mahasiswa sekarang ini, organisasi tidak lagi mampu memberikan kenikmatan material, karena memang bukan itu “ruh” organisasi. Ada lagu barat yang saya lihat sebagai perwujudan post-mo dalam lagu, seperti lagu Miley Cyrus yang berjudul We Can’t Stop, di beberapa liriknya ia menyayikan:

It’s our party we can do what we want
It’s our party we can say what we want
It’s our party we can love who we want
We can kiss who we want
We can see who we want

………..

So la da di da di, we like to party
Dancing with Miley
Doing whatever we want
This is our house
This is our rules
And we can’t stop
And we won’t stop
Can’t you see it’s we who own the night
Can’t you see it we who bout’ that life
And we can’t stop
And we won’t stop
We run things, Things don’t run we
We don’t take nothing from nobody

Itulah lagu yang menggambarkan betapa hasrat menusia dijadikan titik berangkat; pedoman dalam hidup manusia zaman ini. Jadi, hasrat yang ditonjolkan, serta dibungkus dengan relativisme, menjadikan kehidupan tidak beraturan Sehingga, tidak ada aturan baku, semua sesuai dengan kenikmatan (material).

Beberapa Kunci

Manajemen diri hanya soal seberapa kuat usaha kita untuk menuju kepada kemuliaan (sisi Ruh Allah) daripada mengarah kepada lempung busuk: kerendahan. Nafsu atau hasrat menjadi musuh utama manusia yang harus secara terus menerus dijauhi, dan melangkah ke arah kemuliaan, kesempurnaan “ ….hanya kepada-NYA kita kembali”. Artinya, kita harus berikhtiyar selalu menuju kepada Allah SWT, sumber kesucian dan kemuliaan jiwa.

Menjadi kekanak-kanakan dalam arti positif menjadi titik balik kita manusia dewasa untuk merenungi dan menggali lebih dalam, kayanya spirit kejernihan dalam kanak-kanak untuk membangun manajemen diri yang baik. Konflik antar orang menjadi hal yang biasa dalam organisasi, namun butuh kedewasaan (belajar dari kanak-kanak) untuk memberikan ruang pada akal sehat daripada nafsu: takiyatu an-nafs. Wallahu a’lamu bi shawāb

[1] Pengantar Diskusi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kafilah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa 2 Juni 2015.

[2] Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IMM AR FAKHRUDIN

[3] https://www.youtube.com/watch?v=5uaBtOaTNLw diakses pada 2 Juni 2015.

[4] Ali Syari’ati, Paradigma Kaum Tertindas, (Jakarta: Al-Huda, 2001), hal. 79

[5] http://www.britannica.com/dictionary/consumerism diakses pada 2 Juni 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s