Mahasiswa Ekonomi di Zaman Informasi: Tantangan dan Peluang[1]

senat fe

Arif Widodo[2]

Mahasiswa Fakultas Ekonomi hampir di seluruh Indonesia mempelajari teori-teori ekonomi dari buku-buku teks yang sebagian besar hasil pengalaman dan praktik ekonomi Barat dengan konteks dan budaya yang jauh berbeda dengan Indonesia. Hal ini bukan suatu permasalahan jika teori-teori tersebut mengalami proses seleksi yang ketat serta diimbangi dengan mempelajari konsitusi ekonomi Indonesia. Konstitusi yang dibentuk founding-fathers Indonesia yang tertera pada Pasal 33 UUD 1945, menjadi salah satu pilar ekonomi khas Indonesia, dimana perekonomian dibangun atas asas kekeluargan sebagai usaha bersama (kolektif) dan bukan individu (individualism), cabang kekayaan ekonomi yang penting bagi kemaslahatan umum dikuasai Negara serta dimanfaaatkan untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Pasal ini menunjukkan dengan jelas bahwa aktifitas ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya menolak peran Negara dalam distribusi kekayaan (distribution of wealth) tetapi tidak pula diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar (free-market mechanism). Poin penting inilah yang kini mulai diabaikan, bukan tanpa sebab, barangkali salah satunya karena banyak ekonom kita yang “mengimani” mentah-mentah teori ekonomi barat yang, bisa dikatakan, pro kepada fundamentalisme pasar. Efisiensi hanya bisa diperoleh ketika semua aktivitas ekonomi diserahkan kepada mekanisme pasar, peran Negara diperkecil, deregulasi, liberalisasi serta privatisasi cabang produksi penting; inilah doktrin fundamentalisme pasar yang sebetulnya lahir dari konteks sosio-historis masyarakat barat, yang kini mulai dipaksakan diterapkan di Indonesia.

Sebagai mahasiswa ekonomi, sama seperti mahasiswa lainnya, awal masuk kuliah salah satu bahan kuliah yang dipelajari ialah  konsep kelangkaan (scarcity), yang didefinisikan Mankiw sebagai “that society has limited resources and therefore cannot produce all the gods and services people wish to have”[3]. Kelangkaan selalu menjadi masalah utama dalam ekonomi, tidak terbatas pada mereka yang  berada di Ilmu ekonomi, Akuntansi dan Manajemen pun dalam kuliah harus memahami konsep awal mengenai scarcity ini. Bahwa, tidak semua manusia mampu memproduksi barang-jasa yang manusia (individu/masyarakat) inginkan mengingat kelangkaan yang terjadi pada sumber daya, sehingga hanya sebagian saja dari mereka yang mampu memiliki dan memanfaatkan sumber daya yang langka ini. Hal ini berhubungan dengan definisi ilmu ekonomi sendiri: ”the study of how society manages its scarce resources”.[4] Ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari secara umum, bagaimana manusia mengatur kelangkaan sumber dayanya, agar mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hal yang tidak kalah penting, selain kedua topic di atas—baik mengenai scarcity maupun economics—adalah prinsip-prinsip ekonomi yang juga harus dipelajari oleh semua mahasiswa ekonomi. Prinsip ini terbagi menjadi 10 (sepuluh), namun tulisan ini tidak akan memberikan penjelasan pada semua prinsip itu, hanya terbatas pada prinsip yang mengarahkan kecenderungan manusia—termasuk mahasiswa, menjadi manusia yang anti-emansipasi, tidak mau tahu urusan mereka kaum mustadh’afun yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang dimiskinkan karena kesenjangan pendapatan, keadilan social yang tak kunjung membaik dan seluruh “penyakit” bangsa yang harus diobati. Saya pilih dan rangkum beberapa point saja, diantaranya:[5] pertama, prinsip rational people think at the margin; manusia yang rasional berpikir dalam menentukan keputusan berdasar pada marginal benefit dan marginal cost. Cara berpikir yang demikian, apabila digunakan dalam hidup di orgnasasi tidak akan match, mengingat organisasi bukan tempat perhitungan cost/biaya yang dikeluarkan, apalagi benefit/keuntungan material yang kita dapat. Dari prinsip ini, jika diyakini bahkan diterpakan dalam kehidupan mahasiswa, tidak bisa dipungkiri, akan ada individu mahasiswa yang anti-emansipasi, tidak mau berpikir untuk kemaslahatan orang banyak terutama mereka yang secara struktur terpinggirkan.

