Gus Mus dan “All I Ask”-nya Adele

gus-mus1

Ramainya cacian, makian berbau keyakinan serta kemesraan pasangan (belum halal) belakangan ini mulai menyeruak dengan bentuknya yang semakin canggih karena didukung canggihnya media informasi, utamanya media sosial. Mayoritas pengguna media ini tentu saja mereka yang berada di kalangan kelas menengah. Gampangnya begini; kelas menengah adalah mereka yang tidak pantas dikatakan miskin (gak miskin-miskin amat), tetapi juga kurang kaya untuk dikatakan kaya bingit, makanya disebut kelas menegah. Penjelasan lain, yang mudah dipahami, dinarasikan dengan baik plus ilustrasi menarik oleh CNN Money, dalam artikel berjudul: “What is middle class, anyway?”. Artikel itu menjelaskan secara singkat saja, bahwa kelas menengah, atau seseorang disebut kelas menengah bisa dilihat tidak hanya dari pendapatannya yang menengah tetapi juga konsumsi, kesejahteraan (dilihat dari investasi dan saving), life style, bahkan demografinya (umur, pendidikan).

Nah, makanya mayoritas perbincangan dan pemberitaan di media sosial (internet secara umum) dinikmati oleh kelas menengah tersebut. Bahkan, tidak saja dalam hal positif, dalam hal negative pun mereka kerap kali menggunakan media sosial ini sebagai medan ‘pertempuran’ argumen yang berakhir pada makian dan cacian, serta sederetan tulisan yang tidak seharusnya dikemukakan. Di situ kadang saya merasa gundah. Satu hal lagi yang membuat saya semakin gundah-gulana tak tentu arah, disebabkan oleh tingkah kelas menengah yang tidak segan untuk mengkritik (dengan ejekan) saudara sebangsanya sendiri, yang sedang mati-matian memperjuangkan tanah kelahiran mereka, desa mereka, sawah mereka, kehidupan asri mereka serta tanah tumpah darah mereka—karena harus direnggut paksa demi kepentingan korporasi besar.

Pembangunan mall, apartement, hotel memang diperuntukkan untuk siapa? Rakyat kecil? Gak mungkin akhi. Gak mungkin. Rakyat kecil gak butuh ke mall untuk belanja, sebab pasar tradisional lebih menarik. Mereka juga gak butuh ke mall untuk sekedar foto selfie, karena sawah mereka lebih asri dan menentramkan untuk dijadikan background foto. Orang kecil seperti kita juga tidak butuh tidur di hotel sebab dimanapun, kita bisa tidur dengan nyaman, tentu tanpa perlu obat tidur. Barangkali direnggutnya tanah rakyat kecil oleh korporasi dan perusahaan raksasa memang diperuntukkan bagi pemenuhan konsumsi kelas menengah yang ‘rakus’. Ah su..dahlah.

Di tengah gundah-gulana itu, ada acara menarik yang mengundang salah satu kyai favorite saya di Nahdhatul ‘Ulama, karena sosok beliau ini bener-bener me-nahdhoh (bangkit)-kan ‘ulama dari semua kalangan pemikiran dan haluan politik di tubuh NU. Beliau adalah KH Musthofa Bisri. Kyai kelahiran Rembang 71 tahun silam ini, yang kerap disapa Gus Mus, merupakan kawan baik Gus Dur sejak mereka berdua kuliah di Universitas Al-Azhar (lihat web Gus Mus).

Rabu (13/04/2016) minggu lalu, ulama’, Kyai sekaligus budayawan diundang ke acara paling ‘weww’, karena kerap ngundang Menteri dan Jokowi (juga anak-anaknya) dengan mudah, di Metro Tv: Mata Najwa bertemakan “Panggung Gus Mus”. Dengan dipandu mbak nana (panggilan akrab Najwa Shihab), Gus Mus diminta memberikan penjelasan perihal kicauan di akun twiter beliau, berbunyi: “Bukan KEYAKINAN AGAMA yang membuat orang merasa benar sendiri dan suka menyesatkan orang lain. Tapi justru KEKURANGYAKINANNYA”, saya kutip persis seperti kicauan di twiter. Beliau menjawab: “Kalau anda yakin dengan agamamu apapun yang akan disampaikan kepadamu, kamu tidak akan bergem…tidak akan terpengaruh, ndak bergeming. Keyakinan itu memperkuat orang. Kalau orang masih takut diserang takut disangka ini, takut disangka itu. Itu namanya belum yakin”.

