Antara Cinta dan Fakir Asmara : Ngawurization Exegesis lagu “Untuk Apa”-nya Mbak Maudy

mbak maudy

Seperti yang kita sudah ketahui bersama, Maudy Ayunda, merupakan sosok penyanyi cantik, aktris muda, berbakat, cerdas dan unik. Gadis bernama asli Ayunda Faza Maudya ini menempuh bangku kuliah di University of Oxford, UK,  mengambil konsentrasi Philosophy, Politics and Economic (PPE). Yang membuatnya unik dari kebanyakan artis dan penyanyi lain, ia termasuk artis yang tahu banyak mengenai pemikiran-pemikiran Marx(is) barangkali karena saking akrabnya dengan filsafat dan ekonomi sekaligus, Warbiasak! Sepertinya ia juga paham betul dengan berbagai persoalan mengenai Ekonomi Politik, lihat saja kutipan wawancara berikut:

“Menurut saya, dalam case Stalin, tujuan komunisme tidak tercapai bahkan menjadi diktator. Dia “menyimpang” dari konsep dasar Marxisme tentang persamaan manusia. Dan pada satu kondisi Stalin malah membuat Komunisme itu sama saja dengan Fasisme”[1]

Perfek. Tidak salah ia menjadi penyanyi dan aktris yang paling cerdas di antara yang lain, meskipun ada sederet nama lain seperti Cinta Laura dan Dek Gita Gutawa. Tapi ya itu, bahwa ada satu hal unik dari mbak Maudy: ia akrab dengan pemikiran-pemikiran ekonomi yang tidak hanya terbatas pada corak pemikiran Keynessian tapi juga Marx(ian).

Setelah beberapa kali saya mendengar lagunya mbak Maudy, yang judulnya nyanthol di judul tulisan ini, menyebabkan saya ingin menulis dengan inspirasi dari lagu mbak maudy ini. Karena bagi saya, lagu ini isinya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang perlu dijawab serta didiskusikan. Lebih asyik lagi jika mbak Maudy ikut diskusi juga. Lagu ini menjadi amat relevan sebab: pertama, pembahasaan di dalamnya mengenai cinta. Tapi menariknya karena banyak pertanyaan kritis yang diajukan lagu ini akan cinta, status cinta serta pembutkiannya, serasi dengan judulnya: “Untuk Apa”. Filosofis bukan? Kedua, jomblo (orang juga sering menyebut Fakir Asmara) yang saat ini seolah jadi fenomena local, nasional bahkan internasional (sepadan lah sama ISIS), menjadikan lagu ini amat relevan. Mengapa? Karena mereka bisa berpikir mendalam bahkan mengkritik akan pemahaman cinta yang selama orang pahami (terutama para praktisi pacaran), sebelum mereka betul-betul memilih orang untuk menjadi kekasihnya (baca: pasangan hidup yang  pake’ nikah). Makanya saya sarankan, dengarkan lagunya ketika membaca.

“Untuk Apa”-nya mbak Maudy ini dirilis dalam bentuk video klip, tepatnya single terbaru dalam album bertajuk Moment, tahun lalu. Lagu ini ditulis oleh Bemby Noor, menurut dia, lagu terinspirasi dari kisah dua pasangan yang cintanya mulai pudar karena cinta yang mereka punya sebatas status tanpa ada pembuktian.[2] Singkatnya, lagu berjudul “Untuk Apa” ini mempertanyakan apa gunanya cinta yang hanya status.

