Standar Nafkah Layak*

Pembahasan mengenai pernikahan tidak akan pernah habis diperbincangkan manusia, sebab hal itu merupakan bagian dari fitrah manusia: untuk menemukan pasangan yang sudah diciptakanNYA serta menemukan ketenteraman dan kasih sayang (Ar-rūm: 21). Artinya, manusia memiliki kecenderungan untuk tidak merasa tenteram sebelum menemukan pasangannya karena semua makhluk diciptakan berpasangan (Ar-Ra’d: 3; Fāthir: 11; Az-Zumar: 6; As-Shurā: 11; Az-Zukhruf: 12; Ar-Rahmān: 52; An-Naba’: 8). Tetapi ketika hal tersebut diterjemahkan oleh akal fikir manusia, bentuk tafsiran akan bermacam-macam meski tujuannya sama. Menurut saya, secara garis besar manusia bisa dibagi menjadi dua gerbong mengenai pernikahan: sebagian memutuskan menikah ketika mereka benar-benar siap baik secara finansial maupun mental sedang sebagian yang lain memilih menikah cepat tanpa perlu predikat mapan (finansial) terlebih dahulu. Tidak heran jika dengan prinsip yang secara fundamental berbeda, yang sebetulnya bersumber dari perbedaan tafsir akan menikah itu sendiri, pendapat kedua gerbong tersebut sering bertentangan satu dengan yang lain meski muara akhirnya sama: bersatu dengan belahan jiwa.

Gerbong pertama memiliki kecendererungan untuk memiliki hubungan pernikahan yang ideal, mapan, jika perlu semua biaya pernikahan dari gedung hingga catering tidak sepeserpun dibantu oleh orang tua. Untuk menuju ke arah itu tentu keduanya harus mempunyai pencapaian karir yang tinggi dengan memakan waktu yang relatif tidak singkat sebagai konsekuensinya. Akhirnya, gerbong ini tidak mempunyai pemikiran mengenai pernikahan muda, karena hal itu tentu akan bertentangan dengan prinsip ideal mereka. Dalam tahapan yang sedikit ekstrim, gerbong ini menganggap bahwa tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari pernikahan muda–menurut gerbong pertama  tidak ideal sebab orang tua yang menanggung beban (finansial) pernikahan, meskipun secara Islam tidak ada larangan untuk itu. Pendapat yang tampak sarkas ini bisa jadi akan menuai reaksi dari gerbong kedua pendukung pernikahan muda. Laki-laki dalam jajaran gerbong ini akan cenderung mempersiapkan segalanya dengan matang, prinsipnya ketika ingin menikah dirinya harus secara utuh mampu melaksanakan tanggung jawab ayah si perempuan, utamanya secara finansial. Mengapa demikian? Karena sudah barang tentu seorang ayah tidak akan memberikan putrinya secara mudah kepada laki-laki yang ragu dan belum mampu mengambil alih tugasnya sebagai pemberi nafkah, bukan?

Sehingga dengan realita yang demikian itu, kalkulasi pendapatan yang akurat amat dibutuhkan, sebab sudah menjadi kewajiban mutlak suami untuk menafkahi istri (dan anak-anaknya kelak) dengan layak, tidak peduli apakah istrinya berpenghasilan atau tidak karena uang istri adalah merupakan hak istri. Standar nafkah layak bagi istri menurut saya bisa dikalkuasi dengan menghitung seberapa besar uang yang diberikan ayahnya setiap bulan; jika ayahnya memberi lima juta per bulan maka standar hidup layak istri juga sejumlah itu. Maka, laki-laki gerbong ini perlu berhitung dengan cermat sebelum menikahi calon istri idamannya. Singkatnya, laki-laki gerbong pertama perlu usaha yang cukup besar untuk satu tujuan utama: agar tidak keluar pernyataan penolakan dari calon mertua–secara verbal maupun non-verbal.

Berbeda dari gerbong pertama yang sangat mandiri: mencoba berdiri di kaki sendiri, gerbong kedua lebih mengedepankan prinsip waktu bukan hanya karena dorongan agama untuk menghindari perbuatan zina, tetapi juga dorongan teman sebaya lainnya yang sudah lebih dahulu menikah–dengan prinsip yang sama juga gerbong ini. Menurut hemat saya, dorongan teman sebaya berkontribusi cukup signifikan dalam pengambilan keputusan untuk segera menikah bagi gerbong kedua, tetapi tidak bisa diterapkan pada kepada gerbong pertama. Sebab perbedaan dasar inilah kedua gerbong sering tidak sejalan. Dari sisi laki-laki, bisa digolongkan dalam istilah Jawa Timur dengan Bonek atau bondo nekat, prinsip perjuangan bersama biasanya sangat dikedepankan. “Mulai dari nol” menjadi tag line yang sering dikampanyekan gerbong kedua ini. Dengan tag line tersebut, gerbong ini ingin menjelaskan bahwa pernikahan–sebagai sesuatu yang sakral bagi kedua mempelai–tidak harus dilaksanakan ketika kemapanan sudah dicapai, karena mapan (finansial), menurut mereka, tidak menjamin seratus persen kebahagiaan rumah tangga. Selama istri mau dan mampu diajak hidup dengan penuh perjuangan, maka tidak menjadi persoalan berapa pun gaji suami yang terpenting dia sudah mampu menunaikan kewajibannya menafkahi istri dengan standar nafkah layak yang berbeda dari gerbong pertama.

Lebih lanjut, waktu dan pernikahan teman seumuran akan menyebabkan lahirnya pandangan gerbong kedua “siapa cepat dia dapat” untuk menuju ke pelaminan. Maksudnya, siapa yang berani maju menemui orang tua lebih dahulu, mengutarakan niat baiknya meminang putra(i)nya–berlaku bagi perempuan dan laki-laki meski agak mustahil menemukan perempuan yang berani lebih dahulu menemui orang tua dambaan hatinya (melalui wali)–dialah yang akan menjadi jodohnya. Dalam kasus ini tentu bukan persoalan pangkat, status, atau gaji seseorang yang jadi variable utama menghalalkan pujaan hati, tapi waktu. Mungkin banyak kasus, seorang laki-laki yang relatif mapan harus menerima “kekalahan” untuk meminang pujaan hatinya karena kalah cepat dengan laki-laki yang berani lebih dulu bertemu orang tua si perempuan. Kejadian yang demikian itu, menurut saya, bisa terjadi karena ada perbedaan gerbong antara laki-laki “yang kalah” dengan perempuan, dimana laki-laki berada pada gerbong pertama dan si perempuan berada di gerbong kedua, sehingga perempuan gerbong kedua tidak bisa menunggu sedikit lama dan memilih laki-laki yang berada pada gerbong yang sama dengannya. Cepat menjadi kata kunci di sini, yang akan dibantah oleh gerbong pertama dengan bertanya: “Apa menikah se-simple itu?”.


Penjelasan ini tidak berarti menghakimi bahwa gerbong pertama dan gerbong kedua tidak bisa bersatu, karena gerbong hanya masalah perbedaan pemahaman bukan keyakinan (agama). Dan karena jodoh bisa ditemukan dengan jalan yang mudah untuk sebagaian orang dan dengan cara yang rumit nan berliku bagi sebagian yang lain.

 


*Ditulis dalam kereta Solo-Jogja

NB: Gambar diambil dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s