Jawaban yang membuat saya tertegun. Kegundahan saya, seakan mulai mendapatkan obatnya.

Tidak berhenti disitu, setelah acara berjalan hampir  50 menit, saya kembali menemukan hal baru yang langka saya dengar dari orang yang sudah menikah. Waktu itu, beliau diminta untuk menyatakan “I Love You” kepada istrinya tercinta, Ibu Siti Fatma. Yaa, mengingat beliau ini memang tidak pernah menyatakan kata-kata itu kepada wanita yang sudah dinikahinya lebih dari empat puluh tahun. “Apa benar Gus Mus tidak pernah mengatakan I Love you kepada ibu (Siti Fatma)?”, tanya Najwa. Sambil tertawa akhirnya beliau menjawab: “Nggak pernah. Saya kan orang Jawa”. Jawaban ini disambut tepuk tangan dan tawa penonton. Beliau melanjutkan, “Orang Jawa tersenyum saja sudah tahu, istri sudah tahu (kalo saya mencitainya)”. Serrr… Sempat dibujuk mbak Nana untuk mengatakan I love you, tapi tetap saja, usaha mbak Nana hanya ditanggapi senyuman Gus Mus. Apa ada anak sekarang yang mau dicintai tanpa ungkapan cinta?

Agaknya pernyataan Gus Mus serta pemahaman beliau tentang cara mengungkapkan cinta ini, sangat dibutuhkan para fakir asmara se-Nusantara ini untuk direfleksikan dengan sangat mendalam. Eits tunggu dulu, tidak hanya Jomblo, tapi juga para pasangan suami-istri, mereka yang sedang kode-kodean bahkan mereka yang sedang tidak berniat jatuh cinta (untuk saat ini). Pernyataan Gus Mus mempunyai pesan yang tidak hanya bijak, namun bisa dijadikan bekal anak-anak muda untuk mengarungi haru-biru kehidupan cinta di masa depan. Uhuk.

Bertepatan dengan Gus Mus yang dengan santun menyampaikan (secara implicit) pesan cintanya itu kepada para jomblo sedunia, lagu Adele berjudul “All I Ask”—satu dari beberapa lagu di album 25 dirilis akhir tahun lalu—juga sedang menempati jajaran teratas lagu-lagu playlist Prambors, selain lagu Hello. Bagi kalian penikmat radio pasti tahu. FYI, Adele merupakan salah satu penyanyi yang kabarnya lagu-lagu nya diinspirasi oleh kisah cinta bersama para mantannya dan, hampir semua lagunya disusun dengan apik sehingga pesan yang ingin ia sampaikan melalui lagu mampu meresap dan dirasakan oleh para pendengar. Singkatnya, lagu Adele cukup representative untuk menyampaikan pesan para Jomblo se-dunia. Dari Someone like you hingga saat ini All I Ask, selalu menampilkan kesedihan-kegalauan-kegundahan mendalam. Hiks.