Video klip mbak Maudy yang diunggah 7 Mei 2015 ini sudah membuat juataan pasang mata melihat dan mendengarnya, terakhir viewer-nya di Youtube sudah lebih dari 10.000 kali, tepatnya 10.380. Luar biasa, bukan? (tapi jangan dibandingin sama penyanyi Bule). Setelah mendengar lirik lagu ini, saya merasa tertarik untuk membedah beberapa lirik yang relevan dengan permasalahan anak muda saat ini, yaitu tentang cinta. Untuk apa cinta, yang tanpa pembuktian? Cinta hanya sebatas status? Apa juga pembuktian cinta itu? Berikut kutipan lirik lengkap lagu “Untuk Apa”-nya Mbak Maudy:

Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada status

Semua orang tahu bila kita sepasang kekasih

Namun status tak menjamin cinta

 

Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada lidah

Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan

Kata-kata tak menjamin cinta

 

Untuk apa, untuk apa cinta tanpa kejujuran

Untuk apa cinta tanpa perbuatan

Tak ada artinya

 

Untuk apa, untuk apa cinta tanpa pembuktian

Untuk apa status kita pertahankan

Bila sudah tak lagi cinta

 

Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada lidah

Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan

Kata-kata tak menjamin cinta

 

Untuk apa, untuk apa cinta tanpa kejujuran

Untuk apa cinta tanpa perbuatan

Tak ada artinya

 

Untuk apa, untuk apa cinta tanpa pembuktian

Untuk apa status kita pertahankan

Bila sudah tak lagi cinta

 

Untuk apa, untuk apa cinta tanpa pembuktian

Untuk apa kita pertahankan

Bila sudah tak lagi cinta

Untuk Apa

 

Pada bait pertama dari lirik lagu itu berbunyi: “Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada status”. Cinta sebagaimana dinyanyikan mbak Maudy  memberikan gambaran bahwa cinta yang dialami selama ini ialah cinta yang bertumpu ada status; kosong makna cinta dalam arti yang hakiki. Meskipun melalui status—pacaran—semua orang mengetahui bahwa kedua orang (sepasang kekasih) sedang jatuh cinta. Namun cinta sendiri dalam lagu ini, tidak bisa hanya bertumpu pada status, karena status belum tentu menjamin cinta. Lalu, pada apakah cinta harus bertumpu? Cinta yang hakiki tidaklah bertumpu pada status, karena ia bisa dimanipulasi sedemikian rupa sehingga orang percaya dan yakin bahwa dua orang ber-status sebagai sepasang kekasih, padahal kenyataannya dua orang tersebut tidaklah benar-benar menjadi sepasang kekasih. ‘Status’ yang digambarkan di sini, saya sebut sebagai cinta yang telah mengalami formalisasi, yaitu proses dimana cinta yang sebelumnya subtantif-esensial dibungkus, dilegal-formal kan dalam bentuk status: pacaran. Cinta subtantif bukanlah cinta yang ber-status, ia meng-ada karena fitrah manusia ialah mencinta, bahkan tanpa perlu ada ‘status’ formal yang diberlakukan. Oleh karenanya, orang yang bersedia tetap mencinta secara subtantif tanpa status-formal, disebut dengan istilah yang popular, yaitu: Jomblo atau Fakir asmara.

Istilah fakir asmara sebetulnya idem maknanya dengan jomblo: titik persamaannya pada pilihan untuk tidak memiliki tambatan hati. Tambatan hati yang dimaksud bukan dalam makna yang subtantif, bahwa: siapapun pasti menaruh perhatian, mengharapkan dan mencintai orang lain (yang beda jenis kelaminnya!) meskipun secara formal (taaruf atau khitbah), ia belum memiliki status apa-apa pada orang yang dicintainya itu. Karenanya, jomblo sama halnya dengan fakir asmara; sama-sam tidak memiliki cinta yang legal-formal tetapi cinta yang subtantif, cinta yang jauh dari ramai embel-embel status: in relationship atau complicated, misalnya.

Klaim ini berdasar pada: pertama, fitrah manusia. Manusia diciptakan menjadi laki-laki dan perempuan, beserta fitrahnya untuk saling mencintai. Perbedaannya pada apakah cinta itu manusia nyatakan atau tidak. Yang pasti cinta itu fitrahnya ada antar lawan jenis dalam bentuk perasaan, sehingga kadang tanpa bukti empiris. Kedua, cara pandang manusia terhadap cinta. Jika cinta dimaknai sama dengan nafsu belaka, maka jalan apapun akan ditempuh untuk memuaskan nafsunya, yang manifestasinya beragam. Sebaliknya, jika ia dimaknai suatu yang suci seraya memahami ajaran Islam yang juga suci, maka cinta yang dipahaminya tidak diumbar sembarangan dan dijaga bahkan disembunyikan (subtantif) sampai pada saat yang tepat harus ia sampaikan secara formal. Inilah narasi cinta subtantif secara sederhana bisa dituliskan. Kedua hal itu mendasari saya meng-klaim demikian.

