Mahasiswa sebagai Agent of (Change?) Dramatic Class di era Kapitalisme Pasca-Fordis[1]

pasca-fordis

Mahasiswa sebagai Agent of Change Dramatic Class di era Kapitalisme Pasca-Fordis

Arif Widodo[2]

Pengantar

Mahasiswa, sebagaimana kamu, kalian, mereka—bahkan saya, sering mendengar penyataan dan lontaran orasi para senior selalu menegaskan kurang lebih seperti: “sebagai mahasiswa kita tidak boleh lepas dari tanggung jawab besar sebagai agent of change, agen perubahan yang akan merubah keadaan social yang tidak adil”, “Hancurkan kapitalisme !” dst., dibarengi dengan mimic dan gaya yang tak kalah sangar dan kece jika dibandingkan dengan Soekarno, tanpa sadar, kita ikut dalam gelora semangat itu tanpa benar-benar tahu konteks atau permasalahan apa yang harus kita—mahasiswa, ubah. Mungkin akan ada yang menjawab: “Maklum mas, masih mahasiswa baru! Atau “saya ke sini untuk belajar biar bisa bekerja setelah lulus”, “untuk apa harus pusing-pusing ngurusin masalah yang tidak ada untungnya buat saya” dst.  Hal semacam ini sangat lumrah ditemui tidak hanya pada mahasiswa baru, bahkan pada mahasiswa yang bertahun-tahun kuliah, juga akan menjawab dengan jawaban yang tidak jauh berbeda dengan jawaban-jawaban itu. Maka, perlu analisis yang mendalam dalam melihat permasalahan social hari ini,  siapa dan bagaimana realitas mahasiswa saat ini di tengah-tengah arus globalisasi informasi yang tanpa batas.

Sebelum beranjak lebih jauh, pengertian yang jamak diketahui bahwa mahasiswa berarti siswa yang ‘maha’; maha yang bisa ditafsirkan derajat paling tinggi diantara para ‘siswa’, karena dari Sekolah Dasar hingga Menengah Atas, siswa tetap disebut ‘siswa’ yang tanpa “maha”. Ditambah, mahasiswa menuntut ilmu di tempat yang ‘tinggi’ yang jamak diketahui orang sebagai Perguruan Tinggi (juga Sekolah Tinggi), sehingga tidak heran sebutan mahasiswa hanya disematkan bagi mereka yang mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan tertinggi itu, bisa berupa Universitas, Sekolah Tinggi, Institut juga Akademi. Karena dianggap berada pada tempat yang ‘tinggi’ maka sering ada pernyataan “mahasiswa jangan hanya berdiri di menara gading, harus mau terjun dan mengubah keadaan masyarakat”, artinya, mahasiswa jangan hanya belajar (ber-teori) di kampus (Universitas) yang juga perguruan ‘tinggi’ namun harus mampu membaur; menyatu bersama masyarakat. Maka tidak heran jika kita menemukan artikel dan bacaan-bacaan ringan yang membahas mengenai peran mahasiswa sebagai agent of change, agent social control dan Iron Stock. Ketiga peran itu merupakan peran mahasiswa dalam rangka ‘membumi’ atau ‘terjun’ dari menara gading yang tinggi, seperti pernyataan sebelumnya.

Tiga peran besar mahasiswa itu, mau tidak mau, harus berhadapan dengan realitas dunia pendidikan kita saat ini, yang seolah mengajarkan mahasiswa tidak untuk menjalankan ketiga perannya, baik sebagai actor perubahan, control social atau aset bangsa, tapi menjadikan mahasiswa hanya sebagai calon-calon pekerja yang siap memasuki ‘pasar’ tenaga kerja—tanpa perlu memperdulikan tiga peran besar itu. Pendidikan yang mengarahkan kepada pragmatism dan hedonism[3] akan juga melahirkan outcome manusia yang individualis dan mementingkan kepentingan dan kenikmatan dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain, apalagi orang miskin atau mustadh’afūn; yang dimiskinkan. Lebih lanjut, pragmatism pendidikan bisa berupa pendidikan yang berorientasi pada ‘nilai’ (A, B, C dst) dan akreditasi semata, tanpa melihat tujuan pendidikan tinggi itu sendiri, yang sering disebut sebagai Tri Darma Perguruan Tinggi meliputi: pendidikan dan pengajaran, riset dan penelitian juga pengabdian kepada masyarakat. Karena orientasi nilai menjadi acuan, maka bisa dipastikan bahwa focus PT hanya pada pendidikan dan pengajaran, yang akibatnya mengkerdilkan dua hal penting lain: penelitian dan pemberdayaan masyarakat. Pendidikan Indonesia pada umumnya, seperti dijelaskan sebelumnya, sudah disibukkan dengan urusan nilai, dari Sekolah Dasar—bahkan kalian dan kita rasakan juga—hingga Perguruan Tinggi tak pernah luput dari urusan ‘nilai’; mirisnya, nilai agama sudah tak begitu dipedulikan. Miris, bukan?  Belum lagi rezim akreditasi yang meskipun baik dari satu sisi, namun dampak negative cukup besar, sehingga seolah-olah akreditasi adalah “lahan” untuk memasarkan pendidikan. Ini salah satu realitas pendidikan yang perlu kita cermati bersama dalam mendudukkan mahasiswa supaya mampu menjalankan perannya, meskipun di tengah pendidikan yang mengarah kepada hedonism ini.

