Merayakan Hari Kartini*

kendeng2

Ada sederetan kejadian menarik minggu-minggu ini, dimulai dari perjuangan para Kartini Rembang yang melakukan aksi ‘menyemen kaki’ sebagai protes terhadap pembangunan proyek semen PT. Semen Indonesia yang akan merenggut tanah kelahiran serta sumber air kehidupan mereka hingga hebohnya pernyataan Dian Sastro saat ditanya mengenai pendapatnya tentang Kartini Rembang yang tengah melakukan aksi di depan Istana Presiden, ia menjawab: “Itu jadi menarik adanya kasus sekarang. Ibunya lepas dong dari politik, kembali ke urusan domestic”(Kompas, 16/04/2016). Sontak, pemberitaan ini menuai sensasi di berbagai media sosial, dari yang bernada kecewa hingga komentar bernada (sok) bijak. Sebelum akhirnya, mbak Dian mengklarifikasi pernyataannya, sebagaimana diberitakan oleh Kompas. Ia menjelaskan bahwa ada ketidaksesuaian pengutipan pernyataannya sehingga tampak bahwa mbak Dian tidak simpati pada perjuangan Kartini Rembang.[1]

Untungnya, mbak Dian segera mengklarifikasi pernyataannya yang salah kutip itu, jika tidak, bagaimana nasib para fans mbak Dian se-Nusantara. Tentu saja kecewa. Apalagi, mbak Dian merupakan sosok perempuan yang akan-selalu-terus menjadi impian para wanita muda untuk menjadi seperti dirinya: cantik, Mahmud (mamah muda), pinter dan punya suami pengusaha (kaya). Ups. Singkatnya, mbak Dian ini adalah Kartini “modern” terutama bagi perempuan-perempuan saat ini yang meng-klaim sebagai perempuan ‘modern’. Tentu saja itu bukan masalah, asalkan jangan mencoba untuk merasa lebih tinggi daripada perempuan desa, apalagi menganggap perempuan desa sebagai perempuan tradisional dan perempuan kota sebagai perempuan modern. Untuk alasan inilah, saya memberikan tanda kutip pada ‘modern’, karena istilah ini amat problematis.

Dalam kaitannya dengan Kartini Rembang, menurut saya, istilah perempuan atau Kartini ‘modern’ menjadi sangat debateable. Karena para perempuan Rembang sebetulnya sedang melakukan aksi-aksi penolakan terhadap agenda-agenda perusakan alam yang diilhami dari proyek pemikiran a la modernitas. Modernitas (modernity) merupakan istilah (gerakan) yang timbul pada zaman industrialisasi Eropa, ditandai paling tidak dengan tumbuhnya: kapitalisme, rasionalisme, dan humanism. Ketiga agenda ini merupakan tonggak modernitas Eropa: dimana kapitalisme telah mampu meningkatkan taraf ekonomi Eropa dengan prinsip akumulasi modal, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan menurunkan laju pengangguran, sedangkan rasionalisme dan humanism telah mengangkat harkat manusia dari belenggu dogma agama (gereja) yang kaku. Manusia, oleh karenanya, telah menjadi pusat (antroposentris, bukan lagi teosentris) dengan menjadikan rasio sebagai pondasi dasarnya, sesuai dengan jargon cogito ergo sum –Descartes, tidak heran sekulerisme juga menjadi bagian tak terpisahkan dari rasionalisme. Pertanyaannya, mengapa karakter modern ini menjadi titik-tolak kritik dan dalam konteks ini, menjadi titik tolak perjuangan para Kartini Rembang?