Jomblo atau fakir asmara adanya karena memang standard jomblo atau tidak-nya adalah cinta secara formal saja (sudah disematkan ‘status’), tanpa memperdulikan aspek bathiniyyah-subtantif yang dimiliki oleh semua manusia, karena itulah fithrah manusia. Memang, perlu diakui bahwa Cinta yang subtantif ini bisa termanifestasi menjadi cinta formal, ataupun cinta yang tetap disimpan karena merasa belum ‘mampu’ untuk memadukan antara yang subtantif dengan (cinta) formal. Dengan demikian, jomblo dalam hal ini, merupakan istilah yang dipakai untuk seseorang yang tidak sedang berada dalam cinta-formal, tetapi berada dalam wilayah cinta yang bathiniyyah. Perlu diingat bahwa, cinta-formal dengan status tidaklah menjamin cinta yang murni-hakiki. Karena status hanyalah “kulit”; “baju” saja, sehingga ketika cinta disandarkan pada “kulit” sangat rentan direkayasa.

Cinta yang hanya bertumpu pada status ternyata tidaklah sempurna, karena ia (cinta) bisa dipoles, dimanipulasi, sehingga lidah pun bisa memanipulasi kata-kata sedemikian rupa menjadi bukti cinta. Antara lidah dan cinta yang hanya bertumpu pada status tidaklah mampu membawa cinta yang hakiki. Karena cinta sendiri, secara ontologis bukanlah materi yang terbatas pada pengamatan inderawi, namun ia juga perasaan universal, sehingga jika mendapatkannya hanya bertumpu pada ucapan (berupa rayuan, gombal, janji-janji dst) melalui lidah, ataupun melalui mata dengan melihat pembuktian ‘cinta’; baik dalam bentuk pemberian-pemberian materi (hadiah) ataupun publikasi ‘cinta’ di depan umum. Dengan cara inilah kadang pembuktian ‘cinta’ sering saya lihat. Pembuktian ‘cinta’ yang seolah perlu ramai disaksikan orang.

 

Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan

Kata-kata tak menjamin cinta

 

Pembuktian cinta sebagaimana dinarasikan singkat di atas, disebut dalam lagu ini, sangat lemah, serta rentan pada manipulasi, sebab apa yang dikatakan—berupa rayuan, “I lope karo koe” hingga “anā uhibbuki fillāh” misalnya—belum tentu menggambarkan niat yang tulus dalam hati untuk benar-benar mencinta. Kata-kata yang keluar melalui lidah sebagai pembuktian cinta, tidak bisa menjamin adanya cinta. Barangkali cara-cara seperti itu tidak selalu memadai sebagai pembuktian cinta hakiki karena, sekali lagi, bahwa cinta bukan sekedar cinta-status yang secara materiil bisa di-indera, akan tetapi ia yang hakiki tidak terbatas pada pembuktian yang materiil saja. Pembutkian materiil di sini juga termasuk ungkapan pembuktian cinta melalui kata-kata (lidah) juga pembuktian yang bisa dilihat (mata).