Pendidikan yang tidak lagi menjadi wadah untuk mendidik para mahasiswa, melainkan membuat mindset pengejar nilai ini, mirisnya telah mengarah pada business-isasi, seyogyanya dianalisa dari spectrum dan konteks yang lebih luas, yaitu dari keadaan dunia yang tidak bisa lepas dari genggaman ekonomi kapitalisme pasca-Fordis (perkembangan kapitalisme pasca runtuhnya Fordisme) yang telah merasuk ke hampir semua lini kehidupan masyarakat, sehingga mampu merubah tatanan masyarakat menjadi semakin konsumtif. Produk diciptakan tidak lagi (hanya) untuk memenuhi kebutuhan konsumen, tapi produk dipasarkan supaya masyarakat tahu apa yang diinginkannya, sehingga kebutuhan tidak secara normal ada, tapi harus diciptakan; by design. Tidak heran, pendidikan juga dipengaruhi cara berpikir neo-lib ini. Tulisan sederhana ini akan membahas mengenai: Mengapa mahasiswa sebagai dramatic class? apa yang dimaksud dengan dramatic class? Bagaimana melihat konteks dunia di bawah kapitalisme pasca-fordis dalam mempengaruhi pendidikan? Posisi mahasiswa sebagai individu dan kolektif? Pertanyaan ini akan dijawab dengan tafsiran penulis, sehingga masih terbuka untuk dikritik dan komnetar, karena ini hanya tafsiran.

Dramatic Class dan Mahasiswa

Ada artikel menarik dari Hizkia Yosie Polimpung yang berjudul “The Rise of Dramatic Class: On the psychic of Neoliberalism’s Homo Economicus in the Era of New Media (2015), menjelaskan secara mendalam dan sangat filosofis mengenai dramatic class sebagai fenomena yang baru dengan adanya media-media social seperti Facebook, Twitter dan semacamnya, jadi medsos adalah pendudukung eksistensi kelas dramatic ini.

Akhir-akhir ini, dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat telah merubah perliku masyarakat, terlihat dari banyaknya pengguna media social—termasuk kita, yang mengunggah konten-konten pribadi, seperti menu makanan, tangisan, kesenangan, air mata, persalinan bayi, bahkan Sholat ! semua disebarkan di ruang public, entah dengan tulisan “status”, “tweet” atau selfi, secara random.[4] Hal ini yang disebut Hizkia sebagai fenomena baru, satu sisi, semua manusia punya drama kehidupan masing-masing (kesedihan, galau, putus cinta bahkan Jomblo !), tapi satu sisi, mempublikasikan hal yang seharusnya prifat (publicized  private) dalam ruang public melalui media social adalah hal yang sekali baru. Tidak jarang, di FB diperlihatkan foto orang sedang menangis karena putus cinta, atau karena bertahun-tahun jadi Jomblo (ini biasanya anak-anak SMA alay), secara tidak beraturan. Inilah yang disebut dengan konten-konten drama. Bagaimana dengan kita—mahasiswa? Barangkali tidak jauh berbeda, bahkan melebihi itu.

Drama, bisa ditafsrikan dengan aktivitas yang bertujuan untuk membuat penonton paham akan majsud yang akan disampaikan dari ‘cerita’ yang dibuat, dengan dilengkapi adegan-adegan diperankan oleh actor-actress yang ada. Artinya, penonton menjadi factor penting disini, tanpa penonton, drama tidak akan menjadi drama at all. Para pengguna medos, termasuk mahasiswa akan mencoba memainkan drama ini untuk membuat para penonoton (pengguna medsos yang lain) paham ‘alur drama’ yang diciptakan dengan mempublik-kan hal private. Ini hal pertama yang perlu diketahui.