Kritik pada Modernitas

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, proyek modernitas ditopang dengan kapitalisme yang tidak hanya berhasil dalam peningkatan taraf hidup manusia tetapi juga menimbulkan ekses negative yang tidak hanya dalam taraf local tetapi juga internasional . Bagaimana tidak, kapitalisme dengan dukungan dari teori ekonomi telah menjadikan manusia sebagai homo economicus yang rakus (greedy). Dengan rasio-nya manusia diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya yang (rakus) tak terbatas itu dari sumber dayanya yang amat terbatas. Dampaknya, rasionalitas ini dijadikan hakim (justifikasi) dan pembenar bagi praktik kapitalisme, sehingga selama usaha itu rasional dan mendukung usaha pengembangan akumulasi capital, itu sah dilakukan. Tidak hanya itu, doktrin humanism dengan prinsip bahwa manusia-lah pusat segalanya, telah menjadi dogma tanpa kritik,. Maka tidak heran jika perusakan alam, perusakan hutan bisa dibenarkan dalam kaidah kapitalisme ini, asalkan rasional dan tidak berbelok dari ajaran humanism yang teramat anroposentris itu. Permasalahannya terjadi pada humanism yang ditafsirkan: selain manusia (human being ) bisa diekploitasi sesuai kehendak manusia, syaratnya harus rasional dan menguntungkan. Sehingga, bisa kita lihat saat ini, krisis air ada dimana-mana, deforestasi ada di setiap belahan dunia (apalagi Indonesia), hewan-hewan kehilangan habitatnya, serta iklim di bumi pun tidak bisa lagi diprediksikan, akhirnya mengakibatkan adanya pemanasan global. Dari modernitas inilah, ilmu pengetahuan sosial dinilai science ketika mengikuti kaidah ilmu-ilmu alam, lahirlah, misalnya paradigm positivisme pada ilmu sosial yang menjadikannya amat kaku, tidak mampu menjelaskan permasalahan secara kritis-komprehensif serta cenderung meneguhkan status-quo. Ilmu tidak lagi dijadikan pemihakan pada kemashlahatan manusia, tetapi pada sebagiannya saja; mereka yang mempunyai akses kepada capital.

Cara kerja modernitas yang demikian itu, sebetulnya telah banyak dikritik oleh Madzhab Frankfurt, dengan think-tank-nya: Theodore Adorno dan Max Horkheimer. Keduanya mengkritik modernism, karena ternyata proyek modernism tidak membawa humanism yang seutuhnya, tapi malah terjatuh kepada ekoploitasi manusia dengan dalih pembangunan (development). Oleh karena itu, rasio menurut mereka, menjadi rasio instrumental untuk melanggengkan praktek-praktek kapitalisme, dan bahkan mengabadikan status-quo;kaum kaya semakin kaya dengan akumulasi capital-nya sedang rakyat miskin harus tetap hidup dalam kemelaratan. Sebagaimana Mercuse, yang mengkritik modernism karena membentuk manusia satu dimensi (one dimensional man). Maksudnya, pemikiran (mindset) semua manusia diseragamkan menjadi satu dimensi yang homogen, dan karenanya akan berakhir pada totalitarian. Totalitarian, menurut Mercuse, tidak terbatas pada pemaksaan kehendak penguasa dengan cara membungkam suara-suara kritis rakyat melalui aparatur keamanan (militer), tetapi lebih luas dari itu, indoktrinasi melalui cara-cara halus, seperti iklan-iklan produk, acara-acara televisi  dengan tujuan penyeragaman mindset masyarakat untuk mengarah pada konsumerisme, juga bagian dari totalitarian.

Hal tersebut juga menyebar ke semua gerakan, tidak terlepas gerakan keperempuanan (gender). Aliran feminisme yang lahir dari modernitas—feminisme liberal misalnya—karenanya sangat dipengaruhi oleh karakter-karaketer modernitas, sehingga paham gender yang mereka tawarkan seolah harus juga diadopsi oleh semua Negara, termasuk Negara-negara dunia ketiga. Feminisme a la barat ini mencoba untuk masuk dan menjadikan pemahaman gender menjadi sangat homogen. Sehingga, jika dipaksakan untuk diadopsi di Negara berkembang bukan tidak mungkin akan terjadi ketidakcocokan bahkan akan menghilangkan tradisi dan kultur masyarakat dunia ketiga sendiri. Bagaimanapun juga, Negara dunia ketiga mempunyai kultur dan budaya yang tentu saja berbeda dengan Negara maju (penjajah). Homogenisasi gerakan gender karenanya  tampak totalitarian. Hal ini yang kemudian mendapatkan reaksi keras dari feminisme post-kolonial, melalui gerakan yang mencoba memahami dan mengimplementasikan gender bukan dengan gaya berpikir Negara penjajah tetapi gaya berpikir, kultur dan tradisi wanita dari Negara terjajah. Karena bagi feminisme post-kolonial, pemahaman gender yang berasal dari Negara penjajah (barat pada umumnya) mengandung bias cultural dan ideologis, maka penerapannya pada tradisi dan kultur Negara jajahan hanya akan menimbulkan kolonialisasi. Aliran ini percaya bahwa mereka juga mempunyai tradisi dan kultur sendiri yang bisa memahami gender dari perspektif mereka, sehingga mampu menjadikan gerakan yang heterogen; universal in diversity, tidak homogen sebagaimana coba disebarkan feminisme barat.