Secara epistemologis, cinta tidaklah bisa didapat secara hakiki jika hanya didasari pada kemampuan inderawi. Hal ini bukan berarti menolak inderawi secara keseluruhan, sama sekali bukan. Hanya kemampuan inderawi ternyata mempunyai kelemahan-kelemahan untuk mengetahui cinta sepenuhnya (hakiki). Maka, tidak jarang orang yang sudah dimabuk ‘cinta’ akan mendasarkan cintanya hanya pada kemampuan inderawi sehingga suliat mengetahui, apakah cinta atau nafsu yang ia sedang alami. Oleh karena itu, perlu kiranya mengfungsikan rasio berdampingan dengan hati yang bersih (qalbun salīm) melalui bimbingan Wahyu, meminjam istilah ‘Ãbid al-Jabiri dalam bukunya Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi (1993): cinta tak dapat diketahui dengan cara burhāni saja tetapi juga perlu diimbangi dan dituntun dengan nalar bayāni, berupa otoritas teks. Pengetahuan akan cinta juga tak akan pernah lengkap serta mendalam dengan hanya memadukan antara bayāni dan burhāni, tetapi harus ditambah dengan nalar ‘irfāni. Ketiganya perlu bersinergi dalam rangka menggapai cinta dari sang Maha Cinta.

 

Untuk apa, untuk apa cinta tanpa pembuktian

Untuk apa status kita pertahankan

 

Dari sini kita akan memulai berbicara tentang pembuktian cinta, dan berbagai tafsirnya. Karena cinta, seperti tertuang dalam lirik lagu Mbak Maudy, harus dibuktikan, maka perlu memberikan tafsiran mengenai pembuktian cinta; baik yang berkembang di masyarakat maupun dari perspektif lain dari tafsiran mainstream.

Dua lirik di atas, jelas menggambarkan bahwa cinta sebagaimana dimaksud pada teks itu merupakan cinta yang perlu dibuktikan. Tanpa ada pembuktian maka sama dengan ‘status’ cinta yang tak ada maknanya. Yang menjadi problematis di sini adalah pembuktian cinta. Cinta tidak hanya sebatas status-legal saja tetapi perlu pemaknaan yang lebih dari hanya ‘status’. Di sinilah kemudian muncul permasalahan: bagaimana pembuktian cinta? Apakah pembuktian itu harus selalu berupa materiil: rumah, perhiasan, tabungan bank misalnya? Ataukah tak perlu pembuktian apapun?

Nah, pembuktian ini tentu saja—dalam pemahaman yang umum—sering direduksi hanya menjadi pembuktian yang empiris. Maksud empiris di sini adalah cinta perlu dibuktikan dengan fakta yang empiric; bisa dilihat; bisa didengar; yang kemudian bisa dirasakan, lebih jauh lagi bisa dipamerkan ke orang lain, melalui gambar maupun video plus di-upload ke media sosial, seperti YouTube, BBM, WhatsApp ataupun Instagram. Pada taraf inilah, pembuktian cinta “diuji” dengan standar pengujian yang ditetapkan dengan melihat berapa likes-nya. Salah satu media sosial yang sering dijadikan alat ukur ini adalah instagram. Pembuktian semacam ini yang disebut di awal sebagai pembuktian materiil; bisa dilihat melalui like, comment juga retweet.

Kiaranya tidak berlebihan jika pembuktian cinta seperti hal digambarkan di atas, bisa ditelusuri lebih lanjut tantang filosofis apa yang sebetulnya mendasari mereka untuk berbuat (pembuktian cinta) dengan cara demikian. Saya berpendapat bahwa mereka yang berpandangan bahwa pembuktian cinta harus berupa pembuktian materiil-empirik-kulit, tak ada pembuktian yang lebih terbukti-ampuh kecuali dengan cara itu, berkaitan erat sekali dengan empiricism.

