:tentang Wisuda dan Kegembiraan yang Menyertainya

wpid-p_20151017_114334.jpg

Wisuda, sebagaimana jamak diketahui orang, adalah acara tahunan–di beberapa kampus merupakan acara kuartalan tergantung jumlah mahasiswa–, yang diadakan sebagai tanda kelulusan seseorang secara formal dari suatu perguruan tinggi. Dari titik inilah para sarjana benar-benar telah menjadi sarjana, karena telah menerima ijazah (syahādah; persaksian), tanda kelulusan, yang dengannya mereka para sarjana bisa ‘menawarkan’ diri untuk masuk dalam pusaran pasar tenaga kerja; dimana pertemuan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja bertemu. Intinya: persaingan, akan segera dimulai.

Sebagai tambahan informasi bahwa ijāzah, dalam ilmu shorf merupakan masdar dari fi’il ajāza-yujīzu yang berarti membolehkan. Bagi kaum santri, ijāzah sering dimaknai bukan dalam arti fisik seperti hitam di atas kertas putih, namun lebih mendalam dari itu, ijāzah bermakna izin, dibolehkannya seorang santri oleh Kyai untuk menyebarluaskan ilmunya. Karena kyai sudah menganggap santrinya telah mampu mempertanggung jawabkan ilmu yang sudah didapatkannya. Makna yang sangat mendalam !

Di samping persoalan persaingan seperti dijelaskan di atas, ada persoalan lain yang harus juga diperhatikan: Hal yang tidak bisa dihindari adalah persaingan itu sendiri, akan tetapi pengecualian untuk tidak ikut dalam “persaingan” juga sangat mungkin terjadi,  jika beberapa hal di bawah ini terjadi:

Pertama, Lulusan (sarjana) adalah keturunan pemilik perusahaan besar, baik garis keturunan langsung maupun dari keluarga besar perusahaan. Tentu, tanpa persaingan yang pelik, ia akan dengan mudah masuk dan menjadi karyawan dari perusahaan tersebut. Dalam bahasa kaum Marxis, lulusan sarjana type inilah yang menguasai factors of production; alat-alat produksi, untuk, tentu saja mendapatkan akumulasi kapital–dalam hal ini pekerjaan.
Kedua, Koneksi dan jaringan dengan para petinggi perusahaan atau “orang dalam”. Faktor ini masih dominan terjadi sehingga menjadikan persaingan yang tidak adil (unfair competition) terutama bagi mereka yang tidak mempunyai koneksi “orang dalam”. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua perusahaan mengumumkan lowongan posisi secara terbuka, tapi sebaliknya, publikasi dilakukan secara terutup dan hanya orang-orang tertentu yang mampu mendapatkan akses informasi. Dan mereka yang mempunyai koneksi dengan orang dalam akan sangat mudah mendapatkannya.

Paling tidak dua hal di atas, yang sebagian besar menjadi hambatan bagi mereka para sarjana yang tidak mempunyai “alat-alat produksi”, untuk masuk menjadi karyawan di perusahaan tetentu. Apabila diasumsikan bahwa dalam suatu persaingan tidak terdapat dua hal di atas, maka dapat dipastikan persaingan yang competitive akan terjadi, persaingan yang murni sesuai kemampuan individu masing-masing. Hasilnya, yang benar-benar memenuhi kualifikasi akan memenangkan persaingan dan yang tidak, harus terus mencoba.

Perayaan wisuda juga bisa dipahami sebagai “jembatan” yang akan memisahkan dua dunia, yaitu: dunia kampus; akademis; yang idealis dan dunia nyata; riil dan bahkan pragmatis. Pernyataan dan pemahaman semacam itu tidak sepenuhnya salah, apabila dilacak dari keadaan yang menyebabkan pemahaman itu muncul. Banyak yang mengakui bahwa apa yang dipelajari di kampus–dalam hal ini mata kuliah–tidak selalu dapat dipraktikkan (practiceable) dan relevant dengan kenyataan di lapangan atau dunia kerja. Latar belakang yang selalu menghadapkan teori vis á vis praktek akan menyebabkan pemahaman bahwa terjadi dikotomi: antara dunia kampus dengan dunia kerja/nyata.

Dikotomi dunia kampus dan dunia nyata, apabila dilihat melalui perspektif Teori Strukturasi Giddens, akan menempatkan seorang sarjana (lulusan) sebagai agent, actor yang akan memasuki struktur masyarakat (dunia kerja) tertentu yang sudah lama berjalan. Dalam hal ini agent akan mencoba untuk merubah struktur yang ada dan sudah berjalan dalam waktu lama, namun tidak semua struktur itu bisa dirubah secara total sesuai kehendak agent, pasti tersisa struktur lama yang belum mampu dirubah. Misalnya, para Rasūlullāh (shallū ‘alaihim) sebagai agent , actors Allah yang diutus untuk merubah struktur masyarakat yang masih berada dalam kegelapan. Dari semua Rasul yang diutus dengan paradigma profetis memang mampu merubah struktur masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun, tidak dapat merubah secara keseluruhan, artinya masih ada struktur lama yang belum mampu dirubah. Nabi Nuh misalnya, anak bersama sisa umatnya yang belum mau dirubah harus ikut hanyut bersama banjir besar, Nabi ‘Isa As. yang ummatnya terjerumus dalam penyelewengan terhadap isi kitab Injil dan tariikh Nabi dan Rasul lain yang menceritakan mengenai struktrur masyarakat yang terjerumus pada penyelewengan dan tetap pada struktur lama yang buruk. Singkatnya, penyelewengan masih saja dilakukan pada struktur masyarakat, yang dahulunya sudah pernah dirubah oleh para anbiyā’.

Analogi itu setidaknya bisa menggambarkan bahwa agent, sarjana dengan teori-teori bangku perkuliahan tidak sepenuhnya mampu mengubah struktur yang sudah ada (sering disebut dunia “nyata”; dunia kerja), karena tentu saja struktur juga berubah sesuai kondisi dan zaman. Karena zaman selalu berubah dengan pesatnya, agent juga harus mempersiapkan diri dengan keadaan zaman yang di masa datang akan menjadi semakin kompleks.

Regionalizm menuntut untuk membentuk aktivitas perekonomian, politik, sosial berbasis pada kawasan, akhirnya muncul di Asia Tenggara yang sering disebut AEC (Asean Economic Community) yang merupakan tindak lanjut dari Bali Concord II. Struktur masyarakat akhirnya ikut berubah, karena persaingan antar negara dalam berbagai bidang, terutama SDM juga meningkat. Tenaga ahli (skilled-labor) semakin bebas memasuki Indonesia dan tentu saja, ikut masuk dalam “persaingan”, sebagaimana dijelaskan di awal.

Selain hal-hal di atas, ada SATU yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegembiraan wisuda adalah melihat senang dan syukurnya para orang tua melihat anaknya diwisuda. Betapa bangganya mereka mampu menyekolahkan anaknya hingga PERGURUAN TINGGI, satu cita-cita yang mungkin para orang tua wiaudawan/ti tidak bisa menikmatinya. Itulah SATU hal yang menurut saya pribadi arti penting wisuda, seandainya itu tidak ada, saya kira wisuda tidak akan begitu menarik.

Untuk teman-teman, sahabat saya yang belum sempat bertemu:

Akhirnya, Selamat atas wisudanya !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s