Kegagahan modernitas serta ilmu (science) yang mendukung proyeknya, mendapatkan kritik pedas, terutama dari gerakan feminis Negara dunia ketiga. Mereka mengkritik modernitas, sebab ia telah melanggengkan budaya patriarki, karena kegagahannya adalah bukti betapa maskulinnya modernitas. Seperti dikemukakan Vandana Shiva (1988: xiv):

Seen from the experiences of Third World women, the modes of thinking and action that pass for science and development, respectively, are not universal and humanly inclusive, as they are made out to be; modem science and development are projects of male, western origin, both historically and ideologically. They are the latest and most brutal expression of a patriarchal ideology which is threatening to annihilate nature and the entire human species.

Pembangunan ekonomi dunia ketiga, bagi Shiva, tidak bisa dilepaskan dari paradigm ekonomi yang bias Barat, sehingga ideology gender juga sangat bias Barat. Pembangunan ekonomi yang demikian itu akan berdampak pada perusakan alam dan lingkungan. Itulah hal yang tidak bisa kita elakkan saat ini. Kerusakan ekologi, hutan, krisis air, polusi udara tidak lain disebabkan karena proses industrialisasi yang membabi-buta tanpa mempedulikan aspek-aspek lingkungan, karena pembangunan ekonomi yang mendasarkan dirinya pada paradigma maskulin (Shiva, 1988).

Maka, berawal kekecewaan inilah, muncul gerakan feminisme yang muncul pada tahun 1970-an, yaitu Ecofeminisme. Secara singkat bisa dijelaskan bahwa eco-feminisme mendasarkan gerakannya pada hubungan erat antara alam dan perempuan. Perempuan, bagi eco-feminisme, memiliki hubungan spiritual dengan alam sehingga tidak dipungkiri bahwa ketika kerusakan alam terjadi, wanita dalam hal ini juga menjadi korban. Menurut Warren, Ecofeminise menjadikan pendekatan gender dalam melihat persoalan lingkungan, dimana wanita dilihat dalam relasi terhadap suatu system yang tidak adil karena adanya dominasi. Sehingga, dalam konteks persoalan lingkungan, wanita banyak menjadi korban dari adanya kerusakan lingkungan (Warren, tt). Pada titik inilah, proyek modernitas menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai usaha perusakan alam atas nama kemajuan pembangunan, sedang perempuan tak pelak jadi korban dari adanya usaha itu. Maka dari itu, hubungan wanita dan alam sangatlah erat, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian Salehi (2015) di Iran.

Selain itu, eco-feminisme juga aktif dalam melakukan kritik terhadap paradigma ekonomi dan pembangunan yang terkesan maskulin. Rusaknya alam tidak lain karena paradigm maskulin di dalam teori ekonomi. neo-klasik ekonomi misalnya juga menjadi bahan kritik eco-feminisme (McMahon, 1997; Nelson, 1997).