Empirisisme sendiri merupakan salah satu dari aliran filsafat yang lahir di Barat. Francis Bacon, John Locke, Barkeley, David Hume, dan JS Mil untuk menyebut nama-nama tokoh aliran filsafat ini. Paham filsafat ini berpandangan bahwa pengetahuan hanya bisa didapat melalui pengalaman (the role of experience). Karena itu, semua pengetahuan harus bisa dialami (can be experienced), sehingga kebenaran juga hanya bisa didapat melalui pengalaman. Dengan begitu, kemampuan inderawi manusia merupakan unsure penting untuk memberikan pengalaman pada manusia yang akhirnya diperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang bisa didapat melalui pengalaman ini, disebut dengan a posteriori. Mengapa demikian? John Locke misalnya menganggap bahwa pikiran mansia itu ‘tabula rasa’; blank; kosong; layaknya kertas putih. Oleh karena itu, semua konsepsi yang ada di pikiran manusia tidak lain adalah hasil dari pengalaman. Tidak ada pengetahuan yang langsung didapat manusia tanpa kemampuan indera. Pengatahuan yang a posteriori ini dalam filsafat Islam dikenal dengan ilmu hushūli; pengetahuan yang diperoleh melalui medium.

Pembuktian cinta yang mendasarkan pada pembuktian materiil, yang terlihat, bisa dialami melalui kemampuan inderawi—diakui atau tidak, diketahui atau tidak—tampak sangat serasi dengan akar aliran filsafat empirisisme. Cinta, harus dibuktikan. Dengan apa? Jawabannya, menurut aliran ini: belikan rumah, perhiasan mahal, tas yang limited edition, mobil yang harganya se-gede anggaran dana desa (milyaran maksudnya!) dst, karena semua itu empiric, a posteriori. Selain itu, juga pembuktian-pembuktian yang kurang lebih sama, karena badget kecil, maka cukup upload foto, acara “happy anniversary-an” (walaupun akhirnya gak nikah-nikah) dan segala manifestasinya. Tapi semua itu juga akan berujung pada: bukti cinta harus empiric, bisa dialami, dan nyata bagi indera. Ngeri juga kan? Tanpa tahu-menahu pemikiran filosofis, manusia bisa langsung mempraktekannya, bahkan ada juga mungkin yang jadi empirisis radikal, tentunya: dalam cinta. Jika filsuf empiris bisa hidup lagi, tentu dia bangga karena banyak pengikutnya. Just kidding!.

Lebih lanjut, cara berpikir empirisis dalam pembuktian cinta ini, nyata ada, contohnya ya mereka yang  hanya berpatokan—sama halnya dengan pemikiran filosofisnya—pada pengalaman saja. Padahal pengalaman ini sifatnya amat subyektif. Oleh karena ia sangat subyektif, maka untuk menjadi objektif, pengalaman seseorang harus di-standarisasi supaya menjadi objektif dan universal sifatnya. Itulah yang menguatirkan, karena semua pembuktian cinta, dikatakan pembuktian cinta, jika, dan hanya jika sesuai dengan standar pembuktian yang ada. Misalnya, jika standar pembuktian cinta adalah mengucapkan selamat ulang tahun plus hadiah tertentu, atau selalu memperingati ‘happy anniversary’, ketika standar ini tidak dijalankan oleh, misalnya, pria kepada wanita pasangannya, maka amblas (bahasa Jawa). Tak ada bukti cinta. Media sosial juga berperan dalam meng-objektif-kan pengalaman pembuktian cinta yang subjektif itu. Bisa kita cek akun media sosial yang in relationship, terus ada juga yang Paijo’s (artinya kayaknya sih: punyanya Paijo, karena nama pacarnya Paijo) atau engaged, baik di facebok maupun di tempat lain. Seolah itu semua menjadi standar yang dipatok dalam rangka: Pembuktian Cinta. Wow, Amaziing !

Maka tepat jika kita sambung dengan lirik selanjutnya yang berbunyi: ”Untuk apa, untuk apa cinta tanpa kejujuran….. Untuk apa cinta tanpa perbuatan……. Tak ada artinya”. Cinta dibuktikan dengan perbuatan. It’s Okey. Tapi, tunggu dulu, perbuatan yang semacam bigimana nih; apa perbuatan itu sama dengan para empirisis yang dijelaskan sebelumnya? Kalau itu sama, maka sudah bisa dimungkinkan bahwa cinta yang didapatkan tanpa kejujuran, dan kata lagu: itu… tak ada artinya (baca: sesuai nada lagu). Perbuatan yang hanya dipahami sempit, akan menyebabkan cinta hanya sebatas “status” tanpa kejujuran, karena yang dibuktikan untuk cinta itu, tidaklah murni tapi hanya rekayasa. Ya, sebatas menggugurkan “kewajiban” pembuktian (perbuatan ) cinta—yang empiric.

