Menikah bukan perihal ‘kebelet-reaktif’

nikah1

Tulisan ini sebetulnya ingin memberikan catatan tambahan dari tulisan ukhti Esty Dyah Imaniar yang pernah nongol di Mojok.co (01/04/2016) berjudul “Kenapa sih kalian kebelet sekali menikah?”. Awalnya saya sempat kaget, ada tulisan di Mojok ditulis oleh—jika dilihat sekilas—seorang ukhti-ukhti, yang dalam otak saya tergambar jika sosok ukhti pastilah berada di garis terdepan mengampanyekan nikah cepet. Ternyata, dugaan saya salah kaprah, bahkan cenderung mengeneralisir, dan itu saya akui keliru. Buktinya, tidak semua ukhti setuju dengan ‘kebelet’ nikah.  Kita harus clear di sini, bahwa penyebutan ukhti atau mbak itu sama, tidak ada maksud untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Secara umum, saya sepakat dengan tesis yang dikemukakan Esty dalam tulisannya. Pertama, ia mengkritik para pegiat nikah muda, termasuk mereka yang hobi ikut seminar pra-nikah, yang beralasan menikah muda untuk membentuk ‘generasi rabbani’ karena menurut mereka generasi rabbani bisa diwujudkan dengan cara menikah dan punya anak. Disini Esty menekankan bahwa generasi rabbani sebagaimana mereka maksud tidak harus diwujudkan dengan melahirkan anak bologisnya sendiri (tentunya melalui proses pernikahan), sebab masih banyak anak-anak ‘tak diinginkan’, anak terlantar dan anak-anak korban perdagangan manusia yang bisa dididik untuk dijadikan generasi-generasi rabbani. Tidak harus menunggu menikah sendiri dan punya anak, cukup rawat dan didik anak-anak itu, sebab jumlah mereka selalu meningkat setiap waktu; entah karena kedua orang tuanya memang sengaja menelantarkan mereka atau alasan lain. Tidak boleh menyebut semua anak-anak itu sebagai manusia hina. Ia mencontohkan Zaid bin Haritsah, mantan budak yang dianggap hina tetapi diangkat oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai anaknya, bisa menjadi manusia mulia. Subhānallāh.

Tesis kedua, Esty memaparkan, belajar bagi anak-anak muda seperti kita ini juga termasuk kewajiban. Kewajiban untuk diselesaikan. Tapi tidak cukup itu, ilmu kita pun harus bermanfaat bagi orang banyak. Bukan malah galau karena nonton drama korea dan tetep gak punya calon untuk dinikahi. Beberapa ulama’ muslim pun tidak menikah dalam rangka menyelami lautan ilmu yang super luas itu. Ia memberi contoh, Ibnu Taimiyah, ulama’ fiqh, ahli filsafat, pakar ‘ilm al-kalām, dan ahli hadits yang hingga saat ini, ilmunya tak bisa diremehkan relevansi dan kemanfaatannya bagi umat muslim seluruh dunia. Esty juga menyebut tokoh sufi perempuan yang cintanya hanya kepada Allah; Rabiah al-Adawiyah, hingga memutuskan untuk tidak menikah.

Dua tesis itu saya setuju, dan akan saya coba jelaskan poin-poin tambahan.

Tapi ada satu point saya kurang setuju dengan tulisan Esty, terutama ketika ia menyajikan data perceraian yang didominasi oleh pasangan muda. Ia mensinyalir, jika jumlah pasangan muda yang melakukan perceraian itu diakibatkan pernikahan muda. Penolakannya pada pernikahan usia muda, pada titik ini, didasarkan dengan cara men-generalisir data perceraian itu. Data yang ada itu memang menyajikan alasan utama perceraian seperti tidak harmonis, alasan ekonomi, tidak ada tanggung jawab, dan kehadiran pihak ketiga. It’s ok. Meskipun demikian, kita bisa bertanya, apakah semua pasangan yang bercerai itu sudah tentu mereka para akhi-ukhti yang mengkampanyekan nikah muda dan sering ikut seminar pranikah? Atau apakah perceraian itu dilakukan oleh pasangan yang punya background pendidikan agama, layaknya para akhi-ukhti itu? Maksudnya, bisa saja angka perceraian pasangan muda naik karena yang nikah muda by accident juga naik, sehingga memasukkan akhi-ukhti dalam kategori yang sama (generalisasi data) bisa menimbulkan kerancuan.