Proses dramatisasi, adalah hal kedua yang harus diketahui, bagaimana proses men-dramatisasi ini berlangsung, Hizkia menjelaskan dengan mendasarkan argumennya dengan apa yang dikatakan Jacques Lacan mengenai gagasan sublimasi, berikut ia jelaskan:

As sublimation, dramatization is then an act of staging a personal story by enclosing it in a socially accepted values in a way that might be of the interest of social others…dramatization consists in a move to fictionalize a plot or a story, imbuing it with socially relevant contents and performing it publicly.[5]

Dramatisasi, bisa ditasirkan sebagai aktivitas mementaskan cerita/drama pribadi seseorang, dengan cara mempublikkan-nya dengan media social, sesuai dengan nilai yang diterima oleh masyarakat banyak supaya mereka (penonton) mengerti dan mau menikmati pertunjukkan drama ini. Pelaku dramatisasi ini disebut subjek drama. Jadi, tujuannya tidak lain adalah untuk “being the locus of attention”.[6] Misal, seperti mahasiswa yang menggunakan produk Apple atau Macbook, bukan karena benar-benar ingin memekainya karena kebutuhan, tapi what we’re seen as ketika menggunakan produk Apple. Menjadi pusat perhatian, sebagaimana drama yang bertujuan untuk membuat penonton ikut memperhatikan, adalah tujuan dramatisasi ini, yang banyak dilakukan oleh kita, mahasiswa. Dalam hal ini, dramatitasi harus mempunya identity; sedangkan identitas tidak akan pernah ada tanpa masuk ke dalam relasi tertentu (panggung drama) serta adanya the others atau yang lain. Maka perlu adanya the others untuk mengukuhkan dramatisasi ini, the others ini tidak hanya terpaku pada manusia.

Dalam konteks ini, maka dramatisasi membutuhkan the others, yakni penonton itu sendiri. Media social, sebagai panggung pementasan drama, tidak lagi membutuhkan penonton yang eksis, artinya bisa kita lihat, namun penonton yang tak terlihat, dan cukup dengan me-like, “comments”,” retweet”, tanpa ada status fisik yang jelas itu juga disebut sebagai penonton. Tanpa adanya, fitur-fitur seperti disebut tadi, drama tidaklah eksis.

Penjelasan di atas, paling tidak memberikan wahana berpikir baru, apakah mahasisawa sekarang ini sebagai agent of change atau actor pementasan drama, dengan plot yang ia dramatisir sendiri kemudian di’pentaskan’ melalui akun-akun media social yang ia punya. Disinilah mahasiswa, ditempatkan sebagai dramatic class, yang eksis berperan dalam kehidupan maya dengan mempublikkan perihal yang harusnya private.

Konteks Sosial: Ketika Pasca-Fordis jadi Trend

Kapitalisme telah berkembang begitu pesat, diringi dengan perkemangan teknologi dan informasi yang tidak kalah cepat, menjadikan keadaan social abad ini semakin kompleks. Beberapa literature memeberikan istilah kapitalisme yang berkembang pada tahun 1950an dengan nama Kapitalisme Fordis, atau Fordisme, diambil dari nama Henry Ford.[7] Sedangkan Pasca-Fordis adalah ‘label’ yang masih diperdebatkan, namun intinya mengarah kepada kapitalisme setelah Fordisme, yang akan dielaborasi lebih jauh. Ford banyak memberikan penemuan yang signifikan dalam industry mobil, terbukti dengan inovasi mobil T yang ia gagas, mampu menembus pasaran Eropa bahkan Jepang.[8] Sedangkan istilah pasca-fordis lahir karena pada masa sebelumnya terdapat kapitalisme Fordis. Di sini akan coba dijelaskan mengenai karakteristik kapitalis Fordisme dan Pasca-Fordis sebelum nanti akan diperdalam kaitannya dengan peran mahasiswa yang berada dalam konteks social ini.