 

Worldview dalam memahami Cinta

 Beberapa penjelasan di muka mengenai berbagai praaktek pembuktian cinta yang bisa diruntut hingga ke lingkaran pemikiran filosofis, merupakan salah satu contoh bahwa, pemahaman manusia (pandangan dunia; worldview) dalam melihat sesuatu hal, misalnya cinta, akan sangat berkaitan hingga ke wilayah praksis; pembuktian cinta. Setidaknya ada dua pemikir Islam dintara banyak pemikir Islam lain, yang selalu membahas perihal worldview sebagai sesuatu yang sentral dalam memahami segala hal, yaitu Syed Naquib al-Attas dan Seyyed Hossein Nasr[3]. Meski di beberapa hal mereka berbeda pemikiran, terutama mengenai Transcendent Unity of Religion,[4] akan tetapi dalam pembahasan mengenai worldview tampak kesamaan antara keduanya. Tapi tulisan ini tidak bertujuan (karena tidak memadai) untuk membahas pemikiran keduanya, penekanannya pada peran worldview dalam mempengaruhi pemahaman manusia hingga aksiologisnya.

Pemahaman akan cinta sangat dipengaruhi oleh cara berpikir (mode of thought) mengenai cinta itu sendiri. Maka pertanyaan awalnya: “Apakah Cinta itu?” Pertanyaan ontologis ini akan banyak memberikan gambaran mengenai bagaimana cara berpikir seseorang terhadap cinta. Bagi mereka yang berpandangan bahwa smeua yang nyata (haqīqah) adalah pengamatan inderawi, material-empirik, cinta juga akan dipahami sebagaimana jalan beepikirnya itu, sebagai sesuatu yang punya bukti empiric-materiil. Jika cinta tidak sebagai yang empiric-riil-materi maka ia bukanlah hakikat cinta. Di sisi lain ada pula yang memandang, bahwa cinta merupakan perasaan yang tak akan bisa diungkapkan. Sebab ia abstrak maka hanya berada dalam wilayah idea-mental semata. Akhirnya, pembutkian cinta yang empiric tak perlu ada, karena cinta telah terbukti dalam perasaan. Kiranya ketika dua pandangan ini menjadi worldview manusia, akan terjadi dualism pandangan: ada yang berpikir bahwa cinta sebatas pengalaman mental, sisi lain cinta dipahami sebagai pengalaman empiric. Jika manusia cenderung kepada salah satu dari dua pandangan itu, maka kemungkinan besar tidak akan pernah bertemu pemikiran serta pemahamanya akan cinta. Seperti hal-nya David Hume, Locke cs yang tidak pernah bisa akur—secara pemikiran—dengan Descartes, Spinoza cs. Beginilah gambaran betapa perbedaan cara berpikir (mode of thought); pandangan dunia (worldview) begitu mengakar serta berpengaruh pada pemahaman manusia akan pengetahuan, juga akan cinta.

Perbedaan akan cara berpikir menjadikan pandangan dualis-dikotomis mengenai cinta. Sayangnya dua pandangan ini akan sulit dipertemukan. Maka dari itu, perlu saya ambil secuil dari pemahaman akan cinta, karena lagu ini penuh pertanyaan filosofis, maka jawabannya juga perlu mendaasri pada pemikiran filosofis. Filosfi yang dimaksud disini yang berakar pada tradisi Islam.