Argumentasi yang bisa diajukan begini: perceraian akibat nikah muda sangat mungkin terjadi karena pernikahan yang mereka jalankan bukan berdasar pada kesadaran penuh untuk menikah, tetapi lebih karena ‘keadaan’ yang memaksa menikah. Hal ini dikenal dengan married by accident (MBA). MBA tidak bisa dipungkiri, satu dari sederetan masalah umat saat ini yang terjadi di mana-mana. Sehingga, data yang ada perlu disertai dengan penjelasan, tidak hanya alasan ekonomi, pihak ketiga saja, tetapi sebab mereka menikah juga perlu ditelusuri; apakah mereka menikah karena dipaksa ‘keadaan’ atau memang karena ‘kebelet nikah’ yang tanpa pemikiran dan persiapan matang.

Poin-poin tambahan

Dalam perspektif saya, pernikahan merupakan acara sacral, dan karena itu ia menjadi sangat spiritual. Pernikahan bagian dari persoalan yang tidak dipertanyakan. Karena Maha Adilnya Allah kepada manusia, dengan kodrat alamiahnya, muslim/ah diperintahkan untuk menikah, sebagai penyempurna setengah agamanya, untuk menjalin kasih sayang dan melahirkan keturunan untuk kejayaan umat ini di masa akan datang; sesuai sabda Rasulullah untuk menikahi perempuan yang penuh kasih sayang (wadūd) dan subur, dalam arti bisa mempunyai banyak keturunan (walūd). Hal ini tidak lagi perlu dipertanyakan, apalagi dipertentangkan. Yang ingin dihindari adalah usaha-usaha untuk tidak menyakralkan pernikahan dan hanya menganggapnya sebagai hal remeh dengan mereduksinya sehingga aspek spiritual-keimanan malah dienyahkan dari pernikahan.  Saya tidak menolak pernikahan usia muda, asalkan didasarkan pada ilmu, iman, dan kesiapan mental yang kuat bukan asal-asalan, sebagaimana poin-poin yang akan saya jelaskan.

Pernikahan sudah seharusnya didasarkan pada ilmu. Ilmu yang didapat dengan kesadaran, bukan dengan ketergesa-gesaan apalagi dilakukan atas dasar ‘kebelet’ yang reaktif. ‘Kebelet-reaktif’ ini biasanya terjadi pada mereka yang ingin menikah, bukan karena kesadaran sendiri dan dorongan penuh untuk menikah, tetapi lebih didorong karena teman-teman lainnya sudah lebih dulu menikah. Semacam perasaan iri. Jadi, keinginan menikahnya bukan didasarkan pada kesiapannya tetapi condong karena ke-iri-annya. Bagi saya, model-model dorongan menikah  semacam ini yang saat ini perlu diluruskan. Karena menikah, tak sebercanda itu, mas/mbak/akhi/ukhti. Apalagi jika dorongan menikah didasarkan pada film, FTV, atau drama korea; cuma ingin niru-niru artis cantik dan ganteng yang menikah di film itu. Menikah tak seremeh itu.

Saya pernah menemui seseorang yang bercerita kepada saya mengenai temannya yang baru saja menikah. Katakanlah nama teman saja ‘Si A’. ‘Si A’ ini mempunyai teman, katakanlah ‘Si B’ yang baru saja menikah di usianya yang masih muda; kita satu angkatan umur yang sama, cuma beda bulan dan tahun aja, eh, beda hari dan bulan maksudnya. Ketika ‘Si B’ ditanya: “Bagaimana rasanya menikah muda?”, Tanya teman saya (Si A). Dengan muka sumringah, ia menjawab, “(nikah muda itu)… nggak enak, tapi uueenak banget. Makanya ente cepet-cepet lah nyusul.” Jawaban dia sontak membuat teman saya kaget, dan jadi kepingin ‘kebelet-reaktif’ segera menikah. Tapi pernyataan itu bagi saya sangat perlu dipikirkan lebih dalam dengan hati dan pikiran yang jernih. Sebab jika tidak, yang kita ambil dari pernyataan itu bukanlah aspek terdalam dari pernikahan, tetapi lebih bersifat euphoria awal saja. Tepat sebagaimana yang Adele gambarkan dalam lirik lagunya When We were Young—lagu dalam album 25,: “It was just like a movie, It was like a song, When we were young”. Jadi, jangan terheran-heran atau lebay jika ada pasangan muda, baru menikah yang menggambarkan kisah cintanya dengan begitu indahnya layaknya Drama Korea atau layaknya lagu paling romantis se-dunia. Ora usah gumun !

