Gender sebagai Diskursus dan Alat Analisis Sosial[1]

Arif Widodo[2]

 

Pengantar

Saya memulai tulisan ini dengan mengingat pelajaran masa lampau. Penggalan kalimat yang selalu diinggat siswa SD generasi 90-an awal adalah: “Ini Ibu Budi”; “Ini Ayah Budi”; Ibu Pergi ke Pasar”; Ayah pergi ke kantor” dst. Penggalan kalimat-kalimat itu adalah sebagian kecil dari teks-teks masa lampau yang setidaknya kita pernah membacanya di bangku sekolah dasar dan harus diakui bahwa teks itu begitu melekat di alam pikir kita—bahkan siswa SD secara umum. Bukan tanpa alasan itu bisa terjadi dan melekat di alam pikit siswa SD, yang sekarang tentu saja sudah tumbuh dewasa, karena apa yang tertera pada teks itu muncul dalam konteks masyarakat yang benar-benar menerapkan pembagian peran antara ayah dan ibu, bahwa ayah selalu “harus” pergi ke kantor dan begitu juga ibu digambarkan “harus” pergi ke pasar, mengurus urusan rumah, mulai dari dapur (memasak) hingga masalah sumur (memandikan anak, mencuci baju dan piring), Continue reading “Gender sebagai Diskursus dan Alat Analisis Sosial[1]”

Advertisements

Rekonstruksi Pemikiran Politik Muhammadiyah Abad Kedua: Perspektif IMM[1]

Arif Widodo[2]

Menolak upaya-upaya untuk mendirikan

Parpol yang memakai atau menggunakan nama

atau simbol-simbol Persyarikatan Muhammadiyah[3]

Pendahuluan

Memasuki usia yang tidak muda lagi, Muhammadiyah telah mengalami banyak perubahan tidak hanya dalam masalah kuantitas tapi juga dalam masalah kualitas, dalam beberapa hal. Paruh abad pertama Muhammadiyah dengan sangat gemilang telah menjadi salah satu organisasi social-kemasyarakatan yang banyak “membantu” peran Negara dalam mencerdaskan dan meningkatkan harkat-martabat, kesejahteraan dan kesehatan masyarakat Indonesia. Melalui sekolah, kelompok bermain hingga Perguruan Tinggi (baik Sekolah Tinggi maupun Universitas) yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara, Muhammadiyah turut membayar hutang-hutang kemerdekaan Republik ini. Tidak hanya itu, rumah sakit dan balai-balai pengobatan Muhammadiyah juga menjamur di segala tempat begitu halnya dengan panti-panti asuhan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Akhirnya, banyak orang sekarang menyebut ketiga peran penting itu dengan istilah schooling, healing dan feeding. Itulah yang penulis sebut peran Muhammadiyah sebagai gerakan civil society; yang memposisikan dirinya di luar Negara dan Pasar. Continue reading “Rekonstruksi Pemikiran Politik Muhammadiyah Abad Kedua: Perspektif IMM[1]”