Kartini Rembang

Kartini, sebagaimana diketahui banyak masyarakat saat ini selalu merujuk pada sosok perempuan Jawa yang merupakan keturunan ningrat. Gemar bertukar surat dengan sahabat penanya Estelle “Stella” Zeehandelaar dari Belanda mengenai berbagai budaya Jawa waktu itu yang amat mengekang perempuan untuk: keluar rumah, mengenyam pendidikan dan pemilihan pria yang akan dijadikan suami, semuanya serba ditentukan dengan aturan ketat. Kartini menjadi sosok pembebas wanita kala itu dengan mengajarkan perempuan untuk sadar akan pentingnya pendidikan. Meskipun banyak kritik yang mengemuka; dijadikannya Kartini sebagai ikon emansipasi wanita karena kedekatannya dengan pemerintah Belanda, namun saya tidak akan membahas hal tersebut.

Saya berargumen bahwa menafsir Kartini pada abad 21 tidak cukup untuk mendasarkan penjelasan pada sosok perempuan ini saja. Kartini, telah menjadi suatu ‘teks’, yang di dalamnya tidak lagi mengandung unsure individu dirinya saja, tetapi semua unsure perjuangan perempuan di Indoensia, termasuk Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Siti Walidah (Pendiri ‘Aisyiyah) dst. Sehingga, tidak relevan lagi dipertanyakan “Mengapa harus Kartini?”, lantas membandingkannya dengan beberapa tokoh tersebut. Yang relevan saat ini untuk dilakukan ialah menyebarkan semangat emansipasi Kartini—tidak terbatas pada sosok individunya—yang telah mencakup semua perjuangan perempuan dari berbagai daerah dan suku di Indonesia. Maka dari itu, penamaan Kartini Rembang bagi para wanita yang beraksi menyemen kaki-nya sendiri, juga tepat.

Para Kartini Rembang, saya menduga tidak begitu memahami mengenai teori-teori ecofeminisme akan tetapi mereka telah mengamalkan teori itu dengan baik. Aksi mereka yang banyak dicibir oleh kelas menengah kita ini, adalah bukti cinta mereka pada isu-isu lingkungan secara umum, terkhusus daerah mereka; kawasan pegunungan ‘Kendeng’ yang di bawahnya terkandung sumber mata air. Bosman Batubara (2015) dalam tulisannya berjudul Benarkah Batu di Rembang tidak Memiliki Sumber Air?, menjelaskan melalui data-data disertai teori dalam ilmu geologi bahwa klaim akademisi (Dosen Teknik Geologi) UGM sebagai saksi ahli yang menyatakan dengan ‘pasti’ kawasan pembangunan pabrik semen  sudah berada pada tempat aman—karena tidak terdapat sumber mata air, tidak bisa diterima secara logis sesuai disiplin ilmu geologi.

Perjuangan para Kartini Rembang, dari awal aksi pendirian tenda, musholla perjuangan, aksi di kampus UGM hingga menyemen kaki merupakan bukti bahwa mereka sosok Kartini masa kini yang mengabdikan diri pada perjuangan kelestarian alam. Tentu, hal ini sesuai dengan tesis yang dikemukakan Ecofeminisme, bahwa perempuan mempunyai hubungan spiritual harmonis dengan alam. Tidak perlu ada predikat modern, atau apapun itu, karena mereka secara alamiah telah menjalin hubungan dengan alam. Aksi ini, tentu saja tidak untuk menimbulkan kemacetan, tetapi itulah symbol perlawanan kaum perempuan atas rusaknya lingkungan di abad 21 ini.

Hal serupa juga pernah terjadi di India dikenal dengan Chipko Movement (Shiva, 1988). Chipko sendiri dalam bahasa India berarti ‘memeluk’. Gerakan ini terjadi pada tahun 1974, dimana 27 perempuan di utara India melakukan aksi sederhana tetapi sangat efektif dengan cara memeluk pohon yang hendak dipotong para penebang pohon. Fokus gerakan ini ada dua: penolakan terhadap komersialiasi penebangan pohon dalam jumlah yang besar dan melakukan penanaman satujenis pohon eucalyptus yang akan menggantikan pohon-pohon local (Warren, tt, p. 3). Komersialisasi pohon ini tentu saja sangat berorientasi profit, sehingga akan menghalangi masyarakat local dalam memanfaatkan fungsi hutan. Tidak hanya itu, penanaman satu jenis tanaman ini, tidak lain merupakan hasil dari teori yang berasal dari pembangunan Negara-negara maju, karenanya tidak seharusnya untuk diimplementasikan. Sebab hal itu tidak sesuai dengan kultur dan tradisi mereka yang menanam pohon dengan jenis beragam. Menurut mereka, hal tersebut harus ditolak. Saat ini, gerakan lingkungan banyak merujuk kepada Chipko dalam merumuskan langkah aksinya.