Wake up guys. Ketika hal itu masuk dalam alam pikir kita, saya takut yang tertangkap bukanlah tujuan mulia dari menikah dan membangun rumah tangga tapi hanya sisi euphoria, bahwa sebetulnya itu hanya—maaf—nafsu, meskipun itu sudah halal tapi apa itu yang ada di pikiran kita, kan nggak. Pernikahan mempunyai aspek dan tujuan yang lebih mulia dari pada hanya mereduksinya menjadi satu aspek saja, kan?

Maka, tidak perlu heran jika semua orang yang baru saja menikah, bisa menceritakan—jika diceritakan, tapi biasanya memang jadi bahan cerita, kisah cinta yang amat-amat indah. Bagi para penikmat drama Korea, kisah cinta itu akan disambungkan dengan bayangan-bayangan romantisme drama korea Descendants of The Sun; katanya drama korea paling fenomenal dan teromantis tahun ini. Kok tahu? Nonton ya? Bukan, banyak mahasiswa yang saya dengar ngrumpiin drama ini. Pesan saya: “Bangun!”. Segeralah wudhu dan sholat, mintalah petunjuk. Ingatlah bahwa semua drama-drama itu hanya fantasi belaka, yang barangkali tidak pernah terjadi pada kedua pasangan itu. Itu hanya adegan yang diperankan oleh artis, jadi semacam hubungan yang tidak berada dalam kenyataan. Jika merujuk pada Mulla Sadra dengan prinsip ashalat al-wujudnya, hubungan semacam itu sebetulnya tidak ada, atau paling tidak berada dalam gradasi wujud yang paling rendah. Intinya, itu gak nyata.

Sampai titik ini, saya menekankan lagi, gambaran itu merupakan aspek euphoria jangka pendek, dan aspek terluar-nya. Sehingga, jangan terlalu bersandar pada bayang-bayang semu itu. Sayangnya, ada juga manusia yang menikah dengan berdasar pada film atau drama-drama semacam itu dan bahkan menjadi sandaran ‘kebelet’ menikah. Wadawww !

Ini yang saya maksud sebagai pernikahan yang direduksi menjadi aspek euphoria-awal saja. Tesis pertama saya, sebagai poin tambahan.

Tesis kedua. Ramainya iklan dan seruan menikah muda biasanya dilakukan dengan cara-cara yang menarik, dan saya sangat mengapresiasi kreativitas itu. Tapi, ada catatan kritis yang perlu saya sampaika. Misalnya saja, perihal meme yang kurang lebih berbunyi:

Rukun nikah itu cuman butuh 5 (lima):

  1. Mempelai pria,
  2. Mempelai wanita,
  3. Wali,
  4. Saksi dan;
  5. Ijab qobul.

Jangan dipersulit dengan menambahkan syarat seperti: lulusan sarjana, punya kerja tetap, mapan, punya rumah, pendapatan tinggi dst.

Sering kan kita dapati seruan-seruan semacam itu? Saya mengkritik pernyataan itu, karena akan mereduksi pernikahan hanya menjadi akad saja. Perhatikan bahwa redaksi itu sepenuhnya tertuju pada akad. Padahal, pernikahan memiliki aspek yang amat komprehensif. Tidak hanya soal akad saja. Saya tidak mengatakan bahwa akad tidak perlu, justru akad memegang kunci utama seseorang dikatakan menikah atau belum. Penekanannya, pernikahan mempunyai jangka waktu seumur hidup, maka urgent untuk mempersiapkan dengan persiapan matang. Sehingga tidak bijak jika mempersempit wilayah menikah pada akad, tetapi juga perlu dipikirkan apa yang akan dilakukan dan dibina pasca-akad , mā ba’da an-nikāh juga perlu diberikan perhatian yang tidak kalah pentingnya.