Kapitalisme Fordis, mempunyai 4 karakteristik mendasar: Pertama, produksi massal yang dilakukan oleh buruh yang semi terampil. Hal ini bisa dimungkinkan terjadi karena dalam masa kapitalisme Fordisme, prosuksi massal ini akan menemukan konsumennya sendiri, tepat seperti yang dinyatakan oleh para ekonom klasik “supply creates its own demand”. Produksi inilah yang pada akhirnya nanti coba dirubah logikanya oleh pasca runtuhnya Fordis, yang akan dijelaskan selanjutnya. Kedua, peningkatan produktivitas pekerja dengan memanfaatkan skala ekonomis; maksimalisasi profit dengan peningkatan produksi yang besar sehingga biaya produksi bisa ditekan[9] dan investasi besar-besaran untuk mendukung adanya produksi yang lebih besar, agar mendapatkan (lagi), skala ekonomis. Ketiga, pembagian kerja dengan tetap pengambilan keputusan pada tataran pusat, dan keempat, standarisasi konsumsi masyarakat yang dikuatkan dengan kebijakan ekonomi keynessian dengan welfare-state. Akhirnya, pada tahun 1960-an Fordisme harus tumbang karena resesi ekonomi, dan digantikan dengan—yang masih menjadi perdebatan para akdemisi—sebagai Pasca-Fordis. Ini merupakan bentuk baru dari logika yang sama: kapitalisme itu sendiri.[10]

Terjadi perubahan-perubahan yang cukup signifikan dari Fordisme menjadi Pasca-Fordis ini, paling tidak, bisa dilihat dalam cara produksi dan konsumsinya: Pertama, model produksinya tidak lagi massal sebagaimana Fordis namun lebih memilih spesialisasi, tidak homogen. Spesialisasi ini dimaksdukan untuk men-create kebutuhan, sehingga setiap ada produk yang baru harus menawarkan differnsiasi/spesialisasi, dengan spesialisasi produk melalui spesifikasi yang berbeda misalanya, membuat konsumen membutuhkan hal itu, begitu seterusnya. Sehingga, produksi pun diatur sedemikian rupa agar tidak  mampu diserap oleh kosumen dari berbagai kelas ekonomi; kelas menengah ke bawah tidak akan mampu membeli, misalnya iPhone atau Macbook dengan harga puluhan juta, maka dibuat produk yang mampu dijangkau oleh kalangan menengah, tanpa harus menghentikan produksi produk yang harganya selangit itu (puluhan juta misalnya), karena produk itu memang tidak untuk dikonsumsi masyarakat ekonomi menengah tetapi untuk mereka yang berada di kelas atas. Modus produksi yang demikian ini yang secara mendasar membedakannya dengan model produksi kapitalisme sebelumnya: Fordisme. Kedua, pola konsumsi tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, namun bagaimana cara dengan segala upaya untuk menciptakan kebutuhan, akhirnya mana kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier menjadi kabur, bahkan kebutuhan tersier—dalam Pasca-fordis—akan menjadi kebutuhan yang harus juga dipenuhi. Hal ini bisa dilihat dari ucapan Steve Jobs: “It’s really hard to design products by focus group. A lot of times, people don’t know what they want until you show it to them”.[11]

Dalam hubungannya dengan produksi, kapitalisme Pasca-Fordis masih tetap berusaha me-manage buruh, untuk tetap bekerja, namun dengan cara yang berbeda dari era Fordisme. Pasca-Fordis merubah pola lama buruh yang hanya memperoduksi barang yang real bisa dilihat secara fisik, disebut dengan material labor[12], menjadi pola baru apa yang disebut dengan istilah immaterial labor. Produk yang dihasilkan oleh immaterial labor ini tidak lagi berupa barang yang secara fisik ada, namun lebih ke produk yang artificial, beru    pa relasi social dsb. Artinya, relasi social digunakan untuk menciptakan kebutuhan masyarakat. Peran penting immaterial labor dalam menyokong kapitalisme pasca-Fordis bisa dilihat dari pola marketing dalam memasarkan produk. Pola lama hanya menjadikan marketing sebagai actor yang mencoba menjual barang produsen yang secara fisik, memang harus ia jual. Pola ini coba dirubah di masa Pasca-Fordis dengan mengembangkan relasi social yang harus dibuat oleh si marketing, sehingga yang ia jual kepada calon konsumen tidak lagi barang per se, tapi  sebetulnya yang dijual adalah relasi social (entah kenyamanan, kedekatan, dianggap sebagai keluarga dst.). Pola lain yang dilakukan dengan memperbanyak iklan, baik di televisi, internet, bahkan media-media social melalui gaya iklan yang dibuat semenarik mungkin; diperankan model cantik, lengkap dengan gaya yang tak kalah menarik. Hal ini dimaksudkan untuk me-create kebutuhan, dengan memanfaatkan wants/keinginan manusia yang tanpa batas, kapitalisme model ini mencoba membuat wants menjadi needs, kebutuhan yang harus dipenuhi.