Well, saya tidak akan terlalu banyak bicara tentang galau-nya lagunya Adele, hanya ada lirik dari lagu All I Ask memiliki pesan yang mendalam, berikut ini saya kutip:

I don’t need your honesty

It’s already in your eyes and I’m sure my eyes, they speak for me

No one knows me like you do

Melalui lirik lagu ini, Adele ingin menyampaikan, bahwa dalam percintaan (pernikahan) kejujuran ataupun ucapan cinta sekalipun tidak perlu selalu diungkapkan dengan ucapan hingga berbusa-busa, karena semua kejujuran cinta sudah bisa dilihat dengan mata tanpa perlu penjelasan bahkan pengakuan melalui kata-kata yang perlu diulang-ulang sampe bosen. Denger tuh mblo! Tidak hanya jomblo, semua orang yang mau nikah, kebelet nikah, atau lagi ta’aruf atau lagi seminar pra-nikah, pokok’e kabeh perlu memaknai pesan dengan baik. Meskipun saya yakin Gus Mus dan Adele gak pernah ketemu dan gak pernah tahu satu sama lain, apalagi nulis lagu ini bareng, tapi dari pesan keduanya terdapat pemaknaan yang sama: Gus Mus yang tak pernah menyatakan kata I love you sebab senyumnya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan cintanya pada istrinya, sedang Adele tidak membutuhkan kejujuran (perkataan) sebab melalui mata saja telah mampu menggambarkan kejujuran yang ia butuhkan. Emejing yak!

Penjelasan Gus Mus dan Adele melalui lagunya, bisa kita petik pesan yang tersirat dalam penjelasan keduanya. Pesan ini tertuju untuk para kelas menengah—yang masih sering memaki di media sosial—dan juga para jomblo yang ingin segera laku, ataupun jomblo yang gak ingin laku meski banyak yang mau, atau para pegiat nikah muda juga para pasangan suami-istri yang telah mengarugi bahtera rumah tangga:

  1. Keyakinan yang kuat dan mengakar tidak akan gampang ngafirin saudara sendiri

Di tengah-tengah lingkungan sekarang yang serba butuh eksistensi, widihh, maksudnya, perihal apapun— termasuk cinta dan keyakinan—harus ditunjukkan dan diperlihatkan ke public dengan cara-cara simbolik yang bahkan gak penting-penting amat, Gus Mus memberikan kita wejangan yang berkebalikan dengan itu semua. Dengan sangat santun, beliau memberikan penekanan bahwa keyakainan kita yang tak kasat mata itu, seharusnya tidak perlu diumbar-umbar melalui berbagai macam cara yang tidak santun, apalagi dengan cara ngeliatin urat leher sambil ngafirin sodaranya sendiri. Sabarr ! sabarrr.

Justru kekurangyakinan akan agama yang menyebabkan usaha-usaha kekerasan atas nama agama mulai menyebar bahkan ditumbuh-suburkan. Belajarlah untuk selalu meyakini agama kita, sedalam-dalamnya, seutuh-utuhnya ya, secara kāffah. Hingga manifestasinya juga akan menjadi rahmah dan kedamaian bagi semua makhluk.

Keyakinan dan kecintaan kita pada agama, dan seseorang yang amat kita sayangi dengan seluruh sanubari kita, tidak sepatutnya kita tunjukkan dengan cara-cara yang tidak baik. Manifestasi dari cinta dan keyakinan yang murni sudah seharusnya juga berupa tindakan dan akhlaq al-karimah, bukan dengan hinaan ataupun makian.

  1. Cinta dan keyakinan yang kuat tidak bertumpu pada “I love you” dan ekspose media

Entahlah, saya terkagum dengan cara Gus Mus memahami cinta dan keyakinan agamanya dengan sangat mendalam, bahasa kerennya: esoteric, bathiniyyah. Tidak hanya soal keyakinan, bahkan persoalan cinta pun beliau pahami dengan cara yang sedemikian sufi-nya. Bayangin aja, hampir setengah abad hidup bersama istrinya dengan amat bahagia tanpa perlu mengatakan I love you, jika itu anda, saya, kita mungkin baper-nya sudah gak ketulungan. Inilah yang saya maksud sebagai keyakinan agama dan cinta yang sudah ma’rifah, ndakik, dalem, sehingga cintanya tidak lagi bertumpu pada persoalan ucapan mesra macam I love you, sarangheyo, atau apapun ekspresi bahasanya. Maka, dengan pemahaman yang demikian itu, cinta dan keyakinan beliau sudah tidak lagi perlu diberitakan, di-ekspose bahkan dipamer-pamerkan ke khayalak ramai melalui media sosial.