Konsep inti dalam Islam adalah Tauhīd, yang menentang pemahaman yang dualis: rasionalisme vis a vis empirisme, subjective-objektive atau idealism-materialisme. Pemikiran tersebut berkembang dari tradisi pemikiran di Barat, tentu saja hal itu juga tidak terlepas dari perbedaan epistemologis mereka dalam meraih kebenaran. Seperti banyak dipaparkan sebelumnya, bahwa hampir semua pandangan dikotomis itu dihasilkan dari  ‘alat’ epistemologis yang terbatas pada kemampuan inderawi (pengalaman inderawi) serta kemampuan rasio. Yang pertama mengahsilkan pemikiran empirisisme, materialisme, sedangkan yang kedua menghasilkan aliran rasionalisme serta idelaisme. Dalam hal ini, Islam tidak menolak sama sekali kemampuan rasio juga indera manusia, karena banyak ayat Al-Qur’an yang menyatakan tegas untuk menggunakan keduanya dalam rangka memperoleh pengetahuan, terutama dalam tulisan ini; pengetahuan akan cinta. Konsekuensi dari diterapkannya Tauhīd sebagai cara berpikir dalam Islam ialah tidak mendua-dualisme dalam memahami kebenaran dan realitas (Truth and Reality). Oleh karenanya perlu ditegaskan bahwa dalam memahami cinta sendiri, kita tidak boleh memberikan pemahaman yang mendua, apalagi jika hanya berpedoman pada yang empiris-matriil.

Dalam memahami cinta sendiri, filsafat Islam tidak memungkiri adanya cinta manusia, yang sebagian besar memang berasal dari aspek materiil, sebab yang digunakan dalam menangkap cinta hanya sebatas pengalaman inderawi dan rasio. Indera serta rasio, saat digunakan untuk memperoleh pengetahuan akan cinta, sarat akan penyimpangan, maka yang didapat bukalnlah cinta yang murni dari aktivitas spekulasi itu. Filsafat Islam tidak hanya berpedoman pada akal dan inderawi, tetapi lebih luas pada kemampuan intuisi manusia yang akan menghasilkan ma’rifah (illuminative knowledge) yang dituntun oleh Qur’an dan Sunnah (Sharī’ah). Maka, pemahaman akan cinta seharusnya tidak sebatas pada level akal dan empiric semata tetapi yang lebih dalam dari itu, yaitu dimensi transcendent, melebihi realitas yang bisa diindera manusia. Berikut ini penjelasan menarik mengenai cinta dari Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya, The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition:

…..they (the sūfīs) speak of real love (al-ishq al-haqīqī), that is, the love of human being for God and metaphorical love (al-‘ishq al-majāzī), which includes all forms of love that appear to be outside and independent of the bond of love between God and human beings. According to this view most of what we consider to be love is not real love at all but is love only in metaphorical sense.[5]

Pandangan Nasr ini terlihat sangat dipengaruhi pandangan para sūfī muslim, sebagian besar memakai pendekatan illuminasi (isyrāqiyyah) yang menekankan pendekatan intuitif dalam mendalami pengetahuan, juga cinta. Sehingga pengetahuan akan cinta yang diperoleh manusia tidak lagi terbatas pada level inderawi—istilah sūfī: cinta majāzī—akan tetapi pengetahuan yang langsung diberikan Allāh sebagai hadiah kepada hambaNYA yang tulus, yang disebut pengetahuan pada tahap ma’rifah. Ma’rifah (illuminative knowledge), ada yang menyebut sebagai ‘ilm ladunni atau hikmah, bagi Al-Attas, merupakan pengetahuan yang diberikan Allāh melalui penyingkapan (kasyf), kemampuan intuisi, spiritual (dzauq) untuk membuka semua keterbatasan indera serta akal manusia yang hanya terbatas pada materi.[6] Pengetahuan akan cinta pada tahap ini tidak lagi mencakup kecintaan pada materi, misalnya mencintai perempuan karena kecantikannya (secara inderawi) maupun kekayaannya karena barangkali hal itu bukanlah cinta sama sekali namun hawa nafsu, padahal inna al-nafsa laammāratun bi ‘l-su’, akan tetapi mencintai wanita dalam rangka merengkuh cinta Allah yang melebihi batas-batas indera bahkan akal.