Kedua, people respond to incentives. Manusia mau merespon dengan dorongan insentif tertentu. Hal ini akan sangat berguna dalam rangka menganalisa pasar, karena berkaitan erat dengan respon manusia dengan adanya insentif, namun dalam konteks yang lebih luas, hal ini mampu membuat manusia juga mahasiswa tidak mau merespon tanpa ada imbalan, insentif, dorongan tertentu, yang pertimbangannya adalah untung-rugi saja. Mahasiswa yang masih berpikir dengan cara demikian, sulit untuk memegang peran sebagai actor perubahan, mengingat ia tak punya pertimbang apapun, kecuali untuk/rugi dan insentif.

Ketiga, markets are usually a good way to organize economic activity. Para ekonomi yang pro fundamentalisme pasar, akan menjadikan pasar bukan usually a good way tapi the only way to organize economic activity. Mereka meyakini nahwa hanya pasar-lah yang mampu mengatur ekonomi sedemikian rupa sehingga kesejahteraan masyarakat menjadi terjamin. Ketika kita berpikir bahwa hanya pasar yang mempunyai kekuatan total untuk mengatur kegiatan ekonomi, pada saat itulah kita sedang memberikan kesempatan bagi si kaya untuk terus-menerus menjadi kaya, sedangkan si miskin akan tetap pada nasibnya: lebih miskin. Pada tataran organisasi padangan semacam ini akan merongrong organisasi dari dalam, karena jantung organisasi untuk senantiasa kritis akan memudar. Bahkan, ekonom sekaliber Joseph Stiglitz, yang juga peraih Nobel Ekonomi 2001, menyebut mereka–yang berpandangan: pasar-lah yang mampu menyejahterakan, privatisasi (perusahaan, BUMN, SDA) solusi untuk pemerataan, sebagai “market fundamentalism”.[6] Oleh karena itu, dalam dunia yang sudah teramat bebas ini, organisasi mahasiswa tidak boleh kehilangan “ruh”-nya; berpikir kritis, berpikir beyond dari apa yang terlihat secara kasat mata, karena selalu ada yang tersembunyi dibalik yang nampak. Karena menganggap mekanisme pasar sudah baik dan mampu mengatur semua aktifitas ekonomi akan menyebabkan kita menjadi actor yang pasif, sehingga apapun yang terjadi, baik kemiskinan, kesenjangan sosial dan pengangguran, akhirnya hanya menunggu mekanisme pasar menyelesaikan permasalahan itu, dan terbukti gagal.

Mengapa ketiga prinsip relevan untuk kita bicarakan? Konteks social masyarakat kita, bahkan dunia, telah mengarah kepada pememuhan identitas dengan berbasis pada ekonomi, lebih spesifik; pada konsumsi. Maksudnya, masyarakat mempunyai identittas tertentu ketika telah mengnsumsi barang/produk-produk tertentu, yang sebenarnya barang tersebut tidak termasuk dalam kebutuhan primer yang harus dicukupi. Misalnya, kebiasaan untuk membeli HP tertentu setiap bulan, pada dasarnya bukan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebab kebutuhan akan HP tersebut sudah terpenuhi. Akan tetapi ketika model HP terbaru—dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda disbanding sebelumnya—kita (konsumen) seolah membutuhkan barang (HP) tersebut, bukan untuk memenuhi kebutuhan akan tetapi lebih kepada pemenuhan identitas; “bagaimana cara orang melihat saya” ketika memiliki barang baru tersebut. Oleh karenanya, tiga prinsip ekonomi di atas akan turut berpengaruh dalam mengubah mentalitas mahasiswa apalagi organisasi Mahasiswa (OM) jika ditempatkan pada konteks dunia yang terhegemoni oleh system hidup berbasis pada “pasar”. Dimana keserakahan manusia, menjadi landasan bergeraknya ekonomi ini. Banyak yang menyebut hegemoni kapitalisme masih akan terus berlansung, dengan metamorfosa menjadi lebih canggih, secanggih produk teknologi yang berkembang dengan sangat cepat.