Kalo mau jujur, zaman penuh teknologi ini, semua hal yang seharusnya menjadi persoalan batin dan privat mulai dikemukakan ke public; dari soal persalinan yang ditayangin televisi sampai cinta yang diumbar-umbar di media sosial. Seolah menyatakan I love you merupakan hal yang wajib, dan bagi kalangan pasangan ekstrem, kayaknya sih I love you perlu dilakukan berkali-kali seperti orang melalukan wirid. Saking ekstremnya, wirid diganti menjadi I love you sepanjang hari. Modyar !

Persoalan-persoalan cinta beginian, amat bertolak belakang dengan cara Gus Mus dalam memahami cinta.

Serupa secara makna dengan Gus Mus, Adele pun gak mau kalo cinta dan kejujuran dalam hubungan itu harus selalu diucapkan apalagi di-ekspose ke media sosial. Adele ingin menjelaskan bahwa cinta tak harus selalu dibuktikan dengan ucapan. Bahkan melalui mata, juga telinga dan hati terdalam kita mampu menangkap cinta orang lain kepada kita, jika memang cintanya ndakik. Makanya, tak usah lah terlalu gusar dengan menunut pasangan untuk selalu menyatakan kecintaannya pada kita dengan cara-cara yang mencolok, bahkan kadang berakhir memalukan itu. Percaya deh, hal begituan gak jamin hubungan cinta kita juga akan baik-baik saja dan awet. Buktinya, Gus Mus dengan segenap hati, cinta, telinga dan matanya sudah mampu mengungkapkan semua bahasa cinta yang diingnkan istri tercintanya yang tanpa I love you itu dan mampu bertahan hampir setengah abad.

Cinta, bagi Gus Mus, tidak lagi sesuatu yang material semata tetapi ia juga transcendent, melebihi yang material.

Saya gak tahu kenapa banyak anak-anak muda saat ini, saya masuk di dalamnya, masih sangat dan banget suka dengan mengumbar segala hal: dari persoalan cinta hingga hinaan karena perbedaan pendapat di media sosial. Mengapa kita perlu mengungkapkan cinta sampai berbusa-busa untuk menunjukkan bahwa kita mencintai seseorang? Apa ini pertanda bahwa cinta dan keyakinan kita masih dangkal?

Come on dude and sis ! kita perlu belajar dari cara Gus Mus dalam memahami keyakinan dan cinta dengan cara yang unik, dan amat mendalam itu. Pemahaman cinta yang serba ‘ingin diperlihatkan’ itu gak akan membuktikan cinta pasangan anda bahkan bisa saja itu hanya rekayasa, sekedar jalan keluar dari pada kena semprotan pacarnya. Sebab, prinsip dalam hubungan serba terpaksa: gak apa-apa rekayasa yang penting aman. Perihal ini, Raditya Dika menjelaskannya dengan sangat meyakinkan.

Saya takut jika sebetulnya cinta dan keyakinan kita-lah yang masih dangkal tetapi kita telah mengumpat bahkan memaksa orang lain untuk membuktikan cintanya kepada kita, bukankah ini lucu? Iya lucu kan, saya ketawa lo. Ketawa kecut.

Hal lucu itu, sayangnya tidak kita respon dengan baik, tapi malah pandangan kita yang serba tidak yakin dan dangkal itu kita yakini mati-matian. Sehingga, tidak heran jika kita sering melihat orang yang tampak ‘alim, berpakaian agamis tapi omongan dan perilakunya tidak sesuai dengan pakaian yang dikenakannya, mencaci dan memaki dengan mudahnya. Tidak ketinggalan orang yang sebelumnya saling mencinta juga kerap kali berujung maki-makian. Parahnya semua itu dilakukan di media sosial.

 

Jadi, masih dangkal-kah keyakinan dan cinta kita?

NB: Gambar utama diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s