Prof. Wahbah Zuhaili, ahli fiqh asal Suriah, dalam bukunya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Jilid 7) memberikan penjelaskan mengenai sifat pernikahan berdasarkan pada keadaan manusia (ahwal an-nās): pernikahan menjadi wajib menurut mayoritas ulama’ bagi mereka yang yakin akan melakukan zina jika tidak menikah, selain itu dia juga sudah mampu untuk menafkahi (قادرا علي نفقات الزواج) baik mahar maupun nafkah kepada istri, serta mampu menunaikan hak dan kewajiban syar’I suami-istri. Sebab, keinginan menikah tidak bisa lagi diredam dengan puasa dan hal lainnya (menuntut ilmu misalnya), maka pernikahan menjadi wajib baginya.  Tetapi pernikahan akan dibenci (كراهة), apabila seseorang merasa masih ragu-ragu untuk menikah bahkan masih takut jika setelah menikah ia akan mendzalimi istri, karena belum mampu memberikan nafkah yang layak, atau belum mampu mengurus/menggauli istri dengan baik. Bahkan menurut ulama’  Hanafiyah, keadaan karohah ini jadi haram, karena masih kuatnya rasa ragu dan takut itu.

Selain kedua keadaan itu, ada pula keadaan الاستحباب أو الندب فى حالة الاعتدال    atau pernikahan hukumnya sunnah (nadb) dalam posisi I’tidal; dimana seseorang tidak takut (karena mampu menahan nafsunya) untuk berbuat zina jika tidak menikah tapi di sisi lain jika menikah ia tidak akan mendzalimi istrinya. Jadi, I’tidal ada di posisi tengah antara kedua sisi itu. Menurut pendapat madzhab Syafi’I, dalam keadaan demikian (I’tidal) itu, menikah bukan hal yang sunnah tetapi mubah; boleh dikerjakan boleh ditinggalkan. Sebab, beribadah dan menuntut ilmu lebih utama dari menikah menurut madzhab Syafi’I, ini didasarkan pada kisah Nabi Yahya as. yang diupuji Allah Swt dalam ayat  {  و سيدا و حصورا}. (Lihat terutama di Al-fashl at-tsāni: Takwīn al-zuwāj, h. 29-33).

Dari pendapat para ulama’ tadi, kita melihat bahwa dalam persoalan menikah, beliau sangat berhati-hati. Tidak tergesa-gesa apalagi reaktif dalam menaggapi pernikahan. Karena pernikahan memang bukan persoalan remeh-temeh, sebaliknya pernikahan merupakan persoalan iman-islam-ihsan yang komprehensif, maka jangan memahaminya secara parsial-reduktif.

Tesis ketiga. Pernikahan di usia muda sangat perlu dipahami sebagai keberanian dan kemantapan hati yang perlu diteladani, tapi selain itu kita tentu harus belajar lebih banyak lagi pada para pasangan yang sudah menikah dan menjalani biduk rumah tangga puluhan tahun. Meskipun mereka juga dalam tahap sama-sama belajar memahami yang lain, tapi setidaknya pengalaman mereka lebih dalam dan kompleks, sehingga bisa memberikan pesan wejangan yang penting. Lebih jauh, mereka pasangan tua sudah pernah melewati masa-masa, apa yang saya sebut di awal sebagai—euforia awal pernikahan. Ibratnya, mereka sudah merasakan semua rasa; mulai dari manis, asem, asin, hingga pahitnya perjalanan bersama.

Contoh kecil saja, ketika kita menanyakan tingkah pasangan yang baru saja menikah pada pasangan yang sudah puluahan tahun menikah tentu mereka akan menjawab: “Itu sudah pernah saya alami juga dulu”. Silahkan ditanya. Perbedaannya paling, ketika dulu nggak perlu ke Bali sambil foto-foto selfie sama istri, kalo sekarang tiap detik pajang kemesraan sambil jalan-jalan. Perbedaannya, cuma di’kulit’nya aja lah.