Dengan melakukan pola differensiasi produk, yang didukung dengan immaterial labor, dimana pekerja (buruh) tidak lagi bekerja dengan batasan-batasan yang ketat, namun nampak lebih fleksibel; jam kerja yang lebih longgar, tidak ada kantor yang mana ia harus duduk berjam-jam, akibat dari kerja yang lebih fleksibel ini, relasi social dengan kosumen menjadi mudah terbentuk. Pasca-Fordis berusaha membuat produk yang bermacam-macam dengan memanfaatkan relasi social, yang merupakan hasil kerja dari immaterial labor. Hal ini akan menjadikan kebutuhan akan kemewahan; baik mobil, rumah mewah, HP ber-merk, tas branded hingga ekploitasi tubuh demi keseksian dan kecantikan pun bisa dijual. Ini menjadikan identitas baru bagi si konsumen, bahkan identitas inilah yang dijadikan “kebutuhan” yang harus dipenuhi.

Mahasiswa Mau Apa?

Untuk mendiskusikan ini, ada hal penting yang harus diperhatikan: Pertama, dramatisasi dan kapitalisme Pasca-Fordis mempunyai keterkaitan yang amat erat dalam mempegaruhi kehidupan kita saat ini. Bagaimana tidak ? dramatisasi jika dikaitkan dengan perkembangan konsumsi pasca-fordis yang mengarah kepada penciptaan kebutuhan, mempunyai hubungan yang kuat. Dramatisasi ingin menjadikan ‘subjek drama’ atau konsumen sebagai pusat perhatian diperkuat dengan kapitalisme pasca-fordis yang menjadikan suatu identitas berbeda dari the others melalui; kemewahan, eklusivitas, dst. Identitas inilah sebetulnya ikut disokong oleh spesialisasi produk khas Pasca-fordis, bahwa produk, berbeda kelasnya tergantung dari siapa (kelas) yang mengkonsumsinya. Identitas kemewahan misalnya, khas kelas ekonomi atas, menjadi identitas karena ada identitas yang non (tidak)-mewah; yang diisi oleh kelas ekonomi bawah. Misalnya, adanya produk-produk KW (super dsb.) dari barang branded, sengaja diproduksi untuk dikonsumsi oleh mereka yang tidak mampu menikmati barang asli, menjadi identitas, bahwa ada produk KW sebegai identitas golongan ekonomi bawah, membedakannya dari golongan sosialita misalnya, yang mampu mengkonsumsi produk asli nan branded. Lebih lanjut, differensiasi ini tidak hanya terbatas terjadi pada busana, tapi juga gaya hidup (life style), makanan hingga jenis music.

Dalam membahas kapitalisme, jangan arahkan pikiran kita hanya pada Amerika atau Negara-negara barat lainnya (Eropa), karena mereka sendiri pun mengalami hal yang sama: susah mengendalikan kapitalisme yang luar biasa pesat transisi dan perkembangannya. Buktinya, Amerika pun masih mati-matian memperkuat fundamental ekonominya pasca resesi tahun 2008, belum lagi Wall street dll., ini menunjukkan, Amerika saja dibuat berpikir keras untuk memecahkan permasalahan yang timbul karena system ini. Meskipun, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian pakar mereka masih percaya pada fundametalisme pasar. Kapitalisme pasca-fordis ini telah menembus sekat-sekat Negara.

Kedua, perlu memahami bahwa manusia diciptakan Allah Swt dari gabungan antara Tanah dan Ruh suci Allah.[13] Tanah merupakan symbol keburukan, dari hawa nafsu, keserakahan dsb, sedangkan Ruh merupakan symbol dari kesucian dan kebaikan Allah, yang juga ada di manusia. Sehingga, jika mendudukkan manusia; termasuk mahasiswa, di konteks dunia yang pasca Fordis harus memperhatikan aspek ini. Aspek ini menjadi penting untuk diperdalam oleh mahasiswa, karena logika kapitalisme tidak lagi berkutat pada barang, tetapi dengan memanfaatkan nafsu dan keinginan manusia untuk terus-menerus melampiaskan nafsu/hasratnya, demi pleasure; kenikmatannya sendiri. Sehingga, ini berimplikasi bahwa trade-off mahasiswa bukan lagi pada organisai atau kuliah, namun organisasi vs pemuasan nafsu, bisa berbentuk shopping, jalan-jalan, makan (kuliner) dsb. Lebih menakutkan lagi, mahasiswa menjadi agenr bagi langgengnya budaya konsumtif yang memang by design itu, artinya mahasiswa yang melonarkan keras-keras untuk menentang kapitalisme, malah terjebak di kubangan yang membuat mereka mendukung system ini; dengan menamai mahasiswa aktivis vs mahasiswa apatis (karena tidak berorganisasi), sekali lagi perlu diingat ini akan menjebak ke dalam pembentukan identitas, dimana logika pasca-fordis bermain.