Kondisi zaman yang semakin berkembang ini tentu membawa perubahan yang tidak sedikit, dari berbagai perubahan yang terjadi, adalah media informasi. Banyak kalangan menyebut bahwa abad ke-21 merupakan zaman informasi, dimana teknologi informasi berkembang sangat pesat lagi canggih, sehingga masyarakatnya juga disebut sebagai masyarakat informasi. Di dunia dan zaman iniilah kita berada sekarang. Karena itu, media menjadi faktor penting dalam zaman informasi ini, karena tidak mungkin informasi beredar tanpa media yang menjadi alat utamanya.

Tantangan dan Peluang Organisasi Mahasiswa (OM)

Mari kita mulai dengan pertanyaan kritis yang bisa kita ajukan: “Bagaimana seharusnya organisasi mahasiswa menyikapi dunia yang didominasi oleh “pasar”? Apakah organisasi ikut tenggelam dalam budaya individualism? Bagaimana seharusnya kita bersikap dalam zaman informasi?

Pertanyaan kritis tadi membtuhkan jawaban yang tidak sederhana. Di tengah teknologi informasi yang luar biasa perkembangannya, OM mempunyai tantangan baru yang perlu dihadapi, dan tidak gampang. Pertama, adanya teknologi membuat informasi menyebar secara cepat. Peristiwa yang terjadi di London misalnya, kita di Indonesia dapat mengetahuinya hanya dalam waktu beberapa menit saja. Begitu juga budaya, pandangan hidup, bahkan ajaran-ajaran hedonism, bisa secara cepat kita dapatkan melalui media yang membawa content informasi tersebut. Pandangan hidup dan budaya barat, misalnya sex bebas, narkotika, model pakaian, model rambut sampai sepatu, semua itu bisa diekspor oleh Barat ke Negara-negara Timur, seperti Indonesia. Akhirnya, agar dibilang “gaul” banyak mahasiswa/i yang merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli sepatu, make-up, bahkan pakaian agar mampu bergaya layaknya mereka. Hal ini mempunyai andil besar dalam pelemahan OM, mengapa? Karena mentalitas mahasiswa yang akan mengurus dan menggerakkan OM juga mental yang telah terpengaruh budaya-budaya hedonism, OM tidak lain hanya menjadi perkumpulan manusia-manusia hedonis saja.

Kedua, jika pada point pertama lebih ditekankan pada budaya, selanjutnya penekanan diarahkan kepada pola piker. Bagaimana pola piker seseorang dipengaruhi oleh pola piker yang diciptakan media informasi. Misalnya saja, Islam yang akhir-akhir ini mucul di media informasi (karena kasus Charlie Hebdo, Paris attack ) membuat banyak masyarakat di Negara-negara Eropa semakin membenci Islam (Islamophobia), parahnya lagi sikap serupa juga dilakukan oleh mereka yang bahkan hanya melihat dan mengetahui Islam dari media-media yang ada, sehingga pola pikir mereka akan Islam mengikuti pola pikir media yang belum tentu berpihak atau bersikap obyejtif pada Islam. Pembentukan pola pikir oleh media, dengan informasi-nya, sangat mampu memberikan efek kepada pola pikir OM secara kolektif. Mengapa demikian? Informasi yang disediakan oleh media saat ini sangata ditentukan oleh siapa pemodal/pemilik saham dari media tersebut. Nah, OM seharusnya kritis dalam menyikapi hal ini, agar kritik yang akan diberikan OM kepada pemerintahan misalnya, tidak bias, dan menguntungkan pihak tertentu, karena terpengaruh pola pikirnya oleh media (yang notabenenya punya kepentingan politik).