Seperti percakapan saya dengan mahasiswa pasca-sarjana di salah satu perguruan tinggi negeri, mengenai pengalaman beliau dalam mengarungi kehidupan pernikahan di usia muda. Banyak nilai-nilai yang bisa kita ambil dari pengalaman beliau. Beliau ini sudah menikah muda dan mempunyai dua orang anak yang lucu-lucu. Pertanyaan saya pertama, bagaimana mas rasanya menikah di waktu muda?

Pada masa awal pernikahan semua serba uueenak mas. Indah. Isinya seneng-seneng, jalan-jalan dengan pasangan halal. Tapi seiring berjalannya waktu, ya gak selamanya seneng. Kadang-kadang persoalan kecil bisa diributkan. Itu biasa lah, namanya suami-istri. Makanya harus butuh kedewasaan, dan persiapan kuat klo nikah gak cumin mau senengnya aja.

Mengapa kita perlu belajar lebih banyak kepada pasangan tua (umur pernikahannya) daripada pasangan muda? Ini salah satu alasannya. Sebab, secara usia hubungan, mereka lebih jauh mengetahui bagaimana kehidupan bahagia, susah, sedih bersama selama bertahun-tahun. Kedewasaan, dan pengendalian ego masing-masing baik suami atau pun istri juga sangat dibutuhkan. Kita bisa ambil pelajaran juga bahwa selama kita belum tahu ‘siapa diri kita’ sebenarnya; ego, emosi, kesabaran, keberanian kita, semuanya akan diuji dalam perjalanan pernikahan. Maka persiapkanlah dengan matang, dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab dan kewajiban setelah menikah.

Pertanyaan kedua: Mas sudah mempunyai anak, apakah juga mereka sering menjadi ‘bumbu’ perdebatan kecil dengan istri?

Dalam keadaan tertentu bisa. Misalnya, ketika saya pulang sedang capek, urusan banyak, pokonya lagi macem-macem di pikiran. Anak nangis, dan saya juga yang harus ngurus dalam keadaan begitu. Kadang di situ sering ada perdebatan kecil dengan istri.

Sampai pada penjelasan ini, saya ingin menekankan lagi. Bagi akhi-ukhti/mas-mbak yang ingin menikah, jangan hanya berpedoman dari pengalaman mereka yang usia pernikahannya masih muda, tetapi juga cara banyak ilmu dari pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, sebab mereka sudah merasakan (melewati) euphoria awal pernikahan dan bahkan lebih dari itu mereka sudah mengalami kehidupan rumah tangga yang nyata, bukan lagi bersandar pada bayang-bayang drama Korea.

Pesan saya untuk mengakhiri tulisan ini:

Bagi mereka yang belum mempunyai pasangan dan masih ragu menikah: sibukkan dirimu dengan menyelami dalamnya lautan ilmu pengetahuan; rajin-rajinlah belajar, baca buku, ikut pengajian ilmu, kalau mungkin riset, dan belajarlah puasa senin-kamis sembari hemat uang saku kan. Kalau uang saku masih belum cukup, kalian tambah dengan puasa Daud; sehari puasa sehari tidak, Insya Allah uang saku cukup sekalian program mengurangi berat badan. Terutama bagi akhwat yang kalau beratnya naik dua kilo bingung bukan kepalang, lebih baik puasa Daud.

Bagi yang sedang ta’aruf; segera putuskan untuk mengkhitbah-nya, keburu direbut orang. Tapi setelaah dikhitbah jangan lama-lama nikahnya, gak baik.

Bagi yang sudah punya pacar: segera putuskan. Putuskan untuk segera bertemu orang tuanya dan menikahinya atau tinggalkan saja sembari mempersiapkan dan memperbaiki diri.

Menikah bukan soal ketergesa-gesaan, atau ‘kebelet-reaktif’, karena ia merupakan ikatan spiritual dan lahiriyah yang menuju pada satu titik: Allah SWT.

 

Dusun Prahu, Gunung Kidul—sambil menunggu senja

 

NB: Gambar utama diambil dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s