Peran perempuan saat ini menjadi sangat signifikan dalam penyelamat lingkungan. Menurut penelitian Salehi et. al (2015) di Iran, partisipasi perempuan dalam persoalan lingkungan lebih besar daripada pria. Salehi menjelaskan bahwa hal ini sesuai dengan teori ecofeminisme yang menyebut bahwa perempuan mempunyai hubungan erat dengan lingkungan. Selain itu, salehi juga menemukan bahwa umur dan jenjang pendidikan juga menjadi faktor dalam mempengaruhi partisipasi seseorang pada isu lingkungan, bahwa semakin tua usia maka partisipasi dalam isu lingkungan menurun, dan semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, partisipasi pada gerakan lingkungan juga semakin tinggi.

Apabila penelitian di atas juga berlaku di Indonesia, maka peran generasi muda perempuan dalam isu-isu lingkungan saat ini sangat dibutuhkan, terutama kali dalam menafsirkan dan merumuskan pejuangan Kartini pada abad 21. Tidak sedikit jumlah perempuan Indonesia yang telah mengenyam pendidikan tinggi dan usianya pun masih muda, tentu hal ini merupakan modal. Modal besar untuk membangkitkan kembali gelombang perjuangan para ‘Kartini’ di masa lalu.

Perjuangan perempuan abad ini tidak lagi terbatas pada isu pendidikan yang adil-gender, karena sebagian besar hal itu sudah direalisasikan tetapi perhatian lain yang tak kalah penting adalah pada isu lingkungan. Oleh karenanya, isu lingkungan tidak hanya membutuhkan perayaan Kartini dengan simbolik, dengan memakai pakian sebagaimana Kartini kenakan zaman dahulu, tapi lebih dari itu, dengan pemahaman bahwa Kartini adalah symbol perjuangan, maka peringatan Kartini adalah peringatan sudah sampai mana perjuangan perempuan. Tugas kita, untuk meneruskan tongkat perjuangan itu dengan penuh ketekunan.

kendeng

Bibliography

Batubara, B. (2015). Benarkah Batu di Rembang Tidak Memiliki Sumber Air? In Dwicipta, & H. T. Ardianto, #RembangMelawan (Rembang Melawan), Membongkar Fantasi Pertambangan Semen di Pegunungan Kendeng. Yogyakarta: Literasi Press.

McMahon, M. (1997). From The Ground Up: Ecofeminism and Ecological Economics. Ecological Economics, 20, 163-173.

Nelson, J. A. (1997). Feminism, Ecology and The Philosophy of Economics . Ecological Economics, 20, 155-162.

Salehi, S., Nejad, Z. P., Mahmoudi, H., & Knierim, A. (2015). Gender, Responsible Citizenship and Global Climate Change. Woman Studies International Forum, 50, 30-36.

Shiva, V. (1988). Staying Alive: Women, Ecology and Survival in India. London: Zed Books Ltd.

Warren, K. J. (tt). Ecofeminist Philosophy: A Western Perspective on What It Is and Why It Matters. New York: Rowman & Littlefield Publishers Ltd.

 

 

*Tulisan ini disampaikan dalam Kajian IMMawati Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Ekonomi pada Jum’at, 22 April 2016 di Gedung D Fakultas Ekonomi UMY.

NB: Gambar utama diambil dari sini.

 

[1] Lihat klarifikasi Dian Sastro, http://entertainment.kompas.com/read/2016/04/17/152011110/Klarifikasi.Dian.Sastro.atas.Pemberitaan.Aksi.Kartini.Kendeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s