Pengetahuan akan cinta tentunya ada gradasi dan hirarki. Gradasi (tingkatan) pengetahuan mengenai cinta, sebagaimana Suhrawardi (the master of Isyrāq), menggambarkan bahwa semua pengetahuan manusia seperti cahaya yang intensitas cahayanya kepada Sumber Cahaya (Nūr al-Anwār) berbeda-beda. Nūr al-Anwār merupakan sumber dari segala cahaya atau sumber segala makhluk di alam semesta. Semakin cahaya cinta jauh dari Sumber Cahaya maka intensitasnya meredup karenanya hati yang kotor, sehingga cinta hanyalah dilihat secara material belaka. Untuk mendapatkan cahaya cinta haqiqi dibutuhkan hati yang senantiasa dibersihkan (melalui penerapan Shari’ah) sehingga intensitas cahaya-nya semakin kuat menuju lebih dekat kepada sang Sumber Cahaya Cinta.

Dari berbagai penjelasan di atas, pembuktian cinta Haqīqī, tidak lagi memperdebatkan permasalahan pembuktian cinta yang umum dilakukan. Baik dibuktikan secara empiric maupun tidak, itu tidak akan mengubah cinta. Sebagian besar pembuktian cinta, seolah-olah perlu dilakukan secara empiric-material hingga kehilangan makna-makna cinta yang Haqiqi (transcendent) sehingga pembuktinnya pun terasa sangat seremonial serta bertumpu pada status. Sayangnya pembuktian semacam amat bisa direkayasa, sebagaimana lirik lagu: “ Lidah bisa berkata namun hati tak sejalan”. Seolah ia membuktikan cinta melalui empiric tapi sesungguhnya tak membuktikan apa-apa. Karena keterbatasan pengetahuan akan cinta—yang dipahami melalui inderawi—akan menyebabkan pembuktian empiric dianggap paling ampuh untuk menunjukkan cinta, padahal tidak membuktikan apapun.

Sampai tahap ini, saya menyimpulkan bahwa fakir asmara, Jomblo atau apapun istilah yang dipakai bukanlah manusia yang tanpa cinta, karena cinta mereka tak ter-indera, apa yang saya sebut di awal sebagai cinta subtantif. Namun bisa jadi, mereka yang sedang pacaran, apapun istilahnya, sesungguhnya tidak sedang mencintai. Yang terpenting dari pembuktian cinta ialah cara berpikir. Ketika keduanya telah memiliki cara berpikir akan cinta yang dituntun Qur’an dan Sunnah hingga pengetahuannya semakin dekat Maha Cinta, manifestasinya tidak akan melenceng dari apa yang mereka pahami.

Wahai Para Jomblo, sebelum benar-benar memahami (ma’rifah) cinta dengan murni, tetaplah ber-ikhtiyar menggapai cinta yang murni dari Sumbernya, sehingga luapan cintamu tetap dalam keridhaanNYA.

 

*Tulisan ini ditulis sambil mendengarkan lagu “Untuk Apa”-nya Mbak Maudy

 

NB: Gambar utama diambil dari sini

[1] Lihat lengkapnya http://netsains.net/2012/09/amudy-ayunda-perpaduan-sempurna-bakat-dan-kecerdasan/ , diakses pada Senin, 24 February 2016, pukul 19.20 WIB.

[2] Lihat official video klipnya https://www.youtube.com/watch?v=D8nFvZEI6Ec , diakses  Senin, 24 February 2016, pukul 19.40 WIB.

[3] Seyyed Hossein Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, Revisied Edition, (Thames and Hudson Ltd., 1978). Dalam Prologue, Nasr banyak menjelaskan mengenai Tauhid sebagai way of knowing. Ia menambahakan juga  penjelasan mengnenai  Unity of Being yang berakar dari pemikiran kaum Sufī.

[4] Lebih jauh baca Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas: An Exposition of The Original Concept of Islamization, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), p. 389-93.

[5] Seyyed Hossein Nasr, The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition, (New York: HarperOne, 2007), p. 63.

[6] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, p. 112-3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s