Ketiga, menafsirkan sesuai dengan konteks surat Ali ‘Imran: [104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Sebagai bekal untuk hidup pedoman berorganisasi. Mengapa? Karena berorganisasi tidak hanya mementingkan ego diri sendiri, sedangkan untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran perlu melalui segolongan, bukan sendiri.

Keempat, problem social yang ada dan perkembang saat ini, harus lah ditelaah lebih mendalam, jangan terpaku dengan apa yang dilihat (tampak) secara fissik-material, bisa saja merupakan rekayasa, karena yang tidak tampak (immaterial) barangkali adalah kebenaran yang coba disembunyikan. Critical thinking menjadi modal utama dalam membaca situasi, kritis bukan selalu ditunjukkan dengan kontra, namun menelaah lebih dalam melalui berbagai sumber bacaan, konteks yang ada, menjadi bagian tak terpisahkan. Wallāhu a’lamu bis-shawāb

Kelima, ……………………………..

Keenam, ………………………….

Dst.

Mari diskusikan !!

NB: Gambar utama diambil dari sini

[1] Makalah ini disampaikan dalam acara Malam Kasih Sayang (MAKASA) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) FE UMY, Sabtu 31 Oktober 2015.

[2] Pegiat “LBJBJ: Enduring Peace and Humanity”, lembaga yang bergerak dalam pengkajian wacana dan pemikiran kontemporer. Untuk kritik, masukan dan diskusi, bisa membuka blog https://rifdoisme.wordpress.com/

[3] Pragmatisme/prag·ma·tis·me/ n kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan, dan sebagainya), bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia, Lihat http://kbbi.web.id/pragmatisme.

Hedonisme/he·do·nis·me/ /hédonisme/ n pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup, lihat http://kbbi.web.id/hedonisme diakses pada Sabtu, 31 Oktober 2015.

[4] Priska Sabrina Luvita dan Hizkia Yosie Polimpung, “The Rise of Dramatic Class: On the psychic of Neoliberalism’s Homo Economicus in the Era of New Media (Case Study: Indonesia’s Facebook and Twitter User)”, Paper presented in International Symposium “The Ambivalence of New Media in Post-Suharto Indonesia: Propaganda, Resistance, Empowerment,” Center for Anthropological Studies and Labsosio Universitas Indonesia, and Goethe-University Frankfurt, Depok, 24 February 2015.

[5] Ibid. hlm. 5-6.

[6] Ibid.

[7] Sejarah perusahaan Ford Motor Company, Lih. https://corporate.ford.com/company/history.html , diakses pada Sabtu 31 Oktober 2015.

[8] Hizkia Yosie Polimpung et.al., Mengapa Steve Jobs Tidak Begitu Inovatif: Kapitalisme Apple®, Pasca-Fordisme dan Implikasinya, tt., hlm. 13-15.

[9] N. Gregory Mankiw, Principles of Macroeconomics, 5th Edition, (USA: South-Western Cengage Learning, 2008), p. 188. Mankiw menyatakan:”Some goods can be produced at low cost only if they are produced in large quantities—a phenomenon called economies scale. Cetak tebal dari penulis.

[10] Ibid., hlm. 17-18.

[11] Ibid., hlm. 5, dikutip Hizkia et.al dari http://www.huffingtonpost.com/2011/10/05/the-best-steve-jobs-quote_n_997300.html#s338862, diakses pada Sabtu, 31 Oktober 2015.

[12] Ibid., hlm. 19-20, sebagaimana dikutip Hizkia et.al dari Maurizio Lazzarato, “Immaterial Labor” (1996).

[13] Lihat penjelasan lebih lanjut Ali Syari’ti, Paradigma Kaum Tertindas, (Jakarta: Al-Huda, 2001).

One thought on “Mahasiswa sebagai Agent of (Change?) Dramatic Class di era Kapitalisme Pasca-Fordis[1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s