Ketiga, Media baru, yang tumbuh di dunia yang sudah semakin konsumtif juga akan memberikan pola yang berbeda. Seperti yang dijelaskan McQualis dalam bukunya Mass Communication Theory (2010): “While at one level the term ‘commercialism’ may refer objectively to particular free-market arrangements, it has also come to imply consequences for the type of media content which is mass produced and ‘marketed’ as a commodity, and for the relations between the suppliers and the consumers of media.”[7] Mekanisme pasar bebas juga tidak bisa dilepaskan dari wilayah media, dimana konten-konten media “diproduksi” dan dipasarkan layaknya komoditas, untuk dikonsumsi oleh konsumen media: kita termasuk disini. Maka tidak heran jika media memberikan isi informasi yang memihak pada kepentingan pemilik media, kepentingan politik tertentu. Komersialisasi media ini bisa dijadikan alat juga untuk menyebarkan gagasan yang konsumtif dari kapitalisme Pasca-Fordis[8] yang telah banyak mempengaruhi psikologi masyarakat melalui pembentukan kebutuhan-kebutuhan yang sebetulnya tidak dibutuhkan konsumen, karena penguasa media juga mereka para pemilik modal besar, tidak lain tidak bukan untuk tujuan: profit. Hal ini bisa dilihat dari berbagai iklan yang dipasang di media-media baru yang berbasis internet, hal yang demikian itu dilakukan tidak lain untuk mencipta kebutuhan, karena bagiamanapun manusia tetap memiliki sikap rakus (dengan banyaknyakeinginan materiil yang tak terbatas) yang kemudian dimanfaatkan dalam rangka mencipta kebutuhan-kebutuhan semu. Media melanggenggan itu semua, dengan menjadi tonggak utamanya. Pada posisi ini, OM seharusnya punya prinsip yang jelas, karena sebagai organisasi sudah seharusnya OM menempatkan diri di luar “pasar”, artinya OM harus mampu untuk tidak terpengaruh dengan budaya-budaya yang diciptakan pasar, dan agar mampu menganalisa secara kritis.

Gambaran yang diberikan media bisa saja bias. Sebagai ‘mediation of reality’, media berperan dalam penyebaran informasi atas suatu kejadian tertentu kepada public (audiences) akan tetapi ketika realita yang terjadi itu diperoses oleh media, tentu saja bekerja melalui “logika media”, dampaknya banyak dan hampir semua informasi yang diterima dan dikonsumsi audiences/public  selalu membutuhkan perantara, karenanya selalu ada bias dalam informasi.[9] Meskipun demikian, tetap ada public yang mengalami sendiri kejaidian tertentu, akan tetapi lebih banyak mereka yang mendapatkan informasi melalui media.

Untitled

Sumber: Denis MsQuail (2010: 66)

 

Dari gambaran akan tantangan yang sedang kita hadapi, ada beberapa hal yang kiranya saya sarankan sebagai peluang bagi OM, terkhusus Senat Mahasiswa. Perlu diperhatikan, Senat mempunyai fungsi pengawasan, dan penghimpun aspirasi mahasiswa, perannya menjadi sangat strategis dalam mengarahkan opini mahasiswa. Peluang yang bisa kita ambil adalah: Pertama, adanya teknologi informasi, OM berpeluang menciptakan propaganda [10]melalui media; dalam hal ini media sosial, seperti Instagram dan Facebook misalnya, sangat membantu. Hal semacam ini pernah dilakukan oleh Uni Soviet dan Nazi German, mereka menggunakan media sebagai sarana propaganda untuk membentuk opini public. Dalam kasus tertentu untuk menyerap aspirasi terhadap satu kasus terentu, Senat mampu menggunakan media sosial yang ada untuk menarik isu yang akan diangkat kepada Mahasiswa Ekonomi.

Kedua, media yang ada digunakan OM dalam hal Senat berfungsi sebagai Public relations. Menjaga hubungan baik dengan masyarakat mahasiswa tidak hanya sebatas pada pengumpulan aspirasi dengan kotak suara/aspirasi saja, ini perlu hanya saja harus juga dikembangkan dalam bentukyang lebih canggih melalui media baru; yang berbasiskan pada internet. Bagaimana cara agar media/akun OM bisa katakanlah, di-follow oleh mahasiswa, misalkan untuk membuat perhatian mereka tertuju pada kasus MKD, maka buat meme yang berkaitan dengan #papamintasaham, dengan berbagai gambar dan kartun yang menarik. Cara seperti ini bisa juga diterapkan di kasus lain yang lebih dekat dengan Fakultas Ekonomi. Aspirasi mahasiswa juga bisa dihimpun dengan cara ini, dari masalah keluhan akademik hingga keluhan fasilitas fakultas. Senat sebagai lembaga, harus punya hubungan yang baik dengan para mahasiswa dan untuk membangun relasi yang baik, tidak selamanya berbentuk formal melalui kegiatan-kegiatan audiensi, lebih kepada komunikasi yang cair antara lembaga (Senat) dengan masyarakat ekonomi keseluruhan. Ketiga, media harus bisa dimanfaatkan untuk membentuk nilai-nilai luhur, maksudnya nilai perjuangan, yang tentu saja menentang nilai-nilai yang telah berkembang dan mengakar, seperti hedonism dan individualism. Arahkan media untuk membentuk hal baru yang berlwanan dengan itu semua, sehingga perlawanan di era saat ini harus juga dimulai melalui media, dengan konten informasi yang  menggugat ketidakadilan dengan berbagai macam bentuk.

Akhirnya, seperti Allah telah menyatakan dalam Al-quran, bahwa: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”(Ali-Imran:110). Bahwa perjuangan itu tidak pernah bisa dilepaskan dari ummah yang bisa ditafsirkan sebagai jama’ah karena tidak mungkin kata ummah itu merujuk pada satu orang, karena itu tidak ada perjuangan yang berhasil secara gemilang tanpa ada jama’ah atau organisasi (Ali-Imran: 104). Semangat kolektif yang tertanam dalam ayat itu, juga semangat kebersamaan sebagai ummatan wāhidatan; umat yang satu, yang ditegakkan berdasarkan iman kepada Allah, untuk menyuruh kepada kebaikan, yang bahasa Kunto disebut sebagai emansipasi dan mencegah dari kemungkaran; liberasi. Kedua tugas sosial ini, tentu saja harus dilakukan dengan modal utamanya: īmān, selanjutnya organisasi yang baik, menjunjung tinggi jiwa perjuangan, dan bukan individualism apalagi hedonism. Berpikir analitis-kritis terhadap keadaan sosial yang ada, juga merupakan hal yang harus dilakukan OM secara konsisten.

 

Wallāhu a’lamu bis-shawāb

NB: Gambar awal diambil dari sini

[1] Tulisan ini disampaikan dalam acara Upgrading SENAT FE UMY, Sabtu 12 Desember 2015, di Gedung E, Kampus UMY, Yogyakarta.

[2] Pegiat “LBJBJ: Enduring Peace and Humanity”, lembaga yang bergerak dalam pengkajian wacana dan pemikiran kontemporer.

[3] N. Gregory Mankiw, Principles of Macroeconomics, 5th Edition, (USA: South-Western Cengage Learning, 2008), p. 3.

[4] Ibid., p. 4.

[5] Ibid., p. 4-10.

[6] Johanna Bockman, “Neoliberalism”, Context, Vol. 12, No.3, Summer 2013, p. 14.

[7] Denis McQuail, Mass Communication Theory, 6th edition, (London: SAGE Publications Ltd., 2010), terutama di pembahasan “Commercialization”, p. 97.

[8] Kapitalisme type ini tidak lagi berkonsentrasi pada produksi missal untuk kemudian dikonsumsi, tetapi lebih maju dari itu, yakni mencoba “membuat” kebutuhan; sehingga barang-barang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan yang sejatinya bukan murni kebutuhan, tetapi kebutuhan yang diciptakan oleh kapitalisme Pasca-Fordis.

[9] Denis McQuail, Mass Communication Theory, ibid., pp. 65-66.

[10] Ibid